Blog Drh. YUDI Selamat Datang di Blog Drh YudiBlog Drh. YUDI Blog Ini Menyajikan Informasi Tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan. Selamat Membaca dan Terima Kasih Blog Drh. YUDI

Perdagangan Sapi Potong Lesu

Perdagangan sapi potong tingkat peternak dan industri di Jawa Barat selama dua bulan terakhir lesu. Penjualan bahkan sempat turun hingga 30 persen. Kondisi itu diduga akibat peredaran daging impor yang tidak terkontrol dan semakin mendominasi konsumsi masyarakat.

Imam Gojali (43), peternak sapi di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (6/5), mengatakan, sejak pertengahan Maret baru menjual dua sapi. Biasanya dalam sebulan ia mampu memasok lima sapi ke rumah pemotongan hewan di Bandung. "Rumah pemotongan hewan sepi. Ternak sapi pun tidak terbeli. Ini membuat ongkos pemeliharaan sapi terus membengkak," ujarnya.

Adapun kebutuhan pakan yang meliputi konsentrat dan rumput untuk satu sapi rata-rata Rp 33.000 per hari. Padahal, saat ini dia memiliki 10 sapi dewasa siap jual dan 20 sapi muda. Untuk siap dijual, sapi muda biasanya butuh dipelihara delapan bulan.


Anwar Saleh (54), peternak sapi potong di Kecamatan Lembang, mengaku lesunya perdagangan sapi juga memicu penurunan harga jual daging. Jika biasanya seekor sapi hidup dihargai Rp 23.000 per kilogram, sudah dua bulan terakhir harganya turun menjadi Rp 20.000 per kg. Berat rata-rata sapi potong adalah 300-350 kg.

"Jika dihitung per ekornya, penurunan harga bisa mencapai Rp 1,5 juta-Rp 2 juta. Biasanya harga sapi jantan usia dua tahun sekitar Rp 10 juta, sekarang hanya Rp 7 juta. Sementara sapi betina sekarang hanya Rp 6 juta per ekor, sebelumnya mencapai Rp 9 juta," ujar Anwar yang memiliki 30 sapi potong dewasa jantan dan betina.

Perketat impor daging
Kondisi serupa dialami industri penggemukan sapi potong (feedlot). Yudi Guntara Noor, Komisaris Utama PT Citra Agro Buana Semesta (CABS), salah satu industri penggemukan sapi di Jabar, mengatakan, permintaan sapi potong hasil penggemukan dari rumah pemotongan turun 30 persen.

Rata-rata suplai PT CABS ke rumah pemotongan sekitar 3.000 ekor per bulan, tetapi sejak Maret turun menjadi 1.000-2.000 ekor per bulan. Untuk itu, Yudi menampik anggapan kelesuan perdagangan sapi potong di tingkat peternak disebabkan impor sapi hidup. "Penjualan kami juga menurun. Jadi, tidak benar kalau industri feedlot yang memicu kondisi ini," ungkapnya.
Ia menjelaskan, sejak awal 2010 pemerintah memperketat kebijakan impor sapi potong hidup. Bahkan, menurut dia, sudah dua bulan terakhir perusahaannya tidak mendapatkan izin mengimpor sapi dari Australia.

Baru pada Mei ini PT CABS memperoleh izin mengimpor sapi meskipun tidak sebanyak biasanya. Pada 2009 rata-rata impor bakalan sapi PT CABS mencapai 3.000 per bulan. Mei 2010 pemerintah hanya mengeluarkan izin impor untuk 1.000 ekor.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternak Sapi Kerbau Indonesia Rochadi Tawaf menilai kelesuan perdagangan sapi potong diakibatkan impor daging sapi yang kian tidak terkendali. Harga daging impor relatif lebih murah daripada daging sapi milik peternak ataupun hasil penggemukan.

Sebagai perbandingan, harga daging paha belakang sapi lokal sekitar Rp 50.000 per kg, jauh di atas harga impor yang hanya Rp 40.000 per kg. Untuk itu, Tawaf meminta Kementerian Pertanian menata kembali kebijakan importasi sapi dan mendata secara rinci. Data impor daging potong 2009 secara nasional yang mencapai 110.000 ton diduga tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya karena kemungkinan lebih dari angka tersebut. (GRE)

Sumber: Kompas.com

Artikel Terkait:

Bookmark and Share

0 Komentar:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di blog ini dan jangan lupa tuliskan komentar anda. JANGAN SPAM...Oke!

  © Blog drhyudi by Ourblogtemplates.com

BACK TO TOP