Blog Drh. YUDI Selamat Datang di Blog Drh YudiBlog Drh. YUDI Blog Ini Menyajikan Informasi Tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan. Selamat Membaca dan Terima Kasih Blog Drh. YUDI

Meningkatkan Efisiensi Reproduksi Melalui Produksi Embrio Spliting dan

Bioteknologi reproduksi generasi pertama yang bernama insemenasi buatan (IB) telah cukup berhasil dijalani selama sekian puluh tahun. Salah satu tujuan IB adalah meningkatkan populasi dan mutu genetis yang diwarisi dari tetua pejantan pada tingkat tertentu dari generasi ke generasi berikutnya. Dengan memberdayakan potensi mutu genetis dari sapi pejantan secara selektif. Salah satu indikator lain keberhasilan IB, kini telah banyak berdiri Balai IB di beberapa daerah dengan spesifikasi tersendiri sesuai dengan potensi peternakan daerah bersangkutan. Bagaimana dengan bioteknologi reproduksi generasi kedua yang bernama transfer embrio?

Meskipun terkesan tertatih tatih, perjalanan bioteknologi reproduksi transfer embrio (TE) sudah ada hasilnya. Secara analisa usaha ekonomi peternakan mungkin belum dapat dikatakan berhasil, mengingat perhitungan efisiensi biaya produksi masih cukup tinggi yang tidak menggambarkan peranan teknologi perindustrian pada umumnya dalam memangkas komponen biaya. Alasan sebagai teknologi tingkat tinggi dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi pula tidak seharusnya menjadi kendala, kalau seandainya semua fihak yang berkompeten menjujung tinggi profesionalisme dan proporsionalisme yang konsekuen dan konsisten.

Bebagai efisiensi reproduksi dengan menerapkan pola bioteknologi reproduksi telah diulas, mulai yang sederhana sampai yang cukup komplek berdasarkan kaidah ilmiah yang terkait terutama dalam hal produksi embrio in vivo.

Salah satu upaya meningkatkan efisiensi reproduksi berikutnya adalah melalui produksi embrio spliting dan fertilisasi in vitro (FIV). Spliting yang dimaksud adalah membagi atau membelah dengan pemotongan secara mekanis, bukan pembelahan embrio dalam pengertian mitosis, meiosis atau proses alami pada umumnya yang dikenal selama ini dalam kaidah embriologi. Pembelahan mekanis ini berdasarkan pemahaman bahwa pada fase embrio masih mempunyai kemampuan totipoten atau belum terjadi diferensiasi menjadi berbagai bagian dan organ. Sehingga masing-masing belahan akan melanjutkan kehidupan menjadi individu baru yang kembar identik.

Sebagaimana dikenal dalam embriologi secara histologis embrio terdiri dari berbagai komponen, antara lain adalah inner cell mass (ICM) yang selanjutnya menjadi janin individu baru terlahir dan trofoblas yang menjadi plasenta sebagai penunjang kehidupan dalam kandungan. Dalam upaya pembelahan mekanis spliting maka masing-masing belahan harus mendapat kedua komponen tersebut agar dapat melanjutkan kehidupannya. Sehingga sungguh menjadi pekerjaan dengan tingkat kesulitan yang sangat tinggi untuk memperoleh kedua komponen tersebut dalam satu kali kerja membelah. Pembelahan umumnya dilakukan pada fase embrional tertentu yaitu pada awal morula, morula dan kompak morula dengan bantuan mikroskop stereo pada pembesaran tertentu yang juga sulit untuk membedakan dan mengidentifikasi antara trofoblas dan ICM.

Karena itu untuk memudahkaan pada pelaksanaan pembelahan mekanis spliting ditempuh dalam dua rangkaian kerja yang berbeda atau terpisah. Pada proses pembelahan spliting hanya dikonsentrasikan memperhatikan keberadaan dan keberhasilan membelah ICM saja. Sedangakan trofoblas diambilkan dari hasil FIV dengan memanfaatkan bahan baku oosit dari ovarium segar yang diperoleh dari rumah pemotongan hewan (RPH). Dalam pengertian ini hasil embrio FIV dibuang bagian ICMnya dengan metode aspirasi mikroinjektor menembus zona pelusia dan zona vetelina. Selanjutnya ICM digantikan dari hasil pembelahan spliting dengan cara yang sama yaitu mikroinjeksi menembus zona pelusida dan zona vetelina.

Sebagaimana diketahui bahwa FIV dengan memanfaatkan ovarium dari pemotongan sapi betina pada prinsipnya adalah IB in vitro, sehingga kalau diteruskan untuk memperoleh pedet baru dengan alasan untuk meningkatkan populasi, mutu genetisnya sama dengan hasil IB in vivo yang dikenal selama ini. Bahkan lebih jelek (dengan proses lebih rumit dan lebih mahal) karena sapi betina yang dipotong umumnya adalah sapi afkir antara lain akibat kemajiran, umur tua atau bermasalah lainnya. Atau sapi-sapi betina bakalan hasil persilangan yang secara genetis diarahkan pada pertumbuhan vegetatif untuk penggemukan, bukan genetis generatif untuk tujuan breeding.

Proses FIV sebagaimana pengertian IB in vitro hanya cocok diterapkan pada populasi bangsa tertentu antara lain sapi komposit atau sapi ras yang masih murni atau sapi lokal spesifik dalam rangka pelestarian plasma nuftah. Kembali pada masalah FIV versi TE harus difahami adalah hanya untuk memperoleh trofoblas dan zona pelusida serta zona vitelina yang selanjutnya digabungkan dengan ICM hasil pembelahan spliting dalam rangkaian produksi embrio yang nantinya sebagai dasat-dasar produksi embrio secara kloning ..........(bersambung)

drh. M. Arifin Basyir | arifin_basyir@yahoo.com

Sumber:vet-indo.com

Artikel Terkait:

Bookmark and Share

0 Komentar:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di blog ini dan jangan lupa tuliskan komentar anda. JANGAN SPAM...Oke!

  © Blog drhyudi by Ourblogtemplates.com

BACK TO TOP