Blog Drh. YUDI Selamat Datang di Blog Drh YudiBlog Drh. YUDI Blog Ini Menyajikan Informasi Tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan. Selamat Membaca dan Terima Kasih Blog Drh. YUDI

Pengembangan Peternakan Terpadu

Pembangunan sub-sektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan pertanian yang bertujuan untuk mencapai suatu kondisi peternakan yang tangguh, yang dicirikan dengan kemampuan mensejahterakan para petani peternak dan kemampuannya dalam mendorong pertumbuhan sektor terkait secara keseluruhan. Pembangunan peternakan diarahkan untuk meningkatkan mutu hasil produksi, meningkatkan pendapatan, memperluas lapangan kerja serta memberikan kesempatan berusaha bagi masyarakat di pedesaan. Peternakan yang tangguh memerlukan kerja keras, keuletan dan kemauan yang kuat dari peternak itu sendiri agar mencapai tujuan yang diinginkan. Keberhasilan yang ingin dicapai akan memacu motivasi peternak untuk terus berusaha memelihara ternak sapi secara terus menerus dan bahkan bisa menjadi mata pencaharian utama.

Lombok Timur sebagai kabupaten yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup dari sektor pertanian termasuk peternakan, menyadari potensi sumber daya peternakan yang besar. Kegiatan pembangunan di sektor ini memegang peranan sangat penting dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat masyarakat melalui peningkatan pendapatan dan taraf hidup. Pembangunan peternakan memiliki peran penting dan strategis karena kegiatan beternak bagi masyarakat khususnya di pedesaan sudah berlangsung sejak dulu sebagai warisan nenek moyang. Beternak tak terlepas dari kegiatan sehari-hari dari bertani sebagai sumber mata pencaharian, dan hubungan bertani dan beternak tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Hubungan mutualisme bertani- beternak tidak terlepas dari fungsi ternak dalam membantu petani dalam pengolahan sawah (membajak sawah).

Peran penting dan strategis pembangunan peternakan terutama dalam upaya penyediaan bahan pangan asal hewan berikut hasil olahannya, sebagai komoditas perdagangan antar daerah, sebagai usaha masyarakat dan membuka lapangan kerja, sebagai tabungan masyarakat dan yang tak kalah pentingnya sebagai sumber pendapatan asli daerah (PAD). Secara umum pembangunan peternak bertujuan meningkatan produktifitas ternak dalam kegiatan pemenuhan gizi dan arti ekonomi secara umum dalam usaha peningkatan kesejahteraan manusia.

Akan tetapi kegiatan beternak yang dilakukan masih banyak bersifat tradisional tanpa mengenal teknis dan manajemen beternak yang cukup. Beternak belum sepenuhnya disadari sebagai sumber pendapatan yang dapat mencukupi kebutuhan dan kemudahan-kemudahan dari beternak. Beternak oleh sebagian masyarakat masih dianggap sebagai pekerjaan sampingan selain bertani sebagai pokok pekerjaan.

Menyadari kenyataan demikian, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Timur sebagai salah satu dinas teknis yang melakukan pembinaan dan leading sector berbasis pertanian dan peternakan harus mampu memberikan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi peternakan kepada masyarakat. Dimana pengetahuan tentang tata cara beternak (manajemen peternakan) dapat diadopsi oleh petani-peternak dan masyarakat luas guna menggugah minat untuk beternak.
Untuk itu keberadaan suatu unit atau sentra kegiatan peternakan terpadu sangat diperlukan dan sebagai media atau tempat belajar dan magang bagi petani-peternak dan masyarakat umum yang menaruh minat terhadap bidang peternakan.

Taman Ternak Rakam ketika zaman Orde Baru dikenal masyarakat sebagai tempat percontohan bagi pemeliharaan berbagai jenis ternak yang waktu itu baru dikenal masyarakat. Misalnya seperti pemeliharaan ayam petelur, kambing PE dan sebagai sentra pembibitan ayam ras, dan juga sebagai tempat pengenalan dan pembibitan berbagai jenis rumput untuk pakan ternak. Seiring dengan perubahan zaman dan kurangnya perhatian pemerintah daerah terutama dana pemeliharaan menyebabkan keberadaan Taman Ternak Rakam lambat laun meredup dan terkesan terbengkalai.

Atas dasar inilah maka usaha menghidupkan kembali kegiatan Taman Ternak sebagai satu wahana yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat memperkaya pengetahuan dan teknologi peternakan serta informasi-informasi peternakan lainnya harus diusahakan dengan sungguh-sungguh. Taman ternak diharapkan berfungsi sebagai 1). tempat belajar dan alih informasi pengetahuan peternakan, baik manajemen maupun teknologi sederhana yang dapat diterapkan dengan mudah oleh petani-peternak. 2). tempat praktek atau magang, serta tempat pengembangan inovasi peternakan terapan maupun penemuan teknologi peternakan baru.
3). selain sebagai sarana pembelajaran diharapkan unit atau sentra ini dapat memberikan kontribusi terhadap daerah berupa pendapatan asli daerah (PAD).
Untuk menghidupkan kembali Taman Ternak Rakam sebagai sentra peternakan terpadu yang dilaksanakan secara profesional, maka beberapa kegiatan awal yang dapat dilaksanakan adalah:
1. Penggemukan Sapi Bali
Kegiatan ini dilaksanakan mengingat potensi yang ada di Taman Ternak Rakam yaitu pemanfaatan lahan yang tersedia untuk rehabilitasi/pembuatan kandang dan lahan untuk pakan. Ketersediaan lahan rumput atau hijauan makanan ternak (HMT) seluas kurang lebih 40 are.
Sistem penggemukan sapi Bali yang akan dilakukan adalah sistem kereman yaitu sapi dikandangkan terus menerus selama masa waktu penggemukan dan sapi-sapi tersebut akan mendapatkan pelayanan kesehatan hewan secara intensif. Sebagai kegiatan awal dipilih Sapi Bali sebagai model penggemukan. Jumlah ternak sapi Bali yang akan dipelihara 20 ekor dengan masa pemeliharaan 6 bulan. Sapi Bali yang akan digemukkan adalah sapi yang berumur 1,5 – 2 tahun dengan perkiraan berat badan 250-300 kg. Sedangkan untuk target pertumbuhan berat badan harian mencapai 0,6 kg/ekor/hari, dengan demikian perkiraan berat badan selama 180 hari meningkat 108 kg per ekor.

Sapi Bali merupakan bangsa sapi asli Indonesia dikembangkan dari banteng liar yang mengalami proses domestikasi terus menerus. Sapi Bali sudah lama diternakkan oleh masyarakat di Indonesia dan tersebar luas di NTT, NTB, Maluku, Kalimantan, Sulawesi Selatan dan beberapa daerah lainnya. Sapi ini juga telah di ekspor ke berbagai negara seperti Malaysia, Filipina, Australia dan Timor Leste.
Sapi Bali memiliki keunggulan sehingga masyarakat senang memeliharanya, diantaranya kemampuan beradaptasi yang cepat dengan kondisi lingkungan yang baru dan bereaksi positif terhadap perlakuan pemberian pakan. Pertumbuhan berat badan termasuk sedang, pemeliharaan sederhana hanya dengan pemberian rumput atau secara tradisonal. Pertambahan bobot badan sapi Bali rata-rata 280-820 gram/ekor/hari, tergantung cara pemeliharaan dan pemberian pakan.

Menurut penelitian, pemeliharaan sapi dengan hanya memberikan rumput lapangan tanpa memberikan makanan tambahan laju pertambahan berat badannya adalah 280 gram/ekor/hari. Penelitian yang dilakukan IPB dengan pemberian rumput ditambah pemberian konsentrat selama 154 hari didapatkan pertambahan berat badan harian 0,66 kg/ekor/hari. Sedangkan beberapa penelitian menyebutkan laju pertambahan berat badan harian dapat mencapai 820 gram/ekor/hari dengan pemberian rumput ditambah pucuk tebu dan konsentrat 1 %.

2. Pengolahan Limbah Menjadi Pupuk Organik Padat
Model penggemukan sapi yang direncanakan bersifat terpadu dengan pemanfaatan limbah peternakan sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik baik menggunakan metode sederhana maupun pemanfaatan Alat Pengolah Pupuk Organik (APPO). Untuk dapat memproduksi pupuk sarana dan prasarana yang dibutuhkan adalah pengadaan mesin atau alat pengolah pupuk padat organik (APPO) minimal kapasitas 600 kg/jam atau lebih besar, gudang pengolahan dan kebutuhan lainnya.
Potensi pembuatan pupuk organik ini dimungkinkan dengan kecukupan bahan berupa feses sapi penggemukan sebanyak 20 ekor tersebut. Asumsi awal, jika 20 ekor sapi rata-rata setiap harinya menghasilkan feses 5 kg maka jumlah yang tersedia per hari berjumlah 100 kg.

3. Pembuatan Biogas
Sisa limbah peternakan berupa feses dan air kencing (urine) sapi dapat diolah menjadi biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber penerangan kandang dan untuk memasak (pengganti minyak tanah).
Akhirnya untuk menghidupkan kembali Taman Ternak Rakam diperlukan keinginan dan dukungan dana yang kuat. Pada kegiatan awal dibutuhkan dana investasi yang cukup besar akan tetapi mengingat fungsi dan manfaatnya ke depan dana yang besar sebanding dengan outputnya selain sebagai sumber PAD, juga bermanfaat dalam pemberdayaan masyarakat khususnya petani-peternak, terutama dalam peningkatan kemampuan beternak untuk mencapai kesejahteraan hidup.

Artikel Terkait:

Bookmark and Share

0 Komentar:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di blog ini dan jangan lupa tuliskan komentar anda. JANGAN SPAM...Oke!

  © Blog drhyudi by Ourblogtemplates.com

BACK TO TOP