Blog Drh. YUDI Selamat Datang di Blog Drh YudiBlog Drh. YUDI Blog Ini Menyajikan Informasi Tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan. Selamat Membaca dan Terima Kasih Blog Drh. YUDI

Puluhan Sapi dan Kerbau di Ende Mati Mendadak

Puluhan ternak sapi, kerbau, kambing, babi, dan kuda milik warga di Kecamatan Maukaro, Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, mati mendadak. Penyakit itu diduga akibat penularan dari kasus yang terjadi di Wolowae, Kabupaten Nagekeo, Flores, yang sudah terjangkit lebih dulu sejak bulan Juni. Kawasan Wolowae memang berbatasan langsung dengan Maukaro.

"Awalnya, lima sapi mati mendadak pada bulan Juli, kemudian beruntun hingga yang terakhir tanggal 18 Agustus, dalam satu hari mati lagi sapi tiga ekor," kata Camat Maukaro Johanes Nislaka, Kamis (20/8), di Ende.

Menurut Johanis, gejala hewan yang mati itu memiliki tanda-tanda terserang penyakit ngorok atau Septichaemia epizooticae (SE). Gejala ternak yang mati itu pun serupa dengan kasus di Wolowae antara lain demam tinggi, batuk, dari mulut hewan mengeluarkan banyak air liur, kepala dan leher bengkak, susah bernafas, serta mengeluarkan suara ngorok cukup keras.

Total ternak yang mati dalam kurun waktu tersebut di Maukaro sebanyak 39 ekor yang meliputi sapi 21 ekor, kerbau 3 ekor, kambing seekor, babi 9 ekor, dan kuda 5 ekor. Sedangkan berdasarkan pendataan sementara aparat kecamatan Wolowae, ternak warga yang mati meliputi sapi 49 ekor, kerbau 21 ekor, seekor kuda, dan 9 babi.
"Kondisi sekarang di musim panas memang pakan ternak cukup sulit, sehingga diperkirakan kematian mendadak hewan karena faktor ini, yang membuat daya tahan tubuh ternak rentan terhadap penyakit," kata Johanis.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan NTT, Maria Geong yang hari ini meninjau langsung ke kota Mbay, Nagekeo, mengatakan, dari kasus yang terjangkit di Maukaro memang dimungkinkan karena penyebaran dari Wolowae, namun juga dimungkinkan karena faktor setempat.

"Bakteri Pasteurella multocida penyebab SE hidup komensal, yang tinggal secara natural di tenggorokan kerbau. Penyakit itu muncul dipicu seperti kondisi hewan yang stres akibat faktor cuaca yang ekstrim atau pun kekurangan pakan. Sedangkan kondisi saat ini di Maukaro banyak kekeringan, sehingga pakan ternak cukup sulit," kata Maria.

Dia juga men gimbau masyarakat untuk tidak panik, karena penyakit ini tidak menular ke manusia. Namun tetap harus ditanggulangi, karena penyakit ini berisiko pada kematian ternak.

Namun, Maria juga mengingatkan perlunya antisipasi jangan sampai kasus itu meluas seperti ke Kabupaten Ngada yang berbatasan langsung dengan Nagekeo. Apalagi di Flores, kawasan Ngada dan Nagekeo amat potensial ternak.

Sumber: Kompas.com

Artikel Terkait:

Bookmark and Share

0 Komentar:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di blog ini dan jangan lupa tuliskan komentar anda. JANGAN SPAM...Oke!

  © Blog drhyudi by Ourblogtemplates.com

BACK TO TOP