Blog Drh. YUDI Selamat Datang di Blog Drh YudiBlog Drh. YUDI Blog Ini Menyajikan Informasi Tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan. Selamat Membaca dan Terima Kasih Blog Drh. YUDI

Indonesia Masih Impor Unggas

Indonesia masih termasuk negara pengimpor unggas yang nilai impornya masih lebih besar ketimbang ekspor.

Hal itu dikatakan Direktur Program Pasca-sarjana dan Bisnis IPB, DR. Ir. Arief Daryanto, MEc di seminar nasional bertajuk Strategi Usaha Perunggasan dalam Menghadapi Krisis Global yang diselenggarakan oleh MIPI (Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia) baru-baru ini di Bogor.

Menurut Arief ada beberapa permasalahan yang menghambat industri unggas di Indonesia. Yang pertama penyediaan bahan baku pakan ternak yang masih kurang. Contohnya, untuk impor jagung mencapai 40-50 persen, bungkil kedelai mencapai 95 persen, sedangkan tepung ikan mencapai 90 persen. Yang terbesar adalah tepung tulang dan vitamin, yang hampir 100 persen impor. Kedua, adanya indikasi terjadinya ketimpangan struktur pasar, baik pada pasar input maupun pasar out-put yang menempatkan peternak dalam posisi lemah. Ketiga, kemitraan usaha perunggasan belum berjalan secara optimal. Terakhir adalah gejolak eksternal yang kerap menghantui, salah satunya adalah flu burung.

Dengan mengatasi semua permasalahan yang ada, diharapkan kondisi industri unggas di Indonesia akan dapat meningkat lebih pesat. Saat ini peningkatan industri unggas di Indonesia 62,3% jauh lebih cepat bila dibandingkan peran unggas di dunia.

Tri Hardiyanto, Ketua Umum GOPAN (Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional), mengatakan, bisnis perunggasan merupakan bisnis yang terkait dengan penyediaan produk makanan hewani yang bernilai strategis, peluang bisnis perunggasan masih terbuka lebar seiring dengan kenaikan jumlah penduduk dan perbankan. Oleh sebab itu perhatian pemerintah terhadap sektor unggas menjadi lebih besar. Salah satu langkah untuk mengatasi hal itu ialah dibuat Undang-Undang No. 18 tahun 2009. Dengan adanya undang-undang ini, penjualan unggas hidup akan semakin dibatasi.

Prof. Dr. Peni S. Hardjosworo, Ketua MIPI menambahkan konsumsi daging unggas hanya mencapai 15 persen. ”Sekarang kita sedang menggalakkan kampanye dengan mengambil contoh, memakan telur itu tidak menyebabkan kolesterol dan itu sudah ada penelitiannya, kita berharap pertumbuhan industri unggas di Indonesia dari tahun ke tahun meningkat. Kondisi itu dapat dilihat dari tingginya konsumsi daging unggas rakyat Indonesia.

Menurutnya, pemerintah harus menggalakkan program untuk meningkatkan potensi di sektor industri unggas. Seperti mengurangi ketergantungan kepada pihak asing, terutama dalam hal pakan ternak.

Sumber: Sinartani.com

Artikel Terkait:

Bookmark and Share

0 Komentar:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di blog ini dan jangan lupa tuliskan komentar anda. JANGAN SPAM...Oke!

  © Blog drhyudi by Ourblogtemplates.com

BACK TO TOP