Blog Drh. YUDI Selamat Datang di Blog Drh YudiBlog Drh. YUDI Blog Ini Menyajikan Informasi Tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan. Selamat Membaca dan Terima Kasih Blog Drh. YUDI

Bakti Sosial PDHI NTB di Tiga Gili ”Desa Dunia”

Tiga gugusan pulau kecil atau Gili; Trawangan, Meno, dan Air telah berkembang menjadi tujuan wisata penting di Pulau Lombok setelah Senggigi di Lombok Barat dan Kuta di Lombok Tengah. Tiga gili atau dikenal sebagai “desa dunia” ini berada di tengah Laut Lombok dan terpisah dari Pulau Lombok. Pulau ini masuk dalam wilayah Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

Keindahan tiga gili ini tidak diragukan lagi, meskipun tidak seramai Bali, namun suasana berbeda yang ditawarkan di ketiga gili ini membuat pesonanya semakin menawan. Itu terbukti dengan tingginya tingkat kunjungan wisatawan dari berbagai negara, seperti Jerman, Prancis, Spanyol, Jepang dan negara lainnya.

Gili Trawangan berada paling barat dari deretan gili tersebut. Di Trawangan ditemukan fasilitas penginapan, hiburan yang paling lengkap dibandingkan dari 2 gili lainnya, maka tidak mengherankan sepanjang jalan dijumpai kafe, hotel, restaurant dan keramaian orang berseliweran termasuk turis dari berbagai negara.

Puncak kunjungan turis asing biasanya jatuh mulai Juni hingga September. Saat itu, pulau kecil yang menjadi tujuan utama para turis itu berubah menjadi desa global. Di jalan, kafe, hotel, dan pantai, orang berkulit putih dari beberapa negara mendominasi.

Dari tiga gili itu, wisatawan dapat menikmati matahari terbit dari balik Gunung Rinjani, lalu matahari terbenam, dan Gunung Agung di Bali, serta berbagai atraksi bahari yang disukai, seperti diving dan snorkling. Ada taman laut Meno Wall, dinding tebing curam di antara Meno dan Trawangan, yang bisa disaksikan pada kedalaman 15 meter.

Gili Meno juga dilengkapi danau "alam" berair asin, serta area tempat persinggahan burung-burung yang bermigrasi, aneka jenis dan warna ikan hias, seperti tiger fish, blue moon, danikan kepe-kepe yang masuk keluar terumbu karang. Kecuali ribbon coral dan finger coral, hampir di semua tempat di perairan tiga gili itu terdapat terumbu karang berwarna biru yang membuat suasana bagaikan karang biru di Laut Karibia.

Ya tiga gili telah menawarkan berbagai keindahan dan menyajikan berbagai hiburan seolah tak pernah tidur, namun ada hal unik yang tetap dilestarikan sebagai daya tarik berwisata di tempat itu.

Tempat yang terisolasi dari keramaian kota itu tetap dijaga dari polusi terutama yang diakibatkan oleh kendaraan bermotor. Di Gili Trawangan tidak diizinkan menggunakan kendaraan bermotor (bermesin). Yang ada hanya cidomo (kendaraan khas), kuda, sepeda gayung.

Cidomo (kendaraan khas) dengan penarik kuda merupakan sarana transportasi yang utama di gili gili Trawangan. Para wisatawan dapat memanfaatkan jasa para kusir Cidomo untuk mengantarkan berkeliling di gili itu, sebagai pengangkut barang dan sebagainya.

Karena transportasi utama di gili itu adalah cidomo yang ditarik oleh kuda, maka tidak heran populasi kuda diketiga gili ini juga termasuk lumayan, dan bahkan di gili Trawangan banyak dijumpai satu orang bisa memiliki kuda sampai puluhan ekor.

Namun, dengan kondisi geografisnya yang terpisah dari Pulau Lombok dan transportasi tidak setiap saat serta masih terbatasnya fasilitas kesehatan hewan (puskeswan) di wilayah itu, perhatian terhadap kesehatan hewan terutama bagi kuda tarik dirasakan masih sangat kurang.

Menyadari kondisi dan kenyataan yang demikian, Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Nusa Tenggara Barat mengadakan Bakti Veteriner 2010 di tiga gili tersebut pada tanggal 11 Juli 2010. Dengan tema “Melalui Kesejahteraan Hewan Menuju Kesejahteraan Bangsa”, dirangkaikan dengan agenda yaitu sosialisasi kesejahteraan hewan/animal welfare, pemeriksaan kesehatan dan pengobatan ternak.

Kegiatan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan ternak di gili ini serempak dilakukan dengan pembagian kelompok ke tiga gili yang berkekuatan masing-masing 50 orang dan dilengkapi dengan berbagai kebutuhan obat, vitamin, dan antibiotika sesuai dengan kondisi per individu ternak.

Kegiatan ini disambut antusias oleh pemilik kuda tarik, melalui pemberitahuan lewat kepala dusun dan melalui mulut ke mulut oleh para pemilik dan kusir cidomo, mereka berdatangan ke tempat-tempat yang telah ditentukan oleh panitia. Selain pemeriksaan dan pengobatan pada kuda tarik, berbagai jenis ternak yang ada seperti sapi dan kambing milik warga juga dilayani.

Setelah aksi lapangan yang meliputi pemeriksaan terhadap kuda-kuda yang ada di tiga gili tersebut, didapatkan kondisi yang mengindikasikan kurangnya perawatan terhadap kesehatan kuda dan ternak lain yang dijumpai seperti sapi maupun kambing. Pada kuda misalnya banyak dijumpai kondisi yang kurang sehat dengan berbagai gejala penyakit seperti dermatitis dan gangguan lainnya.

Masalah keterbatasan perawatan kesehatan terhadap ternak memang menjadi kendala yang dirasakan oleh pemilik kuda atau para warga yang berprofesi sebagai kusir cidomo.

Hal itu seperti diungkapkan H. Ahmad, salah satu pemilik 6 ekor kuda di gili Trawangan, yang mengungkapkan tidak pernah merawat kesehatan kudanya seperti di tempat lain yang biasanya bisa mendatangi tempat pelayanan kesehatan hewan di Puskeswan atau memanggil petugas dokter hewan, “di sini kita merawat apa adanya bahkan kalau kuda sakit kita tidak bisa berbuat apa-apa, “akunya.

Selanjutnya H. Ahmad berharap kedepan pemerintah melalui petugas kesehatan hewan yang ada di tingkat kecamatan, baik dokter hewan maupun mantri hewan (paramedis) dapat memberikan pelayanan kesehatan hewan pada ternak-ternak yang ada di gili.

Oleh-oleh dari gili Trawangan,,,,,,,,,,,,110710.



Artikel Terkait:

Bookmark and Share

0 Komentar:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di blog ini dan jangan lupa tuliskan komentar anda. JANGAN SPAM...Oke!

  © Blog drhyudi by Ourblogtemplates.com

BACK TO TOP