Blog Drh. YUDI Selamat Datang di Blog Drh YudiBlog Drh. YUDI Blog Ini Menyajikan Informasi Tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan. Selamat Membaca dan Terima Kasih Blog Drh. YUDI

Waspadai Rabies Masuk NTB

Secara historis Bali merupakan daerah bebas Rabies seperti disebutkan dalam Staatblad (Hondsdolheids Ordonantie Staatblad ) No. 451 dan 452 tahun 1926. Diperkuat dengan SK Menteri Pertanian No. 1096/Kpts/TN.120/10/1999, Bali ditetapkan sebagai daerah bebas rabies di Indonesia.

Namun kini setelah bebas lebih dari seabad, Bali tertular virus rabies dan dinyatakan sebagai daerah berstatus wabah rabies sejak 1 Desember 2008 melalui Peraturan Menteri Pertanian No. 1637 Tahun 2008. Tindak lanjut dari Peraturan Menteri Pertanian tersebut, Gubernur Bali mengeluarkan peraturan Gubernur No. 88/2008 tentang penutupan sementara pemasukan dan pengeluaran anjing, kucing, kera atau hewan sebangsanya dari dan ke provinsi Bali. Penetapan sebagai daerah wabah rabies dikeluarkan setelah melalui kajian gejala klinis yang tampak pada anjing sebagai hewan penular rabies (HPR) dan manusia sebagai korban gigitan.

Rabies di Bali terungkap setelah 4 orang dari tiga desa di Bali digigit anjing selama periode September-Nopember 2008. Dari 4 orang itu, 2 positif tertular rabies, dan 2 orang lain memiliki riwayat digigit anjing. Sejak dinyatakan sebagai daerah rabies tindakan pemberantasan telah dilakukan mulai dari eliminasi anjing liar tak bertuan sampai tindakan vaksinasi pada anjing yang dipelihara dengan baik (Kompas, 6 Desember 2008).

Kenapa Bali sangat serius terhadap rabies?. Jawabannya adalah Bali memiliki populasi anjing yang tinggi, diperkirakan sekitar 540.000 dengan kepadatan 96 ekor per kilometer persegi. Ini berarti penanganan rabies di Bali harus dilakukan dengan cepat dan tepat dengan konsekuensi penyiapan metoda pencegahan dan pemberantasan serta biaya yang tentunya tidak sedikit untuk menghindari penularan lebih jauh meskipun saat ini baru dua kabupaten/kota yang dinyatakan tertular yaitu Kabupaten Badung dan Kota Denpasar, akan tetapi tujuh kabupaten lainnya menjadi daerah terancam. Bali juga merupakan pusat pariwisata utama, di mana dengan adanya rabies akan mempengaruhi tingkat kunjungan wisatawan apalagi menurut OIE (Office International des Epizooties / Badan Kesehatan Hewan Dunia) bahwa rabies di negara berkembang merupakan penyakit nomer dua paling ditakuti wisatawan mancanegara setelah penyakit malaria.

Lalu bagaimana dengan NTB ?. Ada dua hal penting yang harus menjadi perhatian kita dalam menyikapi adanya rabies di Bali. Pertama, secara geografis NTB dekat dengan Bali dan NTB juga salah satu daerah wisata serta memiliki populasi anjing liar yang cukup tinggi maka rabies harus diwaspadai. Kedua, dengan dinyatakannya Bali sebagai daerah wabah rabies baru maka sebenarnya saat ini NTB berada di tengah-tengah 2 daerah rabies, yaitu Bali dan NTT khususnya Pulau Flores yang sejak tahun 1997 terinfeksi rabies dan banyak menimbulkan korban manusia.
Dua hal di atas harus lebih diwaspadai oleh kita semua di NTB dengan mempersiapkan tindakan pencegahan, dan penyadaran kepada masyarakat (public awareness) terhadap rabies.

Rabies dan Kesehatan Masyarakat
Rabies di Indonesia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius mengingat meningkatnya kasus-kasus gigitan oleh hewan yang tersangka atau menderita rabies, di samping itu hingga saat ini belum ditemukan obat yang tepat untuk menolong penderita rabies, sedangkan perluasan daerah rabies berjalan terus. Rabies sangat berbahaya karena hampir selalu menyebabkan kematian (always almost fatal) setelah timbul gejala klinis dengan tingkat kematian sampai 100%.

Ressang (1983), melaporkan kejadian rabies dari tahun 1977-1978 tercatat 142 kasus rabies pada manusia. Sedangkan selama kurun waktu 1979-1983 jumlah kasus rabies pada manusia mencapai 298 kasus dengan rata-rata 60 kasus per tahun. Korban manusia diperkirakan terus bertambah seiring perluasan daerah tertular. Pada dekade Sembilan puluhan dimana beberapa daerah tertular seperti Pulau Flores, NTT yang dilaporkan selama periode 1997-2005 korban manusia mencapai 149 orang (Dinas Peternakan Provinsi NTT, 2006).

Kewaspadaan dan Pencegahan
Langkah pencegahan bagi NTB sebagai daerah yang masih berstatus bebas yaitu meningkatkan kewaspadaan dini (early warning system) dengan melakukan surveilans. Selain itu ada baiknya mempersiapkan tindakan karantina yang ketat terhadap pemasukan hewan yang berpotensi sebagai pembawa virus rabies seperti anjing, kucing, kera dan hewan sebangsanya mengacu pada Keputusan Menteri Pertanian No. 1096/Kpts/TN.120/10/1999, tentang pemasukan anjing, kucing, kera dan hewan sebangsanya ke wilayah/daerah bebas rabies di Indonesia.

Peranan Pemerintah Daerah Propinsi/Kabupaten dan Kota sangat diharapkan terutama dalam mengeluarkan peraturan-peraturan terutama dalam menjaga daerah bebas supaya tetap bebas, seperti yang dilakukan Pemda Lombok Timur dengan keluarnya Keputusan Bupati No. 188.45/30/PP/2009 Tentang Pembentukan Tim Terpadu Penanganan dan pencegahan Penyakit Rabies di Kabupaten Lombok Timur.

Menurut Keputusan tersebut langkah-langkah strategis yang akan diambil meliputi pengawasan yang ketat terhadap lalu lintas hewan, penyuluhan kepada masyarakat tentang rabies di setiap pelabuhan Laut dan Udara dengan memasang pengumuman tentang larangan membawa anjing, kucing, dank era. Memberikan penjelasan terhadap awak kapal tentang rabies. Penertiban anjing, kucing, kera yang tidak bertuan dan melaporkan segala kejadian yang mengarah ke rabies pada instansi terkait yakni Dinas Pertanian dan peternakan/Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) yang berhubungan dengan hewan dan Dinas Kesehatan yang terkait dengan manusia atau korban gigitan.

Tindakan pencegahan lainnya dapat dilakukan dengan mengeliminasi anjing liar yang dapat menjadi vektor utama dalam menyebarkan virus rabies. Hal yang sangat penting dilakukan juga adalah penyadaran kepada masyarakat melalui penyuluhan atau sosialisasi tentang rabies, sehingga masyarakat memiliki kesadaran akan bahaya penyakit rabies serta ikut bertanggungjawab dalam membantu pengawasan pencegahan. Bagi masyarakat peran serta secara aktif sangat diharapkan terutama orang yang mempunyai sejarah pernah digigit anjing agar melaporkan diri ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan yang memadai.




Artikel Terkait:

Bookmark and Share

2 Komentar:

Anonymous said...

Vetrooo....

s. wahyudi said...

Thank ya dah mampir.....

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di blog ini dan jangan lupa tuliskan komentar anda. JANGAN SPAM...Oke!

  © Blog drhyudi by Ourblogtemplates.com

BACK TO TOP