Blog Drh. YUDI Selamat Datang di Blog Drh YudiBlog Drh. YUDI Blog Ini Menyajikan Informasi Tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan. Selamat Membaca dan Terima Kasih Blog Drh. YUDI

Masa-masa Suram Usaha Penggemukan Sapi

Langkah pemerintah menargetkan swasembada daging sapi pada 2014 dengan meningkatkan populasi sapi seharusnya menjadi kabar gembira bagi peternak sapi di Tanah Air. Namun, bagi sebagian besar peternak yang fokus usahanya adalah penggemukan sapi potong, komitmen tersebut masih belum cukup.

Itu karena di tengah kondisi kekurangan, sapi impor siap potong semakin membanjiri pasar dalam negeri. Bahkan, tidak hanya itu, produk daging sapi beku pun sudah beredar dengan harga murah, Rp 39.000 per kilogram. Situasi seperti itu sangat tidak menguntungkan bagi peternak sapi.

"Usaha penggemukan sapi hancur. Serbuan sapi impor siap potong semakin menggila. Persaingan usaha sudah tidak sehat lagi," keluh Nandang Suryana, peternak asal Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, Senin (8/3).

Bagaimana tidak. Sapi impor siap potong seperti jenis brahman cross dijual di penjagal dengan timbang hidup paling mahal Rp 22.500 per kilogram. Adapun harga jual sapi peranakan impor yang dipelihara di Tanah Air Rp 25.000 per kilogram.

Harga seperti itu, bagi peternak, sangat merugikan, apalagi peternak telah mengeluarkan biaya pemeliharaan dan membeli sapi bakalan yang harganya juga mahal. Adapun sapi impor yang masuk ke Indonesia tinggal dipotong.

Kalaupun ketika memotong sapi impor penjagal rugi, sang importir yang menanggungnya sehingga seolah ada subsidi dari importir kepada penjagal. Akibatnya, penjagal tidak merugi. Berbeda dengan ketika menerima sapi dari peternak, jika rugi, ditanggung sendiri oleh penjagal. Menurut Nandang, importir sapi memiliki banyak cara untuk "mengikat" penjagal agar mau menerima sapi impor dan menolak sapi dari peternak.

"Dulu harga timbang hidup sapi dari peternak Rp 27.000 per kilogram. Sekarang sekalipun harganya Rp 24.000 per kilogram, tidak ada penjagal yang melirik," tutur Nandang.
Meskipun harga sapi impor murah, itu bukan berarti konsumen diuntungkan karena ternyata harga daging sapi di pasar tetap tinggi, sekitar Rp 60.000 per kilogram. Yang untung tetap penjagal.

Tak menguntungkan
Peternak sapi dari Desa Karsamenak, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, Subekti, menambahkan, situasi tidak menguntungkan itu memaksa peternak meninggalkan sapi peranakan seperti jenis limosin dan simental. Kini peternak cenderung memelihara sapi lokal seperti jenis peranakan ongole (PO).

Konsekuensinya, pangsa pasar sapi PO terbatas, hanya pada saat menjelang Idul Adha. Namun, hal itu terpaksa dilakukan sebab sekalipun dipaksakan memelihara jenis simental atau limosin, peternak akan sulit menjualnya. "Mencari untung Rp 50.000-Rp 100.000 dari menjual sapi saja sekarang sulit. Padahal, modalnya jutaan," ujarnya.

Nandang mengemukakan, jika ingin menolong peternak, pemerintah harus membatasi impor, atau setidaknya mengubah sistem perdagangan ternak, yaitu hanya memasukkan sapi bakalan (berbobot maksimal 3 kuintal) untuk digemukkan di Tanah Air, bukannya mengimpor langsung sapi siap potong. Apabila hanya memasukkan sapi bakalan, persaingan usaha peternakan sapi diperkirakan tidak akan separah ini. (Adhitya Ramadhan)

Sumber: Kompas.com


Artikel Terkait:

Bookmark and Share

0 Komentar:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di blog ini dan jangan lupa tuliskan komentar anda. JANGAN SPAM...Oke!

  © Blog drhyudi by Ourblogtemplates.com

BACK TO TOP