Blog Drh. YUDI Selamat Datang di Blog Drh YudiBlog Drh. YUDI Blog Ini Menyajikan Informasi Tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan. Selamat Membaca dan Terima Kasih Blog Drh. YUDI

Anthrax Teror dan Anthrax Rekayasa Genetik

Pemakaian senjata biologis “Anthrax” oleh Irak pernah diklaim oleh Amerika Serikat dan sekutunya, dan karena alasan kepemilikan senjata biologis tersebut menjadi alasan kuat Amerika Serikat untuk menginvesi Irak hingga negara tersebut benar-benar hancur dan pemerintahan Saddam Husein runtuh. Benarkah alasan tersebut?, meskipun sampai runtuhnya Irak, bukti kepemilikan senjata biologis termasuk anthrax tersebut tidak pernah terbukti.

Kalau alasan penyerbuan tersebut untuk mencari senjata biologis (salah satunya anthrax), lalu kenapa Amerika Serikat sangat berkepentingan untuk menjaga adanya penyebaran spora anthrax itu?. Dalam perang modern saat ini, ternyata salah satu senjata yang sangat ditakuti adalah senjata biologis berupa penciptaan berbagai jenis bakteri maupun virus terutama yang memang memiliki sifat dapat menular antar manusia atau yang bersifat zoonosis.

Anthrax misalnya, dapat disebarkan melalui pengiriman bentuk tabur melalui amplop dan apabila amplop berisi spora tersebut terhirup maka penyakit anthrax yang sangat mematikan itu akan dapat tertular dari orang ke orang.

Sejatinya penyakit ini dikenal dengan berbagai nama; Radang limpa, Radang Kura, Milvuur, Milzbrand, Splenc Fever, Charbon, Wool Sorters Disease, Cenang Hideung, Pedsar (Kempes Modar).

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis, dimana dapat menyerang semua hewan berdarah panas termasuk unggas dan manusia. Penyakit ini sangat berbahaya, dan dalam sistem kesehatan hewan nasional, anthrax dimasukkan ke dalam kelompok penyakit hewan menular (PHM) strategis.

Badan kesehatan hewan dunia/ Office international des epizooties (OIE) menggolongkan anthrax ke dalam penyakit hewan list B karena merupakan penyakit menular penting. Anthrax ini dilaporkan lebih dari 100 negara, dan 62,3 persen negara anggota OIE pernah melaporkan kasus anthrax. Sedangkan daerah kutub dilaporkan tetap bebas.

Penyakit ini telah dikenal sebagai penyakit mematikan baik pada ternak maupun manusia, apabila sporanya tertular (menginfeksi). Namun pada perkembangannya “spora” anthrax yang dapat mematikan tersebut dapat dikembangkan sebagai senjata biologis yang sangat mematikan. Karena sifat spora anthrax yang dapat tahan hidup sampai 40 tahun lebih dapat menjadi sumber penularan penyakit tersebut baik kepada manusia.

Dengan potensi seperti demikian itu maka saat ini berkembang dua istilah yaitu anthraks klasik atau konvensional dan yang sangat berbahaya terutama dalam kasus terror adalah “anthraks terror” (AT) ataupun “anthraks hasil rekayasa genetik” (ARG).

Bentuk klasik atau konvensional dari anthrax merupakan penyakit yang mempunyai masa inkubasi 1-3 hari bahkan dapat mencapai 14 hari, menyerang semua hewan berdarah panas dan penyakit berlangsung per akut, akut maupun kronis.

Bakteri membentuk spora di bagian sentral sel bila cukup oksigen, sedangkan dalam jaringan tubuh selalu berselubung dan tidak berspora. Apabila kuman anthraks jatuh ke tanah/mengalami kekringan atau di lingkungan yang kurang baik lainnya maka akan berubah menjadi bentuk spora yang tahan hidup lama (dapat lebih dari 40 tahun), sehingga menjadi sumber penularan penyakit kepada manusia maupun hewan ternak.

Spora anthrax yang dikembangkan melalui rekayasa genetik dan diyakini berkaitan dengan program pengembangan senjata biologis untuk maksud pertahanan negara tertentu. Rekayasa di laboratorium difokuskan kepada mengubah ukuran spora dari ukuran alami sebesar 1-5 mikron, kemudian diperkecil menjadi lebih kecil dari 1 mikron (bentuk tabur dengan organ sasaran melalui paru-paru), mengubah rantai DNA terkait dengan virulensi agen serta resistensinya terhadap antibiotik.

Kemampuan menginfeksi bakteri anthrax hasil rekayasa genetik pada rantai DNA menjadikan spora ARG jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan anthrax klasik, hal ini dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Analisis WHO tahun 1970 menyimpulkan bahwa pelepasan ARG ke udara di atas populasi manusia 5 juta orang akan menyebabkan korban 250 ribu orang (5 %) diantaranya meninggal dunia sebanyak 100 ribu orang (40 %).

2. Analisis kongres Amerika Serikat memperkirakan 130 ribu sampai 3 juta jiwa (33 %) korban akan meninggal setelah pelepasan 100 ribu gram bakteri anthrax ke udara di atas kota Washington (populasi 10 juta orang).

Kejadian di Indonesia
Dengan klasifikasi awal dirahasiakan pernah diperiksa terhadap dugaan anthrax dalam amplop oleh Balai Pengujian Penyakit Hewan (BPPH) Regional VI Denpasar beserta Balai Penelitian Veteriner Bogor pada bulan Nopember 2001. Namun setelah melalui pemeriksaan laboratorium ternyata isi amplop tersebut negatif anthrax.



Artikel Terkait:

Bookmark and Share

0 Komentar:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di blog ini dan jangan lupa tuliskan komentar anda. JANGAN SPAM...Oke!

  © Blog drhyudi by Ourblogtemplates.com

BACK TO TOP