Blog Drh. YUDI Selamat Datang di Blog Drh YudiBlog Drh. YUDI Blog Ini Menyajikan Informasi Tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan. Selamat Membaca dan Terima Kasih Blog Drh. YUDI

Aneh, Penemu Kloning Kok Dituntut Pemilik Lisensi Kloning

JAKARTA, SELASA - Inilah keganjilan terbesar dalam pengaturan hak kekayaan intelektual (Haki) yang berlaku di dunia. Sebuah perusahaan yang memiliki lisensi untuk mengkloning hewan peliharaan menuntut perusahaan yang berhasil mengkloning hewan peliharaan untuk pertama kalinya.

Perseteruan dipicu saat perusahaan AS, BioArts International, akan memulai komersialisasi usaha kloning anjing. Minggu lalu, perusahaan yang didirikan Lou Hawthorne ini menuntut RNL Bio, perusahaan bioteknologi di Korea Selatan, untuk menghentikan kloning hewan peliharaan.

Hawthorne menuding RNL Bio tidak memegang lisensi untuk mengkloning anjing pieliharaan. BioArts mengklaim sebagai satu-satunya pemilik lisensi untuk mengkloning anjing, kucing, dan hewan langka di 27 negara, termasuk Korea Selatan, menggunakan teknik yang dipakai untuk kloning sapi Dolly sejak tahun 1998. Padahal, dari tahun 1998 hingga 2006, perusahaan Hawthorne yang dulunya bernama Genetic Savings & Clone gagal melakukan kloning anjing. Perusahaan tersebut bahkan akhirnya ditutup.

Kloning anjing baru berhasil dilakukan pertama kalinya di dunia pada tahun 2005 oleh tim peneliti Universitas Nasional Seoul (SNU) di Korea Selatan di bawah pimpinan Hwang Woo-suk. Namun, karena skandal pemalsuan data penelitian, Hwang dipecat dari SNU. Penelitian kloning anjing kemudian dipimpin Byeong Chun Lee. Tim yang dipimpin Lee bekerja sama dengan RNL Bio untuk mengomersialkan kloning anjing.

RNL Bio berhasil mengkloning beberapa jenis anjing, antara lain anjing pelacak pesanan Dinas Bea dan Cukai setempat, anjing pengendus kanker, dan menerima pesanan kloning anjing peliharaan milik seorang wanita di AS dengan ongkos 150.000 dollar AS.

Sementara itu, Hwang melalui laboratorium pribadinya di Sooam, Korea Selatan, membantu Hawthorne mewujudkan mimpinya dengan mengkloning Missy, anjing peliharaan Hawthorne yang telah mati. Sejak keberhasilan tersebut, Hawthorne mengaktifkan kembali usaha kloningnya dan mulai mengomersialkannya Juli ini.

Perseteruan ini memang bukan antara BioArts dan Bio RNL, tapi juga antara Hwang dan Lee. Pada dasarnya, tanpa peran peneliti-peneliti Korea Selatan, baik Hwang maupun bekas timnya dulu, kloning anjing mungkin belum dapat diwujudkan sampai sekarang.

Teknik kloning anjing sama dengan kloning sapi yang pertama kali menghasilkan Dolly. Prosedur dasarnya adalah menyisipkan DNA ke dalam sel telur yang inti selnya kosong untuk dikembangbiakkan di rahim induk semang (surrogate mother). Cara tersebut berhasil dilakukan pada lusinan spesies lainya, antara lain kuda dan kucing.

Namun, kloning anjing termasuk sulit dilakukan. Untuk melakukannya, para peneliti harus mengambil sel telur matang. Jika pada hewan lain sel telur matang terletak di ovarium, pada anjing sel telur matangnya adalah saat telur itu bergerak ke rahim. Untuk kmengambilnya butuh perhitungan waktu yang sangat tepat. Para peneliti Korea Selatan berhasil mengembangkan teknik pengukuran konsentrasi progesteron pada darah anjing betina untuk menentukan waktu kematangan sel telur. Teknik ini telah dipatenkan.

Sejauh ini belum ada laporan tim peneliti dari negara lain yang berhasil mengkloning anjing. Teknologi kloning anjing yang tak semudah kloning sapi, babi, kucing, dan kuda masih dikuasai Korea Selatan.

WAH
Sumber : Kompas.com (Nature)


Artikel Terkait:

Bookmark and Share

0 Komentar:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di blog ini dan jangan lupa tuliskan komentar anda. JANGAN SPAM...Oke!

  © Blog drhyudi by Ourblogtemplates.com

BACK TO TOP