Blog Drh. YUDI Selamat Datang di Blog Drh YudiBlog Drh. YUDI Blog Ini Menyajikan Informasi Tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan. Selamat Membaca dan Terima Kasih Blog Drh. YUDI

“Ngarat Sampi” dan Arti Kesejahteraan Bagi Masyarakat Sasak

Ngarat dalam bahasa sasak artinya memelihara atau beternak, sedangkan Sampi adalah ternak sapi. Secara umum Ngarat Sampi dapat diartikan sebagai kegiatan beternak sapi. Bagi sebagian besar masyarakat di Pulau Lombok yang bermatapencaharian sebagai petani, menjadi petani rasanya tidak lengkap tanpa beternak.

Ternak yang banyak dipelihara oleh masyarakat sasak adalah sapi. Hubungan ini telah terbina sejak dulu, antara ternak dan kegiatan bertani terkait erat dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Kebiasaan ini telah menjadi budaya yang kuat bagi masyarakat pedesaan umumnya terutama petani-peternak di gumi (bumi) Sasak, Lombok, propinsi Nusa Tenggara Barat.

Hubungan petani-peternak tidak terlepas dari kesadaran yang tinggi terhadap arti dan manfaat yang telah dirasakan selama bertahun-tahun. Ada dua nilai hubungan yang begitu kuat, yaitu nilai fungsional dan ekonomis.

Nilai fungsional ternak sapi tidak terlepas dari pemanfaatan sapi dalam aktifitas kesehariannya sebagai petani. Tenaga sapi diandalkan dalam menggarap sawah, kotorannya sebagai pupuk alami. Meskipun saat ini pemanfaatan sapi untuk membajak sawah sudah mulai berkurang karena kehadiran traktor, namun masih ada pula petani yang mengandalkan tenaga sapi dalam membajak sawahnya. Harmonisasi kehidupan bertani dan beternak, hubungan manusia dengan ternak (sapi) terjalin begitu dekat.

Arti ekonomis sapi bagi petani-peternak selain telah berkembang sebagai usaha rakyat yang telah terbukti relatif stabil dari pengaruh krisis atau resesi ekonomi, sapi juga dianggap menjadi salah satu bentuk tabungan “cash” yang sewaktu-waktu dapat digunakan karena pada umumnya mereka tidak menabung di lembaga keuangan atau bank. Seperti fungsi cek bagi masyarakat modern, sapi dapat diuangkan/dijual dengan cepat. Ketika anak perlu biaya sekolah, keluarga sakit, biaya pesta, biaya kebutuhan rumah tangga atau untuk keperluan lainnya.

Kesadaran arti ekonomis sapi bagi orang tua dahulu sangat tinggi, sampai-sampai setiap anak dikhususkan “mengarat sampi” di sela-sela kegiatan sekolah. Bagi anak-anak lelaki dibelikan peralatan menyabit, keranjang rumput dan sebagainya serta diberi tanggungjawab memelihara sapi. Orang tua menanamkan kedisiplinan agar anak selalu ingat bahwa selain tanggungjawab tetap bersekolah, dan bermain, mengaji, tetapi di lain waktu harus bertanggungjawab mengurus sapinya.

Degradasi Fungsi
Kehadiran teknologi pertanian yang semakin canggih membuat peranan sapi lambat laun mulai berkurang. Tenaga sapi mulai tergantikan oleh traktor karena dianggap lebih efisien baik dari segi waktu dan biaya, meskipun tak jarang tenaga sapi masih menjadi andalan petani terutama bagi yang memiliki lahan sempit dan tidak terjangkau oleh traktor.

Dalam masa kekinian, meskipun kegiatan bertani dan beternak lambat laun mengalami penurunan dan tergantikan oleh kegiatan lain yang dipandang lebih menguntungkan, akan tetapi kegiatan ngarat sampi masih sangat perlu dikelola dan dikembangkan terutama bagi masyarakat pedesaan dalam upaya meningkatkan penghasilan dan taraf hidup.

Tuntutan pemenuhan kebutuhan pangan asal hewan sebagai sumber protein hewani masyarakat dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan oleh pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan arti penting pemenuhan gizi keluarga, disamping peningkatan pendapatan per kapita masyarakat. Kedua faktor ini memacu tingginya permintaan daging dan dari segi permintaan, keadaan ini merupakan peluang besar bagi usaha peternakan sapi. Petani peternak dapat berperan lebih besar dalam mengembangkan ternak sapi sebagai suatu usaha yang menjajikan.

Ngarat sampi yang sudah menjadi tradisi dan telah diwariskan oleh nenek moyang terdahulu dan dapat dijadikan sebagai sebuah nilai atau kearifan lokal dalam membangun dan mengangkat taraf hidup masyarakat, harus dikembangkan menjadi sebuah usaha yang lebih produktif dan efisien baik dalam skala usaha rakyat maupun dikembangkan menjadi usaha peternakan yang lebih besar dengan pemanfaatan yang berorientasi agribisnis peternakan dengan pemanfaatan teknologi peternakan, tata laksana pemeliharaan, teknologi pakan, dan kesehatan hewan.

Tradisi beternak yang diwariskan nenek moyang terdahulu mengandung nilai pembelajaran yang sangat berarti. Ada pesan yang masih relevan dari pendahulu-pendahulu kita terutama bagi penduduk desa, anak-anak muda, anak putus sekolah bahkan mungkin bagi yang berminat berusaha di bidang peternakan untuk direnungkan kembali sehingga kesejahteraan masyarakat tercapai. “Lamunte uwah arat sampi jak pastinte sampe”, artinya kira-kira demikian, kalau sudah memelihara sapi pasti tujuan kita sampai (maksudnya naik haji). Naik haji bagi masyarakat sasak merupakan sebuah lambang kemakmuran atau kesejahteraan.

Artikel Terkait:

Bookmark and Share

0 Komentar:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di blog ini dan jangan lupa tuliskan komentar anda. JANGAN SPAM...Oke!

  © Blog drhyudi by Ourblogtemplates.com

BACK TO TOP