Blog Drh. YUDI Selamat Datang di Blog Drh YudiBlog Drh. YUDI Blog Ini Menyajikan Informasi Tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan. Selamat Membaca dan Terima Kasih Blog Drh. YUDI

Penerapan GB-1 untuk Memaksimalkan Usaha Ternak

Sejumlah mahasiswa Fakultas Pertanian dan Fakultas Peternakan UGM menerapkan inovasi peternakan cairan kumpulan bakteri dan jamur Good Bacteria-1 (GB-1) untuk memaksimalkan usaha peternakan konvensional. Melalui cairan bioaktivator itu, peternak didorong meningkatkan bobot ternak dan mengolah kotorannya menjadi pupuk kompos.

Para mahasiswa tersebut adalah Adhita Sri Prabakusuma, Adi Tri Mulyo, Asmary Muis, Farida Umi Inayati, dan Heni Dwi Sulistyorini. Penerapan inovasi dikenalkan melalui "Program Inovasi Peternakan Terampil, Sehat, Nyaman, dan Mandiri (Provita Tersenyum)".

"Lewat program itu kami berusaha membawa inovasi kampus agar diterapkan masyarakat. Selama ini peternak enggan menerima inovasi jika tak melihat hasilnya," kata juru bicara kelompok, Adhita, di Yogyakarta, Rabu (24/2).

Penerapan program kepada 55 peternak dalam Kelompok Peternak Sidodadi di Petir, Srimartani, Piyungan, Bantul, itu menjuarai "Community Development National" yang diadakan di ITB 5-7 Februari lalu.

Ada tujuh program dalam Provita Tersenyum, antara lain pembuatan replikasi GB-1, kompos organik super, pupuk cair, jerami fermentasi untuk meningkatkan nutrisi, dan aplikasi probiotik GB-1 untuk penggemukan ternak.

Menurut Adhita, inovasi pembuatan pupuk dan penambahan bobot sapi itu sebenarnya sudah lama, tetapi kurang dikenal. Cairan bioaktivator GB-1 diciptakan mantan dosen Peternakan UGM Gembong Danudiningrat lima tahun lalu. Berbentuk cairan kehitaman, GB-1 terdiri atas sekitar 14 bakteri dan jamur (fungi). Di bidang peternakan, GB-1 merupakan cairan probiotik untuk meningkatkan daya serap pakan.

Pencampuran GB-1 pada pakan ternak meningkatkan bobot ternak dari kenaikan berat normal 3-5 kg per bulan menjadi 6-10 kg per bulan. "Karena penyerapan protein lebih tinggi, bau feses sapi pun berkurang," kata Adhita.

Ketua Kelompok Sidodadi M Yahman mengatakan, sejauh ini kelompoknya belum menjalankan program pengolahan kotoran sapi menjadi pupuk organik. Mereka kesulitan menyiapkan wadah feses dan urine sapi yang membutuhkan sekitar Rp 75 juta. (IRE)

Sumber: Kompas.com

Artikel Terkait:

Bookmark and Share

0 Komentar:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di blog ini dan jangan lupa tuliskan komentar anda. JANGAN SPAM...Oke!

  © Blog drhyudi by Ourblogtemplates.com

BACK TO TOP