Blog Drh. YUDI Selamat Datang di Blog Drh YudiBlog Drh. YUDI Blog Ini Menyajikan Informasi Tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan. Selamat Membaca dan Terima Kasih Blog Drh. YUDI

Swasembada Daging Sapi 2010 Gagal Dicapai

Pemerintah telah beberapa kali menetapkan program swasembada daging sapi secara nasional. Program pemerintah dalam mencapai swasembada daging sapi telah ditargetkan sejak tahun 2005. Selanjutnya program swasembada daging sapi tahun 2010 kembali dicanangkan presiden tanggal 11 Juni 2005 sebagai salah satu amanat revitalisasi pertanian, perikanan dan kehutanan (RPPK), namun belum berhasil, sehingga Departemen Pertanian kembali menargetkan kembali swasembada daging sapi secara bertahap pada tahun 2014. Melalui sejumlah program, penyediaan daging sapi dari dalam negeri diproyeksikan meningkat dari 67 persen pada tahun 2010 menjadi 90 persen pada 2014.

Mantan Menteri Pertanian, Anton Apriyantono, mengakui, program swasembada daging sapi gagal dicapai. Gagalnya program swasembada daging sapi karena laju pertambahan populasi kalah cepat dibandingkan dengan konsumsi (Kompas.com, 9 Nopember 2009).

Menurut Ilham (2006), kegagalan swasembada daging sapi ini akibat adanya senjang konsumsi dan produksi daging sapi. Selama periode 2005-2009, Indonesia masih mengimpor 40 persen total kebutuhan daging sapi yang pada tahun 2009 mencapai 322,1 ribu ton. Kemampuan suplai daging sapi dari dalam negeri saat ini baru mencapai dua pertiga dari total kebutuhan konsumsi sekitar 1,7 juta ekor per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sebesar sepertiga sisanya harus dipenuhi dari impor sapi bakalan sekitar setengah juta ekor dan impor daging sapi berkisar 70.000 ton per tahun (Media Indonesia, 15 Oktober 2009).

Populasi sapi potong ditargetkan meningkat dari 12 juta ekor pada tahun 2009 menjadi 14,6 juta ekor pada tahun 2014. Penyediaan daging sapi dari dalam negeri diproyeksikan meningkat dari 67 persen pada tahun 2010 menjadi 90 persen pada 2014. Populasi sapi potong ditargetkan meningkat dari 12 juta ekor pada tahun 2009 menjadi 14,6 juta ekor pada tahun 2014.

Populasi sapi potong di Indonesia saat ini tercatat 12.603.160 juta ekor dengan tingkat pertumbuhan selama empat tahun terakhir (2005-2009) sebesar 2,47 persen, relatif stagnan dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 4 persen (Direktorat Jenderal Peternakan, 2009).

Belajar dari program swasembada 2005 dan 2010
Menurut Yusdja et al. (2004), swasembada daging sapi yang dicanangkan tidak berhasil karena tidak tercapainya tiga sasaran utama dari program tersebut. Lebih lanjut dikatakan bahwa ada lima penyebab ketidakberhasilan tersebut, yaitu: 1) kebijakan program yang dirumuskan tidak disertai dengan rencana operasional yang rinci, 2) program-program yang dibuat bersifat top down dan berskala kecil dibandingkan dengan sasaran yang ingin dicapai, 3) strategi implementasi program disamaratakan dengan tidak memperhatikan wilayah unggulan, tetapi lebih berorientasi pada komoditas unggulan, 4) implementasi program-program tidak memungkinkan untuk dilaksanakan evaluasi dampak program, 5) program-program tidak secara jelas memberikan dampak pada pertumbuhan populasi secara nasional.

Kegagalan pelaksanaan program swasembada daging tahun 2005 dan 2010 menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi daging masyarakat tidak dapat diimbangi dengan produksi sapi di dalam negeri meskipun berbagai upaya pemerintah telah dilakukan.

Berdasarkan dari pengalaman program swasembada daging sapi 2005 dan 2010 hendaknya dilakukan kebijakan yang benar-benar langsung mampu menurunkan senjang konsumsi dan produksi daging sapi tersebut, karena suatu kebijakan akan efektif jika langsung diarahkan pada masalah yang dihadapi, dalam hal ini untuk menghasilkan daging. Dengan kondisi yang demikian maka potensi pengembangan usaha peternakan khususnya usaha pembibitan sapi bakalan dan penggemukan (fattening) sapi potong semakin terbuka lebar.

Permasalahan utama dari sulitnya pencapaian swasembada daging adalah pertumbuhan populasi yang tidak sebanding dengan permintaan, dalam hal ini konsumsi masyarakat. Karena itu pada kurun waktu 2010-2013 kebijakan peternakan sapi harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh melalui berbagai program yang mendukung peningkatan populasi sapi, seperti program pembibitan sapi potong yang terintegrasi dengan peningkatan lahan hijauan atau makanan ternak.

Dalam mendukung swasembada daging yang pernah ditargetkan pada tahun 2005 dan 2010, pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Peternakan menetapkan kebijakan atau strategi yang ditempuh, melalui: (1) pengembangan sentra perbibitan dan penggemukan; (2) revitalisasi kelembagaan dan sumberdaya manusia fungsional di lapangan; dan (3) dukungan sarana dan prasarana. Salah satu sasaran utama dari kegiatan di atas adalah peningkatan populasi.

Hadi dan Ilham (2002) menyatakan bahwa pembibitan sapi potong merupakan sumber utama sapi bakalan bagi usaha penggemukan sapi potong di Indonesia. Sumber utama sapi bakalan untuk usaha pembibitan sapi potong di dalam negeri dilaksanakan oleh peternak kecil, sedangkan produksi sapi bakalan sangat dipengaruhi oleh problem dan prospek usaha pembibitan itu sendiri.

Ternak sebagai sumberdaya pemanfaatannya bertujuan untuk menghasilkan sapi bakalan yang selanjutnya menghasilkan daging sebagai produk akhir untuk dikonsumsi. Untuk menurunkan senjang konsumsi dan produksi daging sapi maka dibutuhkan penambahan unit produksi biologis yaitu induk sapi (Ilham, 2006). Melalui penambahan induk sapi fokus kegiatan peternakan adalah sebagai pembibitan sapi potong.

Integrasi Peternakan
Salah satu faktor penghambat keberhasilan swasembada daging sapi adalah kekurangan pakan hijauan untuk ternak. Disisi lain, berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah tanaman pangan dapat dimanfaatkan sebagai hijauan pakan ternak. Limbah ini bisa digunakan untuk menggantikan sebagian pakan yang dibutuhkan, bahkan untuk seluruh pakan.

Limbah tanaman pangan dan perkebunan berupa jerami padi, jerami jagung, tanaman kacang-kacangan dan umbi-umbian dapat bermanfaat sebagai pakan ternak. Melalui proses fermentasi atau diberikan pakan penguat, elemen-elemen tertentu baik secara fisik maupun kimiawi kualitas pakan dapat ditingkatkan. Karena itu sistem peternakan yang dapat dikembangkan adalah sistem integrasi tanaman-ternak bebas limbah untuk dimanfaatkan oleh petanani-peternak dalam rangka memenuhi kebutuhan pakan ternak sekaligus memanfaatkan limbah tanaman pangan yang biasanya tidak dimanfaatkan secara maksimal (Anonimous, 2007).

Sebenarnya sistem seperti ini telah dipraktekkan oleh sebagian petani-peternak di Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta dan NTB. Berbagai studi mengungkapkan bahwa usahatani yang seperti ini memberikan keuntungan lebih besar jika kedua usahatani itu terpisah (padi dan ternak). Sistem integrasi tanaman dan ternak bisa meningkatkan pendapatan usahatani dan kesejahteraan rumah tangga tani secara berkelanjutan.

Sistem integrasi peternakan yang dapat dikembangkan adalah integrasi sapi-perkebunan, sapi-sawah, dan integrasi terpadu dengan konsep Low External Input Sustainable Agriculteure (LEISA). LEISA mengacu pada bentuk-bentuk pertanian sebagai berikut: (1) berusaha mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya local yang ada dengan mengkombinasikan berbagai macam komponen sistem usaha tani, yaitu tanaman, hewan, tanah, air, iklim, dan manusiasehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang paling besar; (2) berusaha mencari cara pemanfaatan input luar hanya bila diperlukan untuk melengkapi unsur-unsur yang kurang dalam ekosistem dan meningkatkan sumberdaya biologi, fisik dan manusia (Reijntjes et al., 1999).

Dalam kondisi LEIA, intergrasi ternak ke dalam sistem pertanian penting khususnya untuk meningkatkan jaminan subsistensi dengan memperbanyak jenis-jenis usaha untuk menghasilkan pangan untuk keluarga petani. Kemudian yang juga penting adalah memindahkan unsur hara dan energi antara hewan-tanaman melalui pupuk kandang serta pakan dari daerah pertanian melalui pemanfaatan hewan penarik.

Melalui integrasi ternak-tanaman dapat memberikan keuntungan pada petani-peternak. (Mastika dan Puger, 2009) menyatakan hasil penelitian pengintegrasian ternak-tanaman dengan pemeliharaan 2 ekor sapi Bali di dalam 0,5 ha luas lahan pertanian dapat meningkatkan pendapatan kotor sebanyak 53,62% dan sapi yang diberikan rumput dan daun-daunan sekitar (limbah) pertanian dengan tambahan 1 kg dedak padi memberikan pertambahan berat badan 549-550 g/ekor/hari. demikian juga integrasi ternak-tanaman perkebunan seperti di perkebunan kakao membuktikan bahwa peningkatan pakan walaupun berasal dari limbah ternyata mampu meningkatkan pertambahan berat badan 1,5-2 kali lipat dibanding dengan yang diberi rumput lapang yang hanya memberikan pertambahan berat badan antara 200-235 g/hari, dan yang diberi rumput gajah 320 g/hari.

Pengendalian Pemotongan Betina Produktif
Sekitar 28 persen sapi yang dipotong setiap hari merupakan betina produktif. Paling tidak ada empat faktor yang mendorong pemotongan betina produktif: (1) peternak butuh dana untuk kebutuhan hidupnya sehingga harus menjual asetnya dalam bentuk sapi betina; (2) harga betina lebih murah dibandingkan sapi jantan, sedangkan harga jual dagingnya sama; (3) adanya pemotongan di luar RPH pemerintah; dan (4) RPH yang hanya berorientasi profit sehingga tak berkepentingan melarang pemotongan betina produktif (Ilham, 2006).

Untuk menjaga kelangsungan sumberdaya ternak tersebut, pemotongan sapi betina produktif harus dicegah. Salah satu kebijakan yang dapat dilakukan adalah kebijakan tunda potong. Ini dilakukan dengan cara membeli sapi betina produktif dan dikembangkan kembali pada peternak yang layak sebagai peserta program. Kebijakan ini sudah banyak dilakukan di berbagai daerah.

Seperti salah satu kebijakan yang dilakukan oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi NTB adalah kebijakan penjaringan ternak betina produktif di pasar hewan dan RPH. Kebijakan ini sebagai bentuk program tunda potong. Ini dilakukan dengan cara membeli sapi betina produktif dan dikembangkkan kembali pada peternak. Peternak yang dapat mengikuti program sesuai persyaratan yang selama ini sudah ada dengan tetap memperhatikan dampak akhir yaitu meningkatkan pendapatan peternak, meningkatkan populasi dan produksi serta pengembalian yang lancar. Melalui program ini pemotongan betina produktif diharapkan menurun 10 % pada tahun 2013 dan 5 % pada tahun 2018 (Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB, 2009).

Bahan Bacaan:
Anonimous. 2007. Sistem Integrasi Tanaman dan Ternak Memberikan Nilai Lebih Bagi Petani. [http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/480/].

Direktorat jenderal Peternakan. 2009. Populasi Sapi Potong Tahun 2005-2009 (Per Propinsi). [http://www.ditjennak.go.id].

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Nusa Tenggara Barat. 2009. Blue Print NTB Bumi Sejuta Sapi. [http://www.disnak_ntb.org].

Hadi, P.U. dan N. Ilham. 2002. Problem dan prospek Pengembangan usaha Pembibitan Sapi Potong di Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian, 21 (4).

Ilham, N. 2006. Analisis Sosial Ekonomi dan Strategi Pencapaian Swasembada Daging 2010. Analisis Kebijakan Pertanian. Volume 4 No. 2, Juni 2006.

Kompas.com. 9 Nopember 2009. Swasembada Daging Sapi 2014. [http://www.kompas.com].

Mastika, I.M., dan A.W. Puger. 2009. Sapi Bali (Bos Sondaicus) Permasalahan dan Kenyataannya. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Pengembangan Sapi Bali Berkelanjutan dalam Sistem Peternakan Rakyat, Mataram 28 Oktober 2009.

Media Indonesia. com. 15 Oktober 2009. Swasembada Daging Nasional Diundur Jadi 2014. [http://www.mediaindonesia.com].

Reijntjes, C., B. Haverkort., dan A. Water-Bayer. 1999. Pertanian Masa Depan. Pengantar Untuk Pertanian Berkelanjutan Dengan Input Luar Rendah. Mitra Tani-ILEIA.



Artikel Terkait:

Bookmark and Share

0 Komentar:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di blog ini dan jangan lupa tuliskan komentar anda. JANGAN SPAM...Oke!

  © Blog drhyudi by Ourblogtemplates.com

BACK TO TOP