Blog Drh. YUDI Selamat Datang di Blog Drh YudiBlog Drh. YUDI Blog Ini Menyajikan Informasi Tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan. Selamat Membaca dan Terima Kasih Blog Drh. YUDI

Harga Sapi Tertekan

Maraknya sapi impor menyebabkan peternak sapi di Jawa Tengah merugi karena harga jual sapi turun hingga 30 persen dari sebelumnya Rp 12 juta menjadi Rp 8 juta per ekor. Para peternak berharap pemerintah segera mengeluarkan kebijakan yang mengatur impor sapi.
Demikian disampaikan Koordinator Jaringan Tani dan Nelayan Amanat Jawa Tengah Khafid Sirotudin di Semarang, Senin (24/5). Kerugian itu terjadi terutama di Boyolali, Kendal, Karanganyar, dan Purworejo.

Menurut Khafid, harga jual sapi sejak satu bulan terakhir turun hingga Rp 8 juta dari semula Rp 12 juta. Penurunan harga karena ada kenaikan jumlah sapi impor tahun ini, yaitu dari 500.000 ekor per tahun menjadi 600.000 ekor per tahun.

Dalam kondisi ini, kata Khafid, peternak dalam posisi sulit karena akan tetap merugi jika menjual ataupun mempertahankan sapi ternaknya. Jika sapi tidak dijual, peternak akan terbebani biaya pakan yang cukup mahal.

Menurut Khafid, satu ekor sapi membutuhkan biaya pakan hingga Rp 30.000 per hari. Pakan tersebut sudah mengandung konsentrat pabrikan yang diperlukan untuk menggemukkan sapi. ”Dalam satu bulan, petani mengeluarkan sampai Rp 900.000. Tanpa konsentrat, sapi akan kurus dan tidak laku,” kata Khafid.

Populasi
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Jateng Witono mengatakan, impor sapi menyebabkan harga jual sapi turun di hampir semua daerah, termasuk Jateng. Padahal, populasi sapi ternak di Jateng saat ini mencapai 1,5 juta ekor dan sudah cukup memenuhi kebutuhan daging di Jateng per tahun. ”Meski Jateng tidak butuh sapi impor, dampak penurunan harga ini sampai ke Jateng,” kata Witono.

Jateng merupakan provinsi yang memasok sapi ke luar daerah, yaitu DKI Jakarta dan Jawa Barat. Dalam satu tahun, Jateng memasok sekitar 125.000 ekor sapi ke dua daerah itu.

Sistem informasi
Witono mengatakan, ada indikasi kesengajaan pedagang yang menyebabkan harga jual sapi turun. ”Pedagang memanfaatkan adanya sapi impor untuk menekan harga sapi. Mereka hanya mau membeli sapi lokal jika harganya murah,” kata Witono.

Saat ini Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Jateng terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk menangani dampak impor sapi ini.

Kepala Badan Karantina Pertanian Hari Priyono mengatakan, untuk mencegah penyelundupan sapi impor dengan cara memalsukan surat persetujuan pemasukan, Badan Karantina Pertanian selaku institusi inspeksi mengajak Direktorat Jenderal Peternakan membangun sistem informasi perizinan yang in line. (den/mas)

Sumber: Kompas.com


Artikel Terkait:

Bookmark and Share

0 Komentar:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di blog ini dan jangan lupa tuliskan komentar anda. JANGAN SPAM...Oke!

  © Blog drhyudi by Ourblogtemplates.com

BACK TO TOP