Blog Drh. YUDI Selamat Datang di Blog Drh YudiBlog Drh. YUDI Blog Ini Menyajikan Informasi Tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan. Selamat Membaca dan Terima Kasih Blog Drh. YUDI

Satwa Kunci Sumatera Berada di Luar Area Konservasi

Sebagian besar satwa kunci sumatera dalam ekosistem Bukit Tigapuluh, Jambi, berada di luar area konservasi. Hal itu mendorong tingginya konflik antara satwa dan manusia.

Pelaksana Tugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Jambi, Didy Wurjanto, mengatakan topografi area konservasi berupa Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) seluas 144.000 hektar, relatif curam. Sejumlah satwa kunci sumatera seperti gajah sumatera dan orangutan sumatera, tidak dapat bertahan hidup di sana, dan lebih cocok pada habitat yang cenderung landai. Begitu juga harimau sumatera mencari sumber makanan dekat aliran-aliran sungai di luar TNBT.

"Banyak satwa kunci yang justru hidup dan melintas di sekitar permukiman atau kebun masyarakat. Sumber-sumber makanan juga mudah diperoleh di sana," ujarnya.

Didy mencontohkan, puluhan gajah sumatera memiliki jalur perlintasan di Kecamatan Sekutur Jaya, Kabupaten Tebo, yang kini telah menjadi perkebunan dan permukiman transmigran. Pada saat kawanan gajah melintas, tanaman sawit warga kerap rusak. Akibatnya konflik di antara keduanya terjadi setiap tahun.

Dalam catatan Kompas, empat gajah pernah diracun dan dibakar pada Mei 2008, di Desa Tuo Sumay dan Desa Muara Sekalo, Kecamatan Sumay, Tebo. Saat ditemukan, gajah mati dengan kondisi tubuh terpotong-potong dan hangus terbakar
Counterpart BKSDA-FZS Krismanko Padang menambahkan, TNBT cenderung berbukit-bukit dan jenis tanamannya lebih homogen. Sedangkan pada kawasan penyangga, topografinya lebih landai, serta banyak sumber makanan karena terdapat sejumlah sungai.

Ia melanjutkan, kawasan di luar area konservasi sangat terbuka untuk diubah menjadi perkebunan maupun hutan tanaman industri. "Ini jelas akan mengancam kelestarian satwa kunci sumatera dan juga masyarakat suku terasing seperti SAD, Talang Mamak, dan Melayu Tua yang menyandarkan hidup pada hutan," ujarnya.

Menurut Public Relation Officer Frankfurt Zoological Society (FZS) Lusianus Andreas, saat ini hanya tersisa tiga kawasan eks-hak pemanfaatan hutan (HPH)yang berada di kawasan penyangga TNBT, yakni eks HPH Hatma Hutani, Dalek Hutani Esa, dan IFA dengan luas keseluruhan 231.052 hektar. Pada kawasan inilah sebagian populasi satwa kunci sumatera berada.

Di sisi lain, ancaman meningkat dengan banyaknya perusahaan perkebunan yang mengajukan izin pembukaan hutan tanaman industri di kawasan inti habitat gajah dan orangutan sumatera, seperti PT Lestari Asri Jaya di eks-IFA seluas 61.000 ha dan Rimba Hutani Mas di eks-Dalek seluas 52.000 ha. "Jika pemerintah tetap memberikan izin HTI, populasi gajah bisa punah. Pemerintah sebaiknya mengalokasikan pengelolaan hutan dengan pola restorasi," ujar dia.

Andreas menambahkan, FZS sedang menjajaki kemungkinan untuk mengelola kawasan di ketiga eks-HPH dengan pola restorasi kawasan. Dengan tidak mengubah fungsi hutan, maka kelestarian alam serta habitat satwa diyakini akan lebih terjaga.

Berdasarkan data FZS, terdapat 105 orangutan dan sekitar 60 gajah sumatera di kawasan penyangga TNBT. Selain itu ditemukan pula jejak harimau sumatera dan tapir dalam kawasan tersebut.

Sumber: Kompas.com

Artikel Terkait:

Bookmark and Share

0 Komentar:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di blog ini dan jangan lupa tuliskan komentar anda. JANGAN SPAM...Oke!

  © Blog drhyudi by Ourblogtemplates.com

BACK TO TOP