Blog Drh. YUDI Selamat Datang di Blog Drh YudiBlog Drh. YUDI Blog Ini Menyajikan Informasi Tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan. Selamat Membaca dan Terima Kasih Blog Drh. YUDI

Meningkatkan Efisiensi Reproduksi Melalui Program Superovulasi

Superovulasi atau sering juga disebut multipleovulasi adalah sebagai salah satu upaya meningkatkan efisiensi reproduksi, terutama terhadap hewan yang secara alami tergolong beranak tunggal. Istilah superovulasi lebih populer daripada multipleovulasi. Pada multipleovulasi cenderung hanya mengacu pada arti kwantitas atau jumlah yang lebih banyak. Sedang superovulasi dapat meliput kedua pengertian, yaitu kwantitas dan kwalitas atau lebih baik dan lebih banyak.

Dengan pengertian bahwa dalam program superovulasi sekaligus melakukan seleksi, memilih hanya terhadap hewan yang mempunyai nilai genetis superior (dijadikan induk donor) yang dilipatgandakan jumlah sel telurnya setiap kali peristiwa ovulasi. Kemudian dilakukan insemenasi buatan, IB (fertilisasi in vivo) sehingga diperolah embrio dengan kwalitas unggul dan jumlah lebih banyak, yang selanjutnya dicangkok (transfer embrio, TE) pada induk-induk resipen.

Sementara ini superovulasi baru diterapkan pada spesies sapi dalam program breeding untuk menunjang pemberdayaan bioteknologi reproduksi transfer embrio. Berbagai faktor banyak yang mempengaruhi keberhasilan perolehan embrio, antara lain adalah respon individu dari sapi donor tersebut terhadap perlakuan hormonal. Respon individu sapi donor banyak dipengaruhi kecermatan memilih waktu yang tepat, saat terjadinya gelombang folikuler yang terjadi pada setiap siklus birahi.

Pada teori masa lalu gelombang folikuler diperkirakan terjadi pada pertengahan siklus birahi yang sekaligus pertengahan fase luteal, yaitu berkisar antara hari ke 9 sampai ke 12 mengacu pada lamanya siklus birahi sapi yang rata-rata 21 hari (18-24 hari). Hari-hari antara 9-12 itulah yang sementara ini diyakini sebagai hari-hari baik untuk melaksanakan program superovulasi, yang hasilnya ternyata juga tidak pasti atau bersifat untung-untungan. Pada penelitian terbaru ternyata gelombang folikuler tidak selalu terjadi pada petengahan siklus birahi dan pertengahan fase luteal sebagaimana keyakinan selama ini. Lebih dari itu gelombang folikuler juga tidak hanya teradi satu kali saja. Tergantung fertilitas masing-masing individu, pada sapi terdapat tiga pola gelombang folikuler, yaitu masing-masing satu, dua atau tiga gelombang folikuler (Budiono, 2005).

Pada puncak gelombang folikuler inilah saat yang paling ideal untuk melakukan program superovulasi. Terjadinya gelombang folikuler dapat dipantau dengan bantuan peralatan melalui ultrasonografi (USG). Dalam perhitungan perolehan embrio hasil superovulasi dikenal istilah ‘non predictible’ mengacu pada resposibilitas dan fertilitas masing-masing karakteristik sapi donor. Namun demikian program superovulasi tidak bersifat untung-untungan, sepanjang semua standar prosedur operasional yang baku dipatuhi dan dipenuhi sebagaimana mestinya. Semakin terpenuhi persyaratan yang ditentukan dalam SOP, semakin baik hasil perolehan embrio yang didapat, baik kwalitas maupun kwantitasnya.

Meskipun terdapat keterbatasan kemampuan manusia berupa non predictable, hasil perolehan produksi embrio melalui superovulasi dapat di prakirakan dengan berdasarkan logika perhitungan. Antara lain mengacu pada perhitungan dasar rekayasa proses produksi embrio tanpa perlakuan hormonal. Pada setiap kali birahi ( hari ke-0) sapi donor dilakukan insemenasi buatan (IB) secara lege artis, kemudian pada hari ke 7 dilakukan pengambilan embrio (flushing tunggal).

Bila setiap siklus birahi diperoleh satu butir embrio, maka selama satu tahun akan diperoleh sejumlah sekitar 17-18 embrio (satu tahun 365 hari dibagi satu siklus birahi 21 hari). Rekayasa proses dengan melibatkan satu jenis hormone, yaitu PGF-2α factor luteolitik untuk induksi birahi dan induksi ovulasi serta memendekkan siklus birahi. Pada hari ke 7 setelah flushing tunggal, sapi donor tersebut disuntik PGF-2α. Maka 2-4 (rata-rata 3) hari kemudian akan terjadi birahi dan ovulasi. Maka siklus birahi sapi donor tersebut diperpendek dari rata-rata 21 hari menjadi rata-rata 10 hari. Pada setiap birahi diperlakukan IB dan flushing tunggal pada hari ke7. Bila setiap siklus birahi diperoleh satu butir embrio, maka selama satu tahun akan diperoleh sejumlah sekitar 36 embrio (satu tahun 365 hari dibagi satu siklus 10 hari).

Dapat disimpulkan bahwa dengan perlakuan rekayasa flushing tunggal melibatkan satu macam hormone (PGF-2α), diperoleh embrio sekitar 2 kali lipat dibanding tanpa perlakuan hormone, yaitu 36 : (17-18) embrio. Pada program superovulasi melibatkan paling tidak 2 macam hormon, yaitu gonadotropin dan PGF-2α. Hormon gonadotropin yang lazim dipakai adalah FSH, agak jarang PMSG karena pertimbangan tertentu (a.l. bersifat antigenik menimbulkan semacam antibodi/efek PMSG yang panjang) dan bila perlu ditunjang dengan hCG atau LH like efek untuk menimbulkan efek ovulasi-superovulasi serentak yang lebih kuat.

Mengacu pada logika perhitungan diatas, dengan satu macam hormon diperoleh dua kali lipat. Maka berapakah angka harapan perolehan yang layak untuk setiap kali program superovulasi dengan dua macam hormon? Kalau mengacu pada angka dua kali lipat, maka kembali pada logika perhitungan paling tidak didapat 72 (dua kali 36 ) embrio setiap kali superovulasi. Angka yang cukup fantastik dan spektakuler. Mampukah dan mungkinkah, membuktikan memenuhi ambisi itu....... (bersambung)

Sumber: Artikel drh. M. Arifin Basyir (vet-indo.com)


Artikel Terkait:

Bookmark and Share

1 Komentar:

cahyo said...

thanks, bagus artikelnya. saya baca termasuk penangann post partus. saya ada mslh dikit, kalau terjadi wabah sakit mata, gmn penangannya? obat apa yg hrs dibeli?

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di blog ini dan jangan lupa tuliskan komentar anda. JANGAN SPAM...Oke!

  © Blog drhyudi by Ourblogtemplates.com

BACK TO TOP