Blog Drh. YUDI Selamat Datang di Blog Drh YudiBlog Drh. YUDI Blog Ini Menyajikan Informasi Tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan. Selamat Membaca dan Terima Kasih Blog Drh. YUDI

Mengenal Virus Influenza A

Keluarga Orthomyxoviridae terdiri dari genus Influenzavirus A dan B, mempunyai dua spesies yaitu virus influenza A dan influenza B, serta influenza C (satu spesies yaitu virus influenza C).
Virus influenza A sebenarnya sejak dulu sangat menarik perhatian para dokter hewan, peneliti kesehatan dan ilmuwan karena seringkali menyebabkan kasus flu yang dapat dan pernah menimbulkan pandemik. Sebut saja flu babi dan flu burung, kedua penyakit ini ditimbulkan oleh virus influenza tipe A tersebut dan selain itu karena galur virus yang berbeda menyebabkan influenza pada babi, kuda, unggas dan manusia. Virus influenza mamalia menyebabkan infeksi lokal, biasanya terbatas pada saluran pernafasan, sedangkan infeksi oleh virus influenza unggas menyebabkan infeksi pada saluran pencernaan. Virus influenza B dan C menyebabkan penyakit pada manusia tetapi tidak pada spesies ternak yang penting.

Virus influenza babi diisolasi pada tahun 1931 dan virus influenza manusia tahun 1933. Sedangkan virus influenza pada unggas baru berhasil diidentifikasi pada tahun 1955 meskipun sampar unggas telah dikenal di Eropa sejak abad ke-19. Virus influenza kuda pertama kali diisolasi pada tahun 1956.

Sifat Virus Influenza A
Virion menciri dari virus influenza A adalah membulat dan berdiameter sekitar 100 nm, dan bentuk yang lebih besar dan lebih tidak beraturan lebih sering ditemukan. Bentuk nukleokapsid helikoidal dan spiral berdiameter 9-10 nm. Virus berbentuk bundar atau lonjong.
Mempunyai 8 protein virion, lima merupakan protein berstruktur dan tiga berkaitan dengan polymerase RNA. Yang terbanyak adalah protein matriks (M1) yang tersusun dari banyak monomer kecil. Protein kecil lain M2 terdapat pada sejumlah kecil cetakan dan menonjol sebagai pori-pori melewati membrane, merupakan tempat bekerjanya obat amantidin.

Virus ini mempunyai dua jenis peplomer, molekul hemaglutinin (H) bentuk batang yang merupakan trimer dan molekul neuraminidase (N) bentuk jamur yang merupakan tetramer. Kedua molekul H dan N itu merupakan glikoprotein dann membawa epitop khusus.
Ketiga spesies virus influenza A, B dan C tidak mempunyai antigen yang sama. Virus influenza A dibedakan atas subtipe yang semuanya mempunyai nukleoprotein dan protein matriks yang berkerabat tetapi berbeda dalam hemaglutinin (H) dan neuraminidasenya (N). Sejauh ini telah ditemukan 14 subtipe dari H (H1-H14) dan 9 subtipe dari N (N1- N9) pada unggas, beberapa diantaranya ditemukan dalam berbagai kombinasi antara H dan N pada berbagai spesies mamalia. Karena konstelasi gen yang baru dapat terjadi melalui penggabungan kembali genetik, setiap kombinasi subtipe H dan N secara teori mungkin terjadi, tetapi hanya terbatas pada subtipe yang sejauh ini ditemukan pada spesies mamalia, walaupun semua subtipe terdapat pada unggas.
Virus influenza peka terhadap pengaruh fisis (suhu tinggi 56°C selama 30 menit, membeku dan meleleh, sinar ultraviolet), pH asam (pH 3), dan pelarut lemak/detergen. Karena itu virus sangat stabil pada kondisi lingkungan biasa.

Replikasi Virus
Hemaglutinin virus influenza (HA) terikat pada reseptor glikoprotein yang rantai samping oligosakaridanya berujung asam sialat dan virionnya diperoleh melalui endositosis. Pada sel yang memungkinkan untuk berkembang (permisif), HA diaktifkan melalui penyibakan menjadi dua bagian, HA1 dan HA2 yang masih berkaitan melalui ikatan disulfide. Perubahan konformasi HA pada pH endosoma (pH 5) mendorong terjadinya penggabungan membran, dan memicu penembusan.

Nukleokapsid bermigrasi ke dalam inti tempat mRNA virus ditranskripsi melalui mekanisme yang unik. Dalam mekanisme itu endonuklease virus yang terkait denga protein B2 menyibak penutup 5'-metilguanosin plus nukleotida 8-15 dari RNA inti heterogen. Dari ke-8 transkripsi RNA primer yang dihasilkan, 6 merupakan mRNA monosistronik dan ditranslasi secara langsung menjadi protein yang mewakili H, N, NP, dan ketiga komponen polymerase virus PB1, PB2 dan PA. Dua transkrip RNA primer lainnya mengalami penyambungan, masing-masing menghasilkan dua mRNA yang ditranslasi pada kerangka pembacaan berbeda untuk menghasilkan M1, M2 dan NS1, NS2.

Polipeptida H dan N mengalami glikosilasi dan asilasi dan virus menjadi dewasa dengan penguncupan dari permukaan atas sel. Tidak diketahui melalui mekanisme apa cetakan dari masing-masing ke-8 segmen RNA itu diseleksi untuk digabungkan ke dalam virion dan dikaitkan pada satu nukleokapsid. Partikel penyela defektif yang mula-mula dikenal sebagai "virus tak lengkap" sering dihasilkan setelah terjadi infeksi dengan tingkat pelipatgandaan tinggi.

Patogenesis dan Imunitas
Patogenesa dari infeksi virus influenza babi dan kuda mirip dengan manusia. Infeksi terjadi melalui saluran pernafasan, melalui butir air yang keluar pada waktu batuk dan bersin. Virion melekat pada silia sel epitel hidung, trakea dan bronkus, atau dapat dimasukkan secara langsung ke dalam alveoli. Dalam waktu dua jam antigen virus dapat ditemukan dalam sel tersebut. Virus menyebar ke seluruh saluran pernafasan dalam waktu 1-3 hari. Viremia sementara dapat ditemukan pada influenza kuda tetapi dampaknya jarang terjadi. Nekrosis sel epitel timbul bersamaan dengan tanda klinis terparah, demam dan pneumonia. Infeksi virus influenza menurunkan daya tahan terhadap infeksi bakteri sekunder yang dapat menyebabkan bronkopneumonia.

Diagnosa Laboratorium
Semua virus influenza bereplikasi dengan sempurna pada telur ayam bertunas berembrio umur 10 hari, melalui inokulasi lewat amnion atau alantois dan diinkubasi pada 35-37°C selama 3-4 hari. Replikasi virus dapat diketahui melalui adanya aktivitas hemaglutinasi dalam zalir amnion atau alantois yang diambil untuk tujuan tersebut. Sistem biakan sel yang digunakan untuk riset meliputi fibroblast embrio ayam dan sel lestari ginjal anjing Madin-Darby ("Madin-Darby canine kidney cell line-MDCK).
Bahan terbaikk untuk pengisolasian virus dari babi dan kuda adalah lender hidung yang diambil pada saat infeksi dini, atau bahan paru-paru yang didapatkan melalui nekropsi. Diagnosa serologis retrospeksi dapat dilakukan pada babi, kuda dan manusia dengan menggunakan uji hambatan hemaglutinasi menggunakan serum sepasang.



Artikel Terkait:

Bookmark and Share

0 Komentar:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di blog ini dan jangan lupa tuliskan komentar anda. JANGAN SPAM...Oke!

  © Blog drhyudi by Ourblogtemplates.com

BACK TO TOP