Blog Drh. YUDI Selamat Datang di Blog Drh YudiBlog Drh. YUDI Blog Ini Menyajikan Informasi Tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan. Selamat Membaca dan Terima Kasih Blog Drh. YUDI

Mengurangi Dampak Pandemi Flu H1N1

Pandemi flu A-H1N1 akhirnya datang juga. Delapan pasien telah terkonfirmasi. Kita tidak perlu panik karena pandeminya masih ringan. Yang perlu diwaspadai adalah virus itu berubah lebih mematikan.
Hingga 1 Juli 2009, jumlah resmi kasus terkonfirmasi H1N1 mendekati 70.000. Negara tertular 117, termasuk Indonesia. Jika dirunut sejak akhir April 2009, jumlah negara tertular rata-rata bertambah dua negara per hari.
Virus flu H1N1 menyebar 2-3 kali lebih cepat dari flu biasa. Daya tularnya (secondary attack rate) 22-33 persen. Artinya, jika satu orang yang sedang tertular bersama 100 orang dalam satu ruangan, akan ada 22-33 orang terserang.
Monster
Data itu menunjukkan, virus H1N1 amat kontagious, penularannya antarorang. Mobilitas manusia yang begitu cepat dan tinggi amat membantu penyebaran virus di seluruh dunia. Memang daya bunuh virus itu masih rendah. Hingga kini, jumlah kematian 311 orang. Kefatalan kasus (case fatality rate/CFR) sekitar 0,4 persen.
Namun, yang jinak itu menyimpan potensi monster. Jika virus itu bersirkulasi luas dan kian banyak orang tertular, peluang virus jinak itu menjadi ganas dan mematikan kian besar.
Hal itu terjadi jika virus bermutasi atau mengalami pertukaran genetik (reassortment) dengan virus flu lain. Mutasi terjadi karena materi genetik virus influenza berubah dengan sendirinya. Untuk virus flu, itu jamak. Materi genetiknya terkenal labil.
Pertukaran genetik terjadi jika virus H1N1 menginfeksi orang yang pada saat sama tertular virus influensa lain. Virus itu bisa saja virus flu burung H5N1, yang endemik di Indonesia, atau virus flu lain. Proses itu dapat terjadi pada hewan, terutama babi.
Potensi itu kian besar jika kasus flu A-H1N1 terjadi di negara-negara berkembang. Bahwa selama ini dapat dideteksi cepat, itu karena letupan awal terjadi di negara-negara yang mempunyai sistem surveilans ciamik. Tanda-tanda awal tabiat virus cepat diketahui, mendorong respons. Dampak pandemi tertekan.
Jika kian meluas di negara-negara berkembang dengan sistem surveilans yang seadanya, potensi virus menjadi lebih ganas akan tak termonitor dengan cepat (real-time). Akhirnya dapat terjadi bum!. Jumlah korban naik.
Jangan panik
Pelajaran berharga dari informasi tentang virus H1N1 itu adalah betapa cepat kajian virus itu dilakukan. Informasi tentang virus sudah tersedia untuk publik dengan kecepatan yang wow. Dalam waktu dua bulan, jumlah virus yang dikaji di seluruh dunia mendekati 500. Kerja sama ilmuwan internasional berlangsung lancar. Isu benefit-sharing tidak terdengar. Semua bekerja demi kemaslahatan umat manusia.
Prakondisi untuk menjadi monster ada di Indonesia. Kepadatan penduduk tinggi, terutama di Jawa dan Bali. Ternak babi juga cukup padat di beberapa provinsi. Berbagai virus influenza ada. Flu burung bahkan masih endemik tinggi di hampir semua wilayah. Jika virus H1N1 ”berkoalisi” dengan virus flu burung, virus baru dapat menjadi monster berdaya sebar dan tular cepat—ciri H1N1—berdaya bunuh tinggi dari flu burung.
Sistem surveilans Indonesia lebih banyak reaktif, sesuai perkembangan, dan berbasis proyek. Aktivitas diintensifkan jika ada kasus dan anggaran cair. Gejala penyakit yang umumnya ringan, sembuh dengan sendirinya (self limited) dan sebagian besar orang tertular bahkan tidak sakit sama sekali (subklinis) menyebabkan pelacakan kasus sulit. Ini bukan hal buruk. Di AS, jumlah kasus yang tertular diperkirakan melebihi satu juta orang.
Kondisi sosial ekonomi menyebabkan surveilans akan sulit. Gejala-gejala flu ringan tidak akan menyebabkan orang melaporkan diri.
Transparansi
Transparansi informasi juga hal serius di Indonesia. Pemegang kebijakan cenderung menutup-nutupi kasus yang sebenarnya. Dalam kasus pandemi, transparansi justru menguntungkan. Dengan demikian, masyarakat dapat mengalkulasi risiko sebenarnya.
Sistem surveilans harus digenjot habis. Selain menjaring jumlah kasus sebenarnya, deteksi sinyal virologis amat penting dilakukan. Apakah virus itu masih ringan atau sudah berdaya bunuh tinggi. Hal itu paling mudah dilakukan dengan mempelajari susunan materi genetik virus. Istilahnya sekuensing.
Dana harus disediakan. Reagensia diagnostik dan tenaga terlatih ditambah. Peneliti dan ilmuwan dilibatkan penuh.
Masyarakat tidak perlu panik. Tips sederhana, jangan bepergian jika flu! Istirahat yang baik membantu mengurangi penyebaran dan mempercepat kesembuhan. Lakukan etika batuk dan bersin: tutup hidung dan mulut dengan kertas tisu atau sapu tangan. Jika harus bepergian, pakailah masker yang baik! Jika curiga flu H1N1, datangi klinik-klinik kesehatan agar diperiksa.
I Gusti Ngurah Mahardika Ahli Virus dan Dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, Bali

Sumber: Kompas.com


Artikel Terkait:

Bookmark and Share

0 Komentar:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di blog ini dan jangan lupa tuliskan komentar anda. JANGAN SPAM...Oke!

  © Blog drhyudi by Ourblogtemplates.com

BACK TO TOP