Blog Drh. YUDI Selamat Datang di Blog Drh YudiBlog Drh. YUDI Blog Ini Menyajikan Informasi Tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan. Selamat Membaca dan Terima Kasih Blog Drh. YUDI

Potensi Pengembangan Kambing Perah Sebagai Substitusi Sapi Perah

Perkembangan penduduk dewasa ini dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan. Proyeksi peningkatan jumlah penduduk dunia pada tahun 2025 diperkirakan akan meningkat mencapai 8,5 milyar orang atau lebih. Dengan pertambahan jumlah penduduk yang memenuhi planet bumi ini maka kebutuhan pangan semakin meningkat.

Populasi dunia saat ini meningkat pada tingkat 1,5 %, di negara-negara berkembang 1,8 % dan di negara-negara maju bertahan sekurang-kurangnya 0,1 %. Sementara itu tingkat pendapatan riil masyarakat konsumen di Negara-negara berkembang telah mengalami kenaikan dua kali lipat sejak awal 1960-an. Bahkan pada tahun 1980-an, Produk Domestik Bruto (PDB) di negara-negara berkembang telah mengalami pertumbuhan 3 % per tahun. Terdapat korelasi yang positif antara tingkat pendapatan dengan konsumsi protein hewani.

Konsumsi daging, susu dan telur telah diperkirakan akan terus meningkat dan peningkatan ini akan terus berlangsung sampai millennium ketika sehingga menimbulkan revolusi peternakan yang utamanya didorong oleh peningkatan permintaan di Negara-negara berkembang. Pada tahun 1996-1998, rata-rata konsumsi daging 25 kg/kapita/ tahun dan susu 51 kg/kapita/tahun, sepertiga konsumsi daging dan seperlima konsumsi susu di negara-negara maju. Walaupun tingkat konsumsi per kapita per tahun jauh lebih rendah dari negara-negara maju, namun proporsi total konsumsi di negara-negara berkembang untuk daging mencapai 65,1 % dan untuk susu 57,4 % dari total konsumsi dunia (Soekardono, 2009).

Jika melihat kondisi Indonesia sebagai salah satu negara berkembang dan negara yang memiliki jumlah penduduk terbesar ke empat di dunia dengan jumlah penduduk 220 juta jiwa (data BPS tahun 2003) dan diperkirakan terus bertambah dengan proyeksi jumlah penduduk pada tahun 2036 sebanyak 400 juta jiwa maka permintaan dan pemenuhan protein hewani asal ternak akan terus meningkat selaras dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan tingkat pendapatan per kapita penduduk.

Menurut standar gizi nasional (Widya Karya Pangan dan Gizi) dalam Soekardono (2009), konsumsi protein hewani asal ternak adalah sebesar 4,5 gr per kapita per hari atau setara dengan 7,6 kg daging, 5,5 kg telur dan susu 4,6 kg per kapita per hari. jika penduduk Indonesia saat ini berjumlah 220 juta jiwa maka untuk memenuhi target tersebut diperlukan daging sebanyak 1,672 juta ton, telur 1,21 juta ton, dan susu 1,012 juta ton. Apabila proyeksi jumlah penduduk Indonesia yang diperkirakan 440 juta jiwa, maka kebutuhan pangan hewani setiap tahunnya untuk daging akan mencapai 5 juta ton/tahun, telur 2,5 juta ton/tahun dan susu 3,5 juta ton/tahun.

Jika angka proyeksi ini dibandingkan dengan tingkat produksi dalam negeri seperti di atas, maka dalam memenuhi kebutuhan itu diperlukan usaha dalam menaikkan produksi daging sekitar 3,5 kali, telur 3 kali dan susu 7 kali lipat dari produksi nasional sekarang.

Untuk pemenuhan pangan dan gizi bagi masyarakat, khususnya pemenuhan protein asal hewan berupa daging, telur dan susu maka usaha di bidang peternakan sebagai salah satu bagian dari pembangunan pertanian harus dikembangkan. Pembangunan peternakan dan perbaikan peternakan sangat diperlukan. Dengan demikian keadaan ini akan menjadi peluang usaha dan investasi yang menjanjikan. Peluang pasar berbagai komoditas peternakan selalu tersedia setiap saat dan selalu meningkat setiap tahun seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan meningkatnya kebutuhan pangan dan gizi.
Kebutuhan makanan manusia yang semakin meningkat itu diperlukan peternakan yang khusus menghasilkan produk-produk tertentu dengan pemberian pakan dan manajemen yang baik. Untuk memenuhi kebutuhan ini, efisiensi konversi makanan, manajemen peternakan harus diperbaiki. Sebagai contoh, untuk sapi perah, kerbau perah ataupun kambing perah faktor penentu dalam merealisasikan efisiensi maksimum adalah produksi susu per ekor dapat dioptimalkan dengan pemberian pakan dan manajemen yang cukup, dalam jangka panjang kemampuan genetik untuk memproduksi susu harus pula dikembangkan.

Untuk sapi dan ternak potong lainnya faktor penentu adalah berat lahir dan pertambahan berat badan harian. Dalam hal ini pun perlu perbaikan-perbaikan dari segi pakan, manajemen dan identifikasi serta penggunaan kemampuan genetik yang tinggi.

Di masa silam para peternak teladan adalah pemelihara ternak yang baik. Di masa mendatang selain sebagai pemelihara ternak, petani-peternak harus mempelajari dan menguasai ilmu-ilmu yang berhubungan dengan tanaman, tanah dan manajemen ternak, makanan ternak dan pengendalian penyakit bahkan ilmu ekonomi sangat dibutuhkan.
Pemenuhan pangan dan gizi masyarakat yang lazim bersumber dari berbagai komoditas yaitu daging, susu dan telur. Kebutuhan akan daging dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, begitu juga kebutuhan susu dan telur.

Sumber protein hewani berupa daging dan susu saat ini masih bersumber dari ternak sapi, baik sapi potong dan sapi perah. Khusus untuk susu kebutuhan yang besar masih mengandalkan sapi perah sebagai penghasil terbesar susu yang dikonsumsi masyarakat. Padahal beberapa jenis ternak seperti kerbau dan kambing berpotensi tinggi dalam mensubstitusi sapi perah sebagai penghasil utama susu.

Potensi kambing sebagai penghasil susu di samping sebagai penghasil daging sangat menjanjikan. Hal ini disebabkan karena melihara kambing bukan hal yang baru bagi petani-peternak, akan tetapi pemeliharaan kambing selama ini lebih banyak dikembangkan sebagai penghasil daging dan masih sangat terbatas petani-peternak yang mengembangkan ternak kambing sebagai penghasil susu.

Ternak kambing merupakan salah satu ternak penghasil susu yang cukup di kenal di dunia, tetapi usaha peternakan kambing perah di Indonesia masih belum berkembang dan tersebar luas seperti sapi perah.
Peternakan kambing perah hanya tersebar pada beberapa daerah, terutama di daerah-daerah sepanjang pantai utara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Peternak di Indonesia belum banyak yang tertarik untuk mengusahakan kambing perah secara komersial, padahal ternak ini mempunyai prospek yang sangat menjanjikan di masa depan. Selain itu karena terbatasnya sumber daya peternak yang karena kekurangan informasi dan pengalaman tentang manajemen kambing perah membuat perkembangan pemeliharaan kambing perah seakan tidak berkembang.

Kambing merupakan jenis ternak yang tergolong ternak ruminansia kecil, hewan pemamah biak, dan merupakan hewan mamalia yang menyusui anak-anaknya. Di samping sebagai penghasil daging yang baik, kambing juga menghasilkan air susu yang mempunyai nilai gizi tinggi dan dapat dikonsumsi oleh masyarakat.

Potensi Pengembangan Kambing Perah
Pengenalan bangsa kambing yang dapat dijadikan sebagai kambing perah merupakan faktor penting untuk diketahui terlebih dahulu sebelum faktor-faktor lainnya, seperti perkawinan, proses kelahiran, perawatan anak dan induk, pemilihan bibit, manajemen pemerahan, dan lain sebagainya. Peningkatan produksi dan mutu air susu yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh jenis kambing. Setiap jenis kambing mempunyai keunggulan yang berbeda dengan jenis lainnya. Oleh karena itu, pemilihan jenis kambing perah perlu dilakukan agar memperoleh hasil yang optimal. Pengetahuan tentang bangsa-bangsa kambing dengan segala ciri-cirinya menentukan pilihan terhadap jenis kambing perah yang akan dipelihara.

Telah dikenal berbagai jenis kambing yang banyak dipelihara oleh peternak, misalnya jenis kambing Etawah, Peranakan Etawah, kambing Kacang, dan kambing Saanen, namun kebiasaan peternak masih sebatas memelihara kambing sebagai penghasil daging (ternak potong) dan belum memperhatikan keistimewaan kambing-kambing yang dipelihara sebagai penghasil susu. Beberapa jenis kambing yang dapat dikembangkan sebagai penghasil susu adalah:
1. Kambing Etawah
Jenis kambing ini berasal dari Jamnapari India dan banyak dijumpai di Indonesia, dikenal sebagai kambing Benggala. Kambing ini sangat produktif menghasilkan susu. Ciri-ciri kambing ini adalah:
a. Memiliki daun telinga panjang yaitu 25-40 cm dan terkulai ke bawah.
b. Memiliki tanduk, baik pada kambing jantan maupun yang betina.
c. Berat badannya mencapai 68-91 kg untuk kambing jantan dewasa, dan 36-63 kg untuk kambing betina dewasa.
d. Mempunyai kaki panjang dan pada garis belakang kaki tumbuh bulu-bulu panjang.
e. Kambing berukuran besar dan panjang, hidung melengkung. Ekornya kecil dan pendek.
f. Ukuran tinggi badan mencapai 90-127 cm untuk kambing jantan dewasa, dan 76-92 cm untuk kambing betina dewasa.
g. Bulunya berwarna belang hitam putih atau merah, dan ada pula yang berwarna belang cokelat putih.
h. Ambing panjang seperti botol dan produksi susu mencapai 3 liter per hari.

2. Kambing Peranakan Etawah/Jawarandu
Jenis kambing ini merupakan hasil persilangan antara kambing kacang dan kambing etawah. Kambing kacang banyak ditemukan di Indonesia, dan merupakan penghasil daging dan susu. Ciri-cirinya adalah:
a. Memiliki warna bulu bervariasi, ada yang berwarna cokelat muda, hitam dan lain-lain.
b. Memiliki daun telinga panjang, yakni sekitar 18-30 cm.
c. Tinggi badan mencapai 76-100 cm.
d. Memiliki ukuran berat badan sekitar 40 kg untuk yang jantan dewasa dan 35 kg untuk yang betina dewasa.
e. Pada kambing jantan memiliki bulu agak panjang dan lebih tebal yang terdapat pada bagian atas dan bawah leher, serta pada bagian pundaknya. Sedangkan pada yang betina pada bagian garis belakang paha memiliki bulu yang panjang dan tebal.
f. Produksi susu diperkirakan antara 1-1,5 liter per hari.

3. Kambing Kacang
Kambing Kacang merupakan kambing asli Indonesia. Kambing ini dikenal sebagai penghasil daging dan juga penghasil susu. Ciri-ciri badannya adalah:
a. Ukuran badannya kecil dan pendek dengan berat badan sekitar 25 kg untuk jantan dewasa, dan sekitar 20 kg untuk kambing betina dewasa.
b. Ukuran badannya sekitar 60-65 cm untuk kambing jantan dan 56 cm untuk kambing betina.
c. Mempunyai daun telinga pendek dan tegak.
d. Mempunyai tanduk, baik yang jantan maupun yang betina.
e. Mempunyai leher pendek dan garis punggung meninggi.
f. Kambing jantan berjenggot putih, cokelat atau hitam.
g. Warna bulunya bermacam-macam, ada yang putih, cokelat dan hitam.

4. Kambing Marica
Jenis kambing ini merupakan kambing asli Indonesia yang banyak terdapat di daerah Sulawesi. Cirri-cirinya sebagai berikut.
a. Ukuran tubuh kecil.
b. Daun telinganya kecil, pendek dan tegak.
c. Mempunyai kemiripan dengan kambing kacang.
d. Memiliki ekor yang berukuran kecil dan pendek.
e. Berat badannya sama dengan kambing kacang.

5. Kambing Saanen
Kambing ini berasal dari Lembah Saanen, Swiss. Jenis kambing ini merupakan penghasil susu yang unggul. Cirri-ciri badannya adalah:
a. Mempunyai ukuran dada lebar dan dalam.
b. Mempunyai warna bulu putih atau krem pucat/muda.
c. Telinganya tegak dan mengarah ke depan.
d. Mempunyai dahi lebar, ukuran telinga sedang dan berdiri tegak mengarah ke depan dan ke samping.
e. Memiliki tanduk baik pada kambing jantan maupun betina.
f. Lehernya panjang dan halus.
g. Hidung, telinga dan ambingnya berwarna belang hitam.
h. Ukran badan kecil.
i. Produksi susu dapat mencapai 800 kg dalam masa laktasi 250 hari.

6. Kambing Alphine
Kambing ini merupakan penghasil susu, disamping dagingnya juga dapat dikonsumsi. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut.
a. Mempunyai warna bulu bervariasi, ada putih, kehitam-hitaman, dan lain-lain.
b. Pada bagian mukanya terdapat garis putih yang terletak di atas hidung.
c. Sebagian memiliki tanduk dan ada yang tidak mempunyai anduk.
d. Ukuran badannya tidak jauh berbeda dengan kambing Saanen.
e. Telinganya pendek dan tegak.

7. Kambing Gembrong
Kambing gembrong banyak terdapat dan diusahakan di Bali. Kambing ini merupakan tipe pedaging dan dapat pula diambil susunya untuk konsumsi.
Ciri-cirinya adalah sebagai berikut.
a. Kambing jantan memiliki bulu yang lebih panjang daripada kambing betina.
b. Mempunyai ukuran tubuh lebih besar daripada kambing kacang.
c. Kepalanya bertanduk.
d. Telinganya pendek dan tegak.
e. Ekornya kecil dan pendek.
f. Kambing ini mempunyai jenggot baik jantan maupun betina.
g. Rambut tumbuh pada seluruh tubuhnya panjang dan halus. Akan tetapi rambut yang tumbuh pada bagian leher dan pinggang lebih panjang terutama yang jantan.

Manfaat Pemeliharaan Kambing Perah
Pemeliharaan kambing sebenarnya sudah lama dilakukan oleh para petani peternak, namun sebagian besar terbatas pada pemeliharaan yang ditujukan sebagai penghasil daging dan baru sebagian kecil yang memanfaatkan kambing sebagai penghasil susu padahal pemeliharaan kambing perah sangat berpotensi diusahakan.
Air susu kambing merupakan hasil utama dari ternak perah yang mempunyai kandungan gizi tinggi. Air susu kambing proteinnya tidak kalah dari susu sapi, protein susu kambing adalah 3,7 % sedangkan susu sapi adalah 3,3 %. Susu kambing mempunyai kandungan gizi lengkap dan baik untuk kesehatan, sehingga dapat menjadi pilihan bagi yang tidak bisa mengkonsumsi susu sapi (lactose intolerance). Ia rendah laktosa sehingga tidak menimbulkan diare.

Keunggulan lainnya, susu kambing tidak mengandung beta-lactoglobulin. Senyawa alergen itu sering disebut sebagai pemicu reaksi alergi seperti asma, bendungan saluran pernapasan, infeksi radang telinga, eksim, kemerahan pada kulit, dan gangguan pencernaan makanan. Meski tidak membawa dampak alergi atau berisiko rendah menimbulkan alergi, jangan mengartikan susu kambing dapat dijadikan obat untuk menghilangkan reaksi alergi.

Sekalipun ada beberapa kasus alergi hilang karena mengkonsumsi susu kambing.Rantai asam lemak susu kambing lebih pendek dibanding susu sapi sehingga lebih mudah dicerna dan diserap sistem pencernaan manusia. Kandungan asam kaprik dan kapriliknya mampu menghambat infeksi terutama yang disebabkan oleh cendawan candida. Susu kambing juga tidak mengandung agglutinin yaitu senyawa yang membuat molekul lemak menggumpal seperti pada susu sapi. Itu sebabnya susu kambing mudah diserap usus halus.

Selain dikonsumsi, susu kambing baik juga untuk perawatan kulit. Sabun yang terbuat dari campuran susu kambing memiliki tingkat keasaman yang menyamai kulit. Efeknya terasa lembut di kulit dan tidak menimbulkan iritasi. Beberapa penelitian melaporkan penggunaan sabun ekstrak susu kambing memulihkan kelainan kulit seperti psoriasis dan eksema.

Asih (2004) menyatakan, air susu kambing mempunyai kelebihan-kelebihan jika dibandingkan dengan air susu ternak lainnya. Susu kambing dapat dipakai sebagai obat beberapa macam penyakit, sehingga beberapa rumah sakit selalu menyediakan air susu kambing untuk pasiennya. Air susu kambing juga dikatakan sebagai susu yang paling mendekati komposisi air susu ibu (ASI). Sifat-sifat fisik air susu kambing lebih baik dari pada air susu ternak lain, yaitu:
a. Warnanya lebih putih.
b. Globula lemaknya lebih kecil dan beremulsi dengan susu, sehingga lemak susu kambing tidak bisa muncul ke permukaan, tanpa dipisahkan dengan mesin pemisah (mechanical separator).
c. Lemak susu kambing bentuknya lebih halus, sehingga lebih mudah dicerna, card proteinnya lebih lunak, sehingga protein mudah dicerna dan memungkinkan untuk dipakai membuat keju yang spesial.
d. Protein yang lebih mudah dicerna merupakan keuntungan praktis untuk makanan bayi.
e. Sangat berguna atau cocok untuk menghilangkan gejala-gejala “stress neurotic indigestion” dan air susu kambing mempunyai nutrient digestibility tinggi.
f. Mempunyai efek laxantif yang lembut, serta kandungan vitamin (A, B komplek dan E), dan mineral (Ca dan P) lebih tinggi.
g. Air susu kambing dapat dipakai sebagai pengganti susu sapi, terutama pada orang yang alergi dengan susu sapi dan untuk orang-orang yang mengalami berbagai gangguan pencernaan.

Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dalam memelihara kambing perah adalah pemenuhan gizi keluarga berupa air susu kambing terutama untuk daerah-daaerah pedesaan. Dilihat dari kandungan protein yang lebih tinggi dari pada susu sapi, maka kemungkinan produksi susu kambing dapat ditingkatkan dan dimasyarakatkan, terutama untuk memenuhi kebutuhan susu di masyarakat yang semakin meningkat, di samping juga untuk meningkatkan pendapatan petani peternak melalui penjualan susu.

Manfaat lain dari pemeliharaan kambing perah adalah sangat mudah dipelihara dan tidak membutuhkan suatu keahlian yang khusus, tidak membutuhkan tanah yang luas ataupun tenaga yang banyak, tidak pilih-pilih dalam mencari makanan sehingga kambing dapat berkembang baik di pedesaan maupun di kota-kota besar yang sulit untuk mendapatkan hijauan makanan ternak yang baik (Zumrotun, 2002).

**Tulisan ini diolah dari berbagai sumber, dan menjadi salah satu bahan tugas penulis pada kuliah Program Pascasarjana manajemen Sumberdaya Peternakan

Artikel Terkait:

Bookmark and Share

0 Komentar:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di blog ini dan jangan lupa tuliskan komentar anda. JANGAN SPAM...Oke!

  © Blog drhyudi by Ourblogtemplates.com

BACK TO TOP