Blog Drh. YUDI Selamat Datang di Blog Drh YudiBlog Drh. YUDI Blog Ini Menyajikan Informasi Tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan. Selamat Membaca dan Terima Kasih Blog Drh. YUDI

Sistem Produksi dan Karakteristik Daging Unggas Organik

Telah dilaporkan adanya pengaruh sistem produksi unggas organik terhadap beberapa karakteristik kualitatif daging. Pengaruh tersebut pada dasarnya merujuk pada aktivitas fisik dan umur terbaik pada hewan yang umumnya telah diatur oleh ketentuan pertanian misalnya menggunakan galur genetik (galur pertumbuhan cepat dan pertumbuhan lambat) dan ketersediaan padang rumput.

Berdasarkan alasan ekonomi dan ketersediaan anak ayam, umumnya digunakan anak ayam dengan pertumbuhan cepat dan menengah. Beberapa hewan tidak dapat beradaptasi terhadap sistem organik ini karena terdapat gangguan pada kaki dan kepincangan yang sering kambuh. Namun jika dibandingkan dengan ayam-ayam konvensional, mereka memiliki persentase karkas dada dan paha yang lebih tinggi dan kandungan lemak abdominal yang lebih rendah.


Sistem ini juga mempengaruhi ciri khas fisika-kimia daging secara keseluruhan dimana otot mempunyai pH akhir dan kadar air yang lebih rendah. Daripada bertambahnya “kehilangan pada saat memasak”, kecerahan, nilai pemotongan, Fe dan asam lemak jenuh. Sayangnya aktivitas fisik yang lebih tinggi meningkatkan metabolisme oksidatif tubuh dan menentukan tingginya tingkat TBA-RS. Jika kemungkinan “galur pertumbuhan lambat” dihubungkan dengan kebiasaan khusus mereka (aktivitas kinetik yang lebih banyak, makanan hewan) dan metabolisme, menunjukkan adanya perbedaan ciri bawaan kualitatif yang lebih besar apalagi jika dibandingkan dengan “galur organik - pertumbuhan cepat ” dan galur konvensional. Khususnya, pada galur petumbuhan cepat, mereka mempunyai tingkat antioksidan yang lebih tinggi (715 vs 522 nmol HCIO mL-1), α-tocopherol serum (19.0 vs 17.2 mg L-1) dan kemampuan mencerna rumput yang lebih tinggi. Hasilnya, stabilitas oksidasi pada daging segar dan beku lebih tinggi daripada galur pertumbuhan cepat (2.0 vs 3.05 mg MDA kg-1). Kesimpulannya, sistem produksi peternakan unggas organic bisa menjadi metode alternatif yang menarik khususnya bila digunakan dan dikembangkan dengan tata cara beternak yang sesuai.

Berdasarkan Dewan Standar Organik Nasional (1995), tujuan utama dari pertanian organik adalah optimalisasi manajemen ekologis produksi yang memperkenalkan dan meningkatkan keanekaragaman hayati, lingkungan yang berkelanjutan dan keamanan pangan.

Bagaimanapun juga, untuk rekomendasi produksi hewan dan aturan-aturan wajib yang disediakan oleh REG 1809/99, digaris bawahi bahwa metode produksi ini diharapkan berpengaruh terhadap kesejahteraan hewan dan karakteristik produk.

Pada produksi unggas organik, faktor paling penting yang mempengaruhi karakteristik daging adalah umur pemotongan (minimal 81 hari) dan aktivitas fisik burung. Lebih jelasnya, untuk melengkapi sistem ini secara optimal dibutuhkan factor lain seperti galur genetik, ketersediaan padang rumput dan tata cara beternak yang mengatur secara luas beberapa akibat yang ditimbulkan dan banyak usaha penelitian.

Ketersediaan padang rumput meningkatkan aktivitas utama pada ayam tetapi beberapa kebiasaan berbeda berkembang dari hasil perbandingan antara Galur pertumbuhan lambat (S) dengan galur pertumbuhan cepat (F) (Catellini et al.,1997). Hewan dengan pertumbuhan cepat tidak adaptif untuk sistem organik tersebut, tetapi dengan alasan ekonomi dan ketersediaan anak ayam yang terbatas telah merubah hewan-hewan ini yang secara luas digunakan pada produksi unggas organik ( Jaringan untuk kesehatan dan kesejahteraan hewan pada pertanian organik, 2002).

Walaupun burung F mempunyai rata-rata pertumbuhan yang lebih cepat, sistem organik ini benar-benar bisa mengurangi 25 % kehilangan pertumbuhan potensial pada penampilan mereka pada saat menggunakan sistem konvensional. Terlihat jelas, burung F tidak menunjukkan penampilan yang baik di bawah kondisi lingkungan yang buruk, mengingat pada sistem intensif mereka disediakan semua yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan fisiologisnya (Reiter and Bessei, 1996). Sebaliknya, genotif S menunjukkan penampilan yang hampir sama pada pertanian organik (-8%, data tidak ditampilkan) menunjukkan tingkat adaptasi yang paling tinggi .

Seleksi untuk rata-rata produksi tinggi membatasi kebiasaan hewan (Schut and Jensen, 2001), mengurangi semua aktivitas yang membutuhkan energi tinggi dan mengarahkan burung untuk menyimpan kembali energi tersebut untuk kepentingan produksi. Burung-burung ini dipelihara di dalam kandang, membutuhkan sedikit padang rumput, dipelihara di dalam rumah atau dekat rumah daripada berkeliaran mencari makan di padang rumput (Weeks et al., 1994) kemungkinan hal ini disebabkan oleh kelebihan berat dan kaki yang lemah. Keadaan ini sesuai dengan masalah kesejahteraan yaitu pemisahan yang tinggi dan tingkat kematian burung F organik (Jones and Hocking, 1999).

Sebaliknya, galur S menunjukkan tingkah laku yang lebih aktif (Bokkers and Koene, 2003; Lewia et al., 1997). Dengan kegiatan berjalan yang lebih banyak, lebih sedikit berbaring dan lebih tertarik untuk mengamati, sama dengan mereka menghabiskan lebih banyak waktu di luar kandang daripada di dalam dan waktu yang lebih singkat untuk pemakaian obat – obatan.

Perbedaan tingkah laku dipertegas menggunakan analisis komparatif pada hasil panen. Hasil dari ayam S memiliki protein dan energy yang lebih rendah, kandungan α-tocopherol dan karotenoid yang lebih tinggi , hal ini menunjukkan adanya pencernaan rumput yang lebih tinggi (Castellini et al., 2003). Maka dari itu genotif ini menunjukkan kapasitas antioksidan in vivo yang lebih baik (715 vs 522 nmol HCIO mL⁻¹), kemungkinan berasal dari asupan antioksidan dan aktivitas motorik yang lebih tinggi. Faktanya, metabolisme oksidasi yang lebih tinggi meningkatkan produksi radikal bebas (Alessio et al., 2000), maka dari itu tubuh meningkatkan kapasitas antioksidannya (Powers and Leeuwenburgh, 1999). Sehingga asupan rumput oleh anak ayam organik harusnya benar-benar mempertimbangkan peningkatan ketahanan antioksidan terhadap sejumlah besar karotenoid (102,10 mg kg d.m.⁻¹), α-tocopherol (175.25 mg kg d.m.⁻¹) dan polyphenols yang diasumsikan dengan padang penggembalaan (Lopez-Bote et al., 1998).

Sistem organik menyebabkan unggas mempunyai persentase karkas daging paha dan dada yang lebih besar, dan kadar lemak perut yang lebih rendah (terutama pada tipe S) jika dibandingkan dengan sistem konvensional (Tabel 3). Lebih lanjut lagi, pH akhir (pHu) dada dan paha yang lebih rendah, mungkin karena adanya simpanan glikogen yang tinggi pada otot oleh hewan yang lebih aktif (Dal Bosco et al., 2001).

Pada saat umur pemotongan, rata-rata tingkat kedewasaan yang rendah pada unggas S, menghasilkan kandungan kelembaban yang tinggi, protein dan kapasitas penyimpanan air yang lebih rendah. Untuk mencapai umur dewasa komersial, galur S membutuhkan periode yang lebih lama yaitu membutuhkan lebih dari 75 hari untuk mencapai 50 % berat tubuh dewasa, sedangkan galur F hanya butuh 50 hari (Castellini et al., 2003).

Perbandingan antara S dengan F menunjukkan bahwa pHu lebih dominan pada anak ayam S, kemungkinan disebabkan adanya metabolisme oksidatif paling tinggi dan sejumlah mitokondria pada serat α-white dan oleh karena itu mengarahkan mereka pada serat α-red (Dransfield and Sosnicki, 1999), hal ini berakibat pada kekuatan otot.
Galur tidak mempengaruhi komposisi asam lemak dada dan paha (Tabel 4), sedangkan hal-hal yang berbeda sangat dibutuhkan untuk daging ayam konvensional. Data-data tersebut sesuai dengan yang dilaporkan oleh O’Keefe et al. (1995) dan ditegaskan bahwa endapan EPA rendah sekali jika dibandingkan dengan DHA pada ayam (Richardson and Mead, 1999).

Beberapa hipotesis telah dapat menjelaskan tentang keadaan oksidatif daging segar dan beku yang lebih baik, seperti yang ditemukan pada genotif S yang berkenaan dengan genotif F (Gambar 1): kadar lemak lebih rendah; perbedaan reaksi dari serat-serat otot pada aktivitas fisik dan asupan antioksidan yang lebih tinggi.
Sayangnya dibandingkan dengan ayam broiler komersial, daging unggas organik menunjukkan nilai TBA-RS yang lebih tinggi, yang mana hal ini dapat menurunkan self-life produk. Adanya stabilitas lemak yang lebih rendah pada daging unggas organik kemungkinan berasal dari kadar ion besi yang lebih tinggi (Fe), yang dapat mengkatalisis peroksidasi dan tingkat kejenuhan lemak yang lebih tinggi dalam jaringan otot (Castellini et al., 2002ab).

Strategi yang mungkin digunakan untuk memperbaiki keadaan oksidatif daging adalah dengan mengurangi aktivitas gerak pada hewan beberapa hari menjelang pemotongan. Unggas organik dengan pertumbuhan lambat digunakan untuk membatasi gerakan yang benar-benar mengurangi TBA-RS (-26%) dengan menggunakan kadar ROMS yang lebih rendah (-33%) tanpa mengurangi hal-hal penting pada kapasitas antioksidan (-11%; Castellini et al., 2004).

Lebih lanjut lagi, penurunan tingkat kadar keasaman otot ini (< pHu pada otot dada) kemungkinan disebabkan karena adanya sejumlah glikogen yang tinggi pada saat pemotongan sebagai akibat dari rendahnya pemakaian glikogen. Pada percobaan kami, analisis sensorial pada daging galur S dan F menunjukkan bahwa ayam S lebih disukai disemua hal dibandingkan dengan ayam F (Gambar 2) yang mana tidak dibedakan dari broiler konvensional (Castellini et al., 2003). Kemampuan alat untuk memisahkan daging yang berasal dari genotif yang berbeda, masih diperdebatkan (Richardson and Mead, 1999) dan banyak ahli melaporkan pendapat dan interaksi yang berbeda-beda (Farmer et al., 1997). Pada kesimpulannya, sekalipun karakteristik kualitatif produk bukan merupakan tujuan utama dari pertanian organik, penggunaan tata cara yang tepat (ketersediaan rumput, galur dengan pertumbuhan lambat) mempunyai efek penting pada daging unggas. Sayangnya aspek-aspek itu tidak wajib untuk pertanian organik dan perubahan regulasi 1804/99 seharusnya dapat menyediakan izin untuk mencapai perubahan selanjutnya pada aspek kualitatif dan kesejahteraan.

Kalau sektor prooduktif lainnya, pertanian organik membutuhkan pelayanan dan penelitian khusus dan hal ini sebaiknya tidak mengimpor protokol produktif yang disesuaikan untuk sistem intensif (jenis makanan, lingkungan dan galur genetik). Faktanya aturan pada keturunan pertumbuhan lambat seperti pada produk organik seharusnya kuat jika penelitian selanjutnya dapat menegaskan kemempuan mereka untuk ditampilkan denagn kualitas makanan yang rendah, dan untuk memproduksi daging dengan karakteristik kualitatif yang berbeda dengan baik (lemak rendah, PUPA dan Fe tinggi, dan tahan lama).

Hal ini jelas pada beberapa galur,yang membutuhkan periode penggemukan yang sangat lama (sampai 120 hari) hasil pada biaya produksi tinggi, dan membutuhkan tempat pasar yang khusus dengan label organik. Mungkin sebaiknya mempelajari persilangan antara hewan S dan galur yang lebih berat deng an tujuan untuk meningkatkan rata-rata pertumbuhan sampai mempertahankan tingkah laku spesifik dan karakteristik kualitatif. Kemudian, banyak galur S dalam bahaya kepunahan dan pertanian organik seharusnya mempertimbangkan kesempatan penting untuk menjamin kelanjutan mereka.

Sumber:
Judul Asli: Organic Poultry Production System and Meat Characteristics oleh C. Castellini (Dpt. Biologi Vegetale e Biotecnologie Agroambientali e Zootecniche, Universita di Perugia, Borgo XX Giugno 74, 06121 Perugia, Italy.
Diterjemahkan oleh: Drh. S. Wahyudi

Artikel Terkait:

Bookmark and Share

1 Komentar:

siskay08 said...

sistem organik ini ternaknya dikandangkan atau mesti di umbar????

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di blog ini dan jangan lupa tuliskan komentar anda. JANGAN SPAM...Oke!

  © Blog drhyudi by Ourblogtemplates.com

BACK TO TOP