Blog Drh. YUDI Selamat Datang di Blog Drh YudiBlog Drh. YUDI Blog Ini Menyajikan Informasi Tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan. Selamat Membaca dan Terima Kasih Blog Drh. YUDI

Tahun Harimau Terus Ada….

Lao Hu. Harimau. Hewan berbadan besar dengan pola garis yang eksotik ini merupakan satu dari empat hewan mitologis di daratan China. Jika di India harimau adalah kendaraan Dewi Durga, di China, harimau (putih) adalah satu dari empat penjaga gerbang guna mencegah kehancuran kosmos.

Harimau (putih) menjaga di bagian barat dan mengendalikan musim gugur; di timur ada naga biru pengendali musim semi; sedang kura-kura menjaga di utara sambil mengendalikan musim dingin, sementara di arah selatan dijaga oleh burung yang juga mengendalikan musim panas bersama naga emas. Binatang-binatang itu diperintah oleh Dewi Nu Kwa.

Posisi harimau dalam pusaran mitos China demikian penting. Namun, di dunia nyata kondisinya berkebalikan 180 derajat. Di tengah kerakusan manusia yang semakin menunjukkan kekuasaannya pada alam, posisi harimau teramat rentan.

Diawali dengan meluasnya permukiman, disusul dengan gairah mengeksploitasi sumber daya, posisi harimau semakin termarjinalkan. Tiga subspesies harimau, yaitu harimau jawa (Panthera Tigris sondaica), Harimau bali (Panthera tigris balica), dan harimau kaspia (Panthera tigris virgata) sejak 1940 telah punah.

Jumlah harimau yang sepuluh dekade lalu masih sekitar 100.000 ekor, kini tinggal sekitar 3.000-4.500 ekor. Jika dihitung, laju kematiannya sekitar 960 ekor per tahun—tanpa ada kelahiran anak harimau. Berarti, laju kematian harimau adalah lebih tinggi dari angka di atas.

10 titik berbahaya
Menyambut momentum Imlek, organisasi nonpemerintah World Wide Fund for Nature (WWF) tahun ini meluncurkan program penyelamatan harimau.
Dengan program kampanye Tx2: Double or Nothing, WWF menargetkan jumlah harimau di alam liar menjadi dua kali lipat dari populasi saat ini pada tahun 2022, yaitu ”tahun harimau” berikutnya.

Ancaman nyata yang ada saat ini, menurut WWF, terdapat di 10 titik utama. Yang pertama adalah di Amerika Serikat. Disebutkan, jumlah harimau yang dipelihara lebih banyak daripada jumlah harimau di alam lepas di Asia. Peraturan di AS masih membuka peluang diperjualbelikannya bagian-bagian tubuh harimau di pasar gelap.

Titik kritis kedua berada di Eropa, di mana permintaan akan minyak sawit mentah sebagai bahan dasar produk kosmetik, biofuel, dan detergen telah mendorong rusaknya habitat harimau di Indonesia dan Malaysia. Di dua negara tersebut perubahan fungsi lahan dari hutan menjadi perkebunan kelapa sawit marak terjadi.
Titik ketiga di Nepal. Titik ini merupakan persimpangan perdagangan gelap kulit dan tulang harimau yang menjangkau hingga ke China.

Daerah keempat, yaitu India, di mana konflik antara harimau dan manusia semakin sering terjadi akibat menyusutnya luasan habitat harimau.
Di Banglades, habitat harimau terancam kenaikan paras muka laut akibat pemanasan global. Habitat harimau, hutan mangrove Sundarban, dari penelitian WWF, diperkirakan menyusut 96 persen akhir abad ini.

Di Rusia, penebangan pohon pinus untuk dikirim ke Korea telah menyusutkan habitat bagi harimau amur. Sementara di Malaysia dan Indonesia juga terjadi perubahan fungsi lahan yang merusak habitat dua subspesies harimau.

Di Vietnam dan di kawasan Asia lainnya semakin banyak ditemukan bukti perdagangan gelap bagian tubuh harimau. Oktober tahun lalu, ditemukan dua tubuh harimau dalam pendingin. Sementara rencana pembangunan dam di daerah aliran Sungai Mekong (China, Kamboja, Laos Myanmar, Thailand, Vietnam) akan memecah belah habitat harimau. Akibatnya? Habitat harimau semakin sempit.
Di China, permintaan akan bagian tubuh harimau tetap saja tinggi. Biasanya, itu digunakan sebagai bahan pengobatan.

Hutan yang gundul bisa direvegetasi, udara kotor dan air terpolusi bisa dibersihkan. Namun, punahnya suatu spesies adalah bersifat permanen! (Time, April 2009). Pada masa depan, manusia mungkin akan tetap bertahan hidup, tetapi dia hanya akan memusnahkan dirinya sendiri di Era Eremozoic atau Abad Kelengangan (The Age of Loneliness). Ketika masa itu tiba, harimau tinggal mitos belaka, seperti naga yang tak pernah kita kenal sosoknya. Begitu tragis....

Sumber: Brigitta Isworo Laksmi (Kompas.com)


Artikel Terkait:

Bookmark and Share

1 Komentar:

abie said...

PERTAMAXX!!

wah pemerhati lingkungan ya boz?^^

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di blog ini dan jangan lupa tuliskan komentar anda. JANGAN SPAM...Oke!

  © Blog drhyudi by Ourblogtemplates.com

BACK TO TOP