Blog Drh. YUDI Selamat Datang di Blog Drh YudiBlog Drh. YUDI Blog Ini Menyajikan Informasi Tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan. Selamat Membaca dan Terima Kasih Blog Drh. YUDI

ABAD 21, ABAD BIOLOGI

Saat ini kita berada pada masa yang dikenal sebagai milenium ketiga atau abad 21 yang ditandai dengan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi . dunia disuguhkan dengan berbagai inovasi dan kemajuan pada berbagai bidang industri, telekomunikasi dan informasi global super canggih, sampai pada teknologi tinggi (high tech) bidang antariksa, teknologi robot, serta kemajuan biologi molekuler.

Perkembangan dan kemajuan di berbagai bidang tersebut, menjadikan hampir semua bangsa di dunia berpacu untuk mengembangkan setiap sendi kehidupannya pada dasar ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bungkus zaman yang disebut sebagai era globalisasi dimana ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi salah satu indicator kemajuan bangsa dalam menghadapi persaingan global.

John naisbitt dan Patricia aburdene dalam buku Megatrends 2000 meramalkan bahwa salah satu megatrend abad 21 adalah peralihan dari model dan metafora fisika ke model dan metafora biologi untuk membantu kita mengerti dilema dan peluang dewasa ini.

Fisika memberikan metafora dan model untuk abad industry mekanistik dengan mengajukan; Energi-intensif, linear, makro, mekanistik, deterministik, dan diarahkan ke luar. Biologi mengajukan; Informasi-intensif, mikro, adaptif, holistik, diarahkan ke dalam. Percakapan sehari-hari orang semakin banyak menggunakan kata dan frase biologi, bahkan fisika baru mengalami kemajuan dengan berfikir dalam metafora biologi, yang belakangan ini menjadi trend, “feedback”, “symbiosis”, “reprogrammed”, “biodiesel”, “bioenergi”, dan lain sebagainya.
Dalam dunia bisnis misalnya, kita sudah tidak asing mendengar “seed capital”, “hothouses” untuk proyek kewirausahaan, “pertumbuhan” dan “evolusi” organisasi. Namun dewasa ini kita berada dalam proses penciptaan suatu masyarakat yang merupakan susunan rinci sistem umpan balik informasi, struktur dari organism biologi itu sendiri.

Ramalan John Naisbitt dan Patricia Aburdene merupakan satu ramalan yang realistis, bukankah sebelum memasuki abad 21 kemajuan di bidang biologi benar-benar telah dirasakan sampai pada kemajuan biologi modern yang luar biasa. Lanjutnya, kita akan bersiap lebih jauh lagi pada ambang era besar: Bioteknologi.

Bioteknologi sebenarnya bukan hal yang baru, meskipun telah mendapat perhatian yang jauh lebih besar pada masa-masa sekarang. Menurut para ahli purbakala, industri bioteknologi di Inggris dikenal sejak 400 tahun SM sampai akhir zaman neolitik ketika proses fermentasi yang memanfaatkan sel ragi untuk menghasilkan bir dan minuman keras pertama kali diperkenalkan.
Selanjutnya sejak Gregor Mendel merumuskan aturan-aturan yang menerangkan pewarisan sifat-sifat biologi (gen) yang menandai lahirnya genetika lebih dari seabad lalu, ilmu pengetahuan yang baru ini berkembang sangat pesat.

Diawali oleh W. Sutton dan TH Morgan secara eksperimental mengembangkan teknik pemetaan gen dan menghasilkan analisis menyeluruh mengenai posisi relative lebih dari 2000 gen. Selanjutnya pada tahun 1944 oleh Avery, Mac Leod dan McCarthy serta Hershey dan Chase tahun 1952 melakukan eksperimen-eksperimen yang menghasilkan DNA sebagai material genetik. Dalam waktu empat belas tahun antara 1952 sampai 1966 struktur DNA telah diketahui, kode genetik dipecahkan, serta proses-proses transkripsi dan translasi dapat dijabarkan.

Kemudian antara 1971-1973 disebut sebagai revolusi dalam biologi modern dengan ditemukannya metode yang dikenal sebagai teknologi DNA rekombinan atau rekayasa genetik. Inti dari proses rekayasa genetik ini adalah kloning gen dan menjadi sangat penting karena member kunci dalam memecahkan kode kehidupan. Melalui rekayasa genetik, para ilmuwan dan peneliti akan terbiasa mengutak atik sebuah gen kemudian dikembangkan lebih jauh di dalam media (tanaman dan hewan) untuk menghasilkan suatu hasil penelitian umat manusia.

Dalam perkembangan ilmu genetika kemudian digabungkan dengan berbagai disiplin ilmu seperti mikrobiologi, biokimia, teknik kimia dan proses rekayasa menjadi satu hingga melahirkan ilmu pengetahuan yang sangat beraneka ragam dan dikenal sebagai bioteknologi. Dua dasawarsa terakhir abad 20 lalu berbagai kemajuan pesat biologi telah membawa dunia menuju kemajuan yang sangat berarti di bidang bioteknologi di abad 21. Hal inilah yang disebut-sebut sebagai kelahiran zaman kebesaran bioteknologi di milenium ketiga saat sekarang ini.

Manipulasi genetik pada hewan telah mencapai babak baru perkembangannya. Pada tahun 1988 di di sebuah lahan pertanian di Wheelock, Texas, USA, tujuh ekor sapi jantan keturunan murni yang identik secara genetis dihasilkan dari embrio buatan manusia. Embrio tiruan (yang disalin secara identik) dari sapi jantan pilihan dapat membuahi dan menyebabkan kebuntingan pada sapi betina. Secara teoritis, ribuan hewan yang identik dapat dihasilkan melalui kloning yaitu suatu teknik untuk menghasilkan duplikat suatu organism yang identik secara genetik dengan menggantikan inti dari ovum yang belum dibuahi dengan inti sel tubuh organisme yang bersangkutan.

Adalah DR. Ian Wilmut, seorang ahli genetika dari Roslin Institute Inggris bekerjasama dengan PPL Therapeutic berhasil melakukan cloning melalui teknologi nuclear transfer dan menjadi keberhasilan pertama kloning hewan dari sel tubuh bukan sel embrio seperti yang banyak dilakukan oleh ahli lainnya.

Di Indonesia keberhasilan pertama putra bangsa dipelopori oleh Dr. Ir. Zuprizal, DEA melalui manipulasi genetik dapat melahirkan ayam transgenik pertama di Indonesia. Dan lebih jauh beliau berkeinginan menciptakan ayam-ayam yang secara genetis berbeda dengan yang lainnya melalui kemajuan bioteknologi modern (Infovet edisi 046, Mei 1997).

Di era abad 21 bioteknologi seperti perkiraan sebelumnya akan sama pentingnya dengan komputer. Bioteknologi akan menjadi booming, setidaknya arah pertama bioteknologi yang sudah banyak dikembangkan adalah dalam bidang pertanian dan peternakan, industri makanan, sampai pada industry pakaian dan kesehatan. Perusahaan-perusahaan bioteknologi saat ini berpacu dengan penemuan obat baru dan pengembangan obat mencapai lebih dari 300 produk obat dan 200 vaksin penyakit di dunia diantaranya kanker, Alzheimer, penyakit jantung, AIDS, arthritis dan berbagai penyakit infeksi di negara berkembang.

Perkembangan bioteknologi lain yang dewasa ini mengalami kemajuan pesat adalah manipulasi genetic pada tanaman dan hewan. Melalui rekayasa genetik dapat menghasilkan tanaman transgenik dan member suatu terobosan untuk mengembangkan tanaman yang mempunyai kualitas super dan mampu berproduksi banyak dan mempunyai daya tahan terhadap penyakit baik yang disebabkan oleh virus, parasit, herbisida serta mempunyai ketahanan terhadap penyimpanan pascapanen.

Berbagai jenis produk pertanaian transgenic mewakili perkembangan bioteknologi di bidang pertanian antara lain kapas Bt, kedelai Bt, padi pro vitamin A, jagung Bt (Attribute ™ Bt-sweetcorn), kacang tanah Bt (High Oleic Peanut), dan lain sebagainya. Tak ketinggalan pula industri makanan telah mengembangkan produknya yang dibuat atas dasar bioteknologi.

Bioteknologi dan golongan oposisi
Sebuah gagasan gila dalam ilmu pengetahuan adalah hal yang lumrah. Berangkat dari gagasan tersebut yang sering kali dicibir, dietertawakan, dicemooh atau bahkan tidak jarang si penggagas berhadapan dengan ancaman maut sebagaimana Galileo yang menerima putusan mati, namun pada akhirnya lewat ide dan gagasannya itulah justru berguna bagi generasi berikutnya.

Pengujian lapangan rekayasa genetik terhadap organisme yang direkayasa telah menimbulkan kritikan-kritikan dari berbagai golongan masyarakat, pencinta lingkungan, aktivis hak hewan, petani, kaum cendekiawan, agamawan sehingga muncul berbagai pertanyaan yang mereka khawatirkan; apakah etis untuk memanipulasi alam? Apakah binatang diperlakukan sewenang-wenang? Apakah dengan rekayasa genetik tidak melangkahi kodrat alam (kekuasaan Tuhan)? Apakah industri farmasi dan pertanian melakukannya hanya untuk mendapat keuntungan bisnis semata? Secara umum apakah implikasi etis, legal, dan social dari bioteknologi?.

Para pencinta lingkungan khawatir bahaya teknologi akan mengubah alam itu sendiri. Kaum agamawan berpendapat bahwa apa yang dilakukan para ilmuwan itu menyalahi kodrat alam dan kekuasaan Tuhan.

Ketika Dr.Ian Wilmut mempublikasikan hasil penelitiannya (kloning domba) telah mengundang perdebatan hangat dikalangan agamawan dan ilmuwan baik di dalam maupun luar negeri. Di dalam negeri sendiri hasil kloning domba Dr. Ian Wilmut oleh kaum agamawan secara tegas menolak dan menentang kloning pada manusia. Tak ketinggalan pula dari Vatikan, pemimpin tertinggi umat katholik saat itu Paus Johanes Paulus II serta merta menolak penciptaan manusia secara artificial dan mengecam keras pemanfaatan manusia sebagai obyek penelitian.

Namun dengan maraknya berbagai macam produk transgenic sekarang ini membuat konsumen tidak menerima begitu saja. Konsumen harus lebih waspada terhadap kemungkinan dampak yang ditimbulkan oleh produk bioteknologi hasil rekayasa genetik, seperti efek bagi kesehatan, kelestarian lingkungan, dan lain-lain sehingga peranan pemerintah di dalam regulasi produk-produk transgenik menjadi sangat penting.

T.A. Brown (1991) dalam buku Gen Cloning an Introduction menyatakan bahwa rekayasa genetik yang melibatkan hewan lebih banyak menimbulkan masalah. Masalah etika yang berkaitan dengan kemungkinan hasil penelitian harus dipertimbangkan walaupun banyak eksperimen yang berguna dapat diciptakan, tetapi penggunaannya yang lebih meragukan untuk masa datang juga masih dalam pertimbangan. Rekayasa genetik melalui cloning merupakan alat yang ampuh sebagai salah satu terobosan yang selama ini dicari-cari para ahli di dunia, tetapi harus digunakan secara bijaksana.

Bagaimanapun serunya kontroversi kehadiran rekayasa genetik sebagai hasil kemajuan teknologi, satu hal yang harus menjadi asumsi bahwa teknologi khususnya bioteknologi tidak bersifat jahat tetapi selalu netral. Bagaimana menggunakannya itulah kuncinya.

Ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk produk bioteknologi akan sia-sia apabila digunakan untuk tujuan yang kurang bijaksana, tetapi dengan pemanfaatan kemajuan bioteknologi secara benar, tepat akan memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan manusia di muka bumi serta kelestarian alam sekelilingnya.



Artikel Terkait:

Bookmark and Share

0 Komentar:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di blog ini dan jangan lupa tuliskan komentar anda. JANGAN SPAM...Oke!

  © Blog drhyudi by Ourblogtemplates.com

BACK TO TOP