Blog Drh. YUDI Selamat Datang di Blog Drh YudiBlog Drh. YUDI Blog Ini Menyajikan Informasi Tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan. Selamat Membaca dan Terima Kasih Blog Drh. YUDI

Jumlah Burung Terancam Punah di Indonesia Tertinggi

Jumlah jenis burung yang terancam punah di Indonesia paling banyak di dunia akibat eksploitasi berlebihan, kata Direktur Pelaksana Burung Indonesia atau Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia, Agus Budi Utomo.

"Indonesia berada di puncak klasemen dari sepuluh negara di dunia dengan jumlah jenis burung terancam punah global tertinggi yang diakibatkan oleh over eksploitasi," kata Agus dalam siaran pers yang diterima ANTARA di Bogor, Senin.

Ia mengemukakan bahwa pada 2009 terdapat 117 jenis burung terancam punah di Indonesia, 17 jenis di antaranya memiliki status keterancaman tertinggi yaitu kritis.

Tahun 2010 angka ini meningkat menjadi 122 jenis terancam punah, dengan 19 jenis dalam kondisi kritis.

Burung, selain merupakan indikator bagi kualitas lingkungan, juga merupakan tulang punggung dalam menjamin berjalannya proses regenerasi hutan tropis secara alami di Indonesia.

Di sisi lain, kawasan prioritas untuk keanekaragaman hayati di Indonesia sebagian besar berupa hutan dan 56 persen kawasan prioritas itu berada di luar jaringan kawasan perlindungan.

Agus mengatakan, melihat intensitas ancaman bagi burung-burung di Indonesia, upaya perlindungan dapat diprioritaskan pada Daerah Penting bagi Burung (DPB). Namun tantangannya, tidak semua DPB masuk dalam jaringan kawasan konservasi dan sebagian masuk di kawasan hutan alam produksi.

Dalam konferensi tentang Konvensi Keanekaragaman Hayati di Nagoya, Jepang, terungkap bahwa berdasar studi menyeluruh terhadap vertebrata tengah terjadi krisis kepunahan hewan bertulang belakang tersebut.

Agus mengatakan diperlukan usaha bersama untuk melindungi keanekaragaman hayati Indonesia yang mulai mengalami krisis kepunahan.

"Seperlima jenis hewan bertulang belakang diketahui terancam punah saat ini, kondisi ini bisa saja lebih buruk kalau saja tidak ada upaya konservasi global selama ini," katanya.

Dijelaskannya, studi yang akan dipublikasikan pada jurnal internasional Science ini menggunakan data dari 25.000 jenis yang terdapat pada Daftar Merah Jenis terancam Punah IUCN (The IUCN Red List of Threatened Species), untuk menelaah status semua jenis hewan bertulang belakang di dunia (mamalia, burung, amfibi, reptile dan ikan), serta perubahan statusnya selama ini.

"Hasilnya menunjukkan, rata-rata setiap tahunnya 50 jenis mamalia, burung, dan amfibi bergerak mendekati kepunahan. Penyebab ancaman kepunahan jenis-jenis ini antara lain adalah pembukaan lahan pertanian, pembalakan, eksploitasi berlebihan, serta invasi jenis asing," ungkapnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, sebagian dari Amerika Tengah, wilayah tropis di Pegunungan Andes di Amerika Selatan, dan bahkan Australia telah mengalami kepunahan jenis akibat jamur yang mematikan pada hewan-hewan amfibi.

Asia Tenggara, khususnya Indonesia telah mengalami kepunahan jenis yang paling dramatis belakangan ini, yang sebagian besar disebabkan oleh kerusakan atau berkurangnya habitat hutan alam.

"Oleh karena itu, restorasi dan pengelolaan hutan alam produksi yang menjaga fungsi ekosistem dan produksinya secara berkelanjutan perlu dilakukan,” papar Agus.
Upaya ini juga vital karena hutan selain merupakan rumah utama bagi keragaman hayati dunia, juga membawa manfaat bagi jutaan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan, tambahnya.

Selain mengonfirmasikan laporan sebelumnya mengenai kepunahan keanekaragaman hayati yang terus berlangsung, studi ini juga pertama kalinya memberikan bukti nyata mengenai dampak positif dari upaya konservasi yang dilakukan di seluruh dunia.

Hasil studi menunjukkan bahwa status keanekaragaman hayati bisa turun lebih jauh hingga 20 persen, kalau tidak ada upaya konservasi yang dilakukan selama ini.

"Namun upaya lebih besar diperlukan melalui LSM, pemerintah, perusahaan, maupun individu yang berkomitmen untuk bekerja sama menghentikan kepunahan dan mulai mengarahkan aksinya pada akar penyebab kepunahan keanekaragaman hayati,” ujarnya.

Studi ini mengetengahkan 64 jenis mamalia, burung dan amfibi yang mengalami perbaikan status berkat aksi konservasi. Walaupun demikian studi ini hanya menyampaikan perkiraan minimum dari dampak sesungguhnya yang diberikan oleh aksi konservasi.

Terdapat harapan baik, tercatat 9 persen dari jenis-jenis terancam punah yang mengalami peningkatan populasi. Hal ini menunjukkan bahwa dengan sumber daya dan komitmennya upaya konservasi telah menunjukkan hasil. (LR/B010)

Sumber: antaranews.com




Artikel Terkait:

Bookmark and Share

1 Komentar:

nina aysiana runny said...

PERIKANAN DAN KELAUTAN
PENYULUH PERIKANAN
KOMUNITAS PERIKANAN
SANG PEMIMPIN
PETERNAKAN
PERJALANAN HIDUP
AUTO_PENYO

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di blog ini dan jangan lupa tuliskan komentar anda. JANGAN SPAM...Oke!

  © Blog drhyudi by Ourblogtemplates.com

BACK TO TOP