Blog Drh. YUDI Selamat Datang di Blog Drh YudiBlog Drh. YUDI Blog Ini Menyajikan Informasi Tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan. Selamat Membaca dan Terima Kasih Blog Drh. YUDI

Ruang Jelajah Harimau Tersekat-sekat

Ruang jelajah harimau sumatera atau Panthera tigris sumatrae liar di Pulau Sumatera dalam kondisi tersekat-sekat dengan adanya areal perkebunan sawit, hutan tanaman industri, hutan tanaman rakyat, ataupun pertambangan. Untuk melestarikan jenis satwa ini, pemerintah dibebani tugas merestorasi ekosistem yang bisa menghubungkan satu kawasan habitat harimau ke kawasan lainnya.

”Di Bukit Tigapuluh Jambi dengan Taman Nasional Teso Nilo Riau sedang diupayakan jalur konservasi harimau,” kata Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan Darori, Jumat (12/2), saat peluncuran Kampanye Penyelamatan Harimau Sumatera oleh WWF-Indonesia sekaligus menyambut ”The Year of Tiger 2010”.

Menurut Darori, jalur konservasi atau koridor penghubung habitat harimau dibuat dengan merestorasi areal yang sudah berubah peruntukannya. Ketentuan yang diberlakukan, lebar koridor minimal 500 meter.

Kementerian Kehutanan, menurut Darori, sudah melepasliarkan harimau sumatera sebanyak sembilan ekor. Pelepasannya sebanyak 4 ekor di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, 4 ekor di Taman Nasional Gunung Leuser, dan 1 ekor di Taman Nasional Kerinci Seblat.

Ada salah satu harimau yang dilepasliarkan dan diketahui telah ditangkap di wilayah Sumatera Barat kemudian dibunuh dan dipotong-potong. Hal ini menunjukkan, subspesies harimau Indonesia, yang kini tertinggal antara 300 sampai 400 ekor, dalam kondisi terancam.

Harimau setelah dewasa dikenal soliter sehingga membutuhkan ruang jelajah luas. Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional menetapkan vegetasi hutan Sumatera minimal 40 persen.

Menurut narasumber lainnya, Deputi Tata Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup Hermien Roosita, pada periode 1985- 2007, kondisi hutan di Sumatera menyusut drastis sebesar 48 persen atau sekitar 12.019.692 hektar.

Kawasan hutan Sumatera menjadi tersekat-sekat untuk berbagai peruntukan itu dan kini tertinggal 29 persen. Habitat harimau pun mempersyaratkan ekosistem sungai yang baik, tetapi dari 48 wilayah sungai terdapat 14 wilayah sungai kritis.

Narasumber lainnya, yaitu Direktur Program Kehutanan, Spesies, dan Air Tawar WWF-Indonesia Ian Kosasih, beserta dua figur publik Nugie dan Davina Hariadi.
Ian mengatakan, telah diselenggarakan Konferensi Tingkat Menteri Asia (AMC) untuk Konservasi Harimau pada Januari 2010 di Bangkok, Thailand.

”Bank Dunia telah mengusulkan kita menjadi tuan rumah berikutnya, sebelum Tiger Summit di Wladiwostok, Rusia,” kata Ian Kosasih. (NAW)

Sumber: Kompas.com

Artikel Terkait:

Bookmark and Share

0 Komentar:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di blog ini dan jangan lupa tuliskan komentar anda. JANGAN SPAM...Oke!

  © Blog drhyudi by Ourblogtemplates.com

BACK TO TOP