Blog Drh. YUDI Selamat Datang di Blog Drh YudiBlog Drh. YUDI Blog Ini Menyajikan Informasi Tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan. Selamat Membaca dan Terima Kasih Blog Drh. YUDI

Perlunya Kewaspadaan Terhadap Rabies

Tertularnya Bali sangat mengejutkan dan menunjukkan bahwa kita telah kecolongan lagi seperti mewabahnya Flu Burung beberapa tahun lalu tanpa bisa diantisipasi sejak dini. Dampak dari wabah ini bagi Bali tentu sangat merugikan karena Bali merupakan pusat pariwisata utama dunia, di mana dengan adanya rabies akan mempengaruhi tingkat kunjungan wisatawan apalagi menurut OIE (Office International des Epizooties / Badan Kesehatan Hewan Dunia) bahwa rabies di negara berkembang merupakan penyakit nomer dua paling ditakuti wisatawan mancanegara setelah penyakit malaria.

Bali juga memiliki populasi anjing yang tinggi yakni sekitar 540.000 ekor dengan kepadatan 96 ekor per kilometer persegi, sehingga program pemberantasan harus dilakukan dengan cepat dan tepat baik teknis dan utamanya alokasi dana yang sangat besar harus disiapkan. Gusti Ngurah Mahardika dari FKH Universitas Udayana menyatakan bahwa pulau Bali bisa bebas kembali dari rabies dalam waktu maksimal satu tahun apabila penanganannya diperkuat dan dipercepat. Salah satunya adalah optimalisasi vaksinasi dari daerah terpapar (kabupaten Badung dan kota Denpasar) ke daerah terancam yaitu 7 kabupaten lainnya di Bali (Kompas, 4 Pebruari 2008).

Rabies dan kesehatan masyarakat
Rabies atau juga dikenal sebagai Lyssa, Tollwut, Hydrophobia dan di Indonesia dikenal dengan Anjing Gila adalah infeksi viral dan akut pada susunan saraf ditandai dengan kelumpuhan yang progresif dan berakhir dengan kematian. Rabies merupakan salah satu penyakit zoonosis (menular dari hewan ke manusia) tertua yang pertama kali dikenal di Mesir dan Yunani Kuno sejak tahun 2300 sebelum Masehi.

Rabies ditemukan di sebagian besar dunia, sedangkan negara-negara yang hingga kini bebas dari rabies adalah Australia, Selandia Baru, Inggris, Belanda, Hawaii (Amerika Serikat) dan sejumlah pulau-pulau terpencil di Pasifik. Kejadian rabies di Indonesia sudah lama ditemukan dan hampir semua daerah tertular virus.

Rabies pertama kali ditemukan pada kerbau oleh Esser (1884), anjing oleh Penning (1889), dan pada manusia oleh E.V.de Haan (1894) yang ketiganya ditemukan di Jawa Barat. Selanjutnya beberapa tahun kemudian kasus rabies ditemukan di Sumatera Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur (1953), Sumatera Utara (1956), Sumatera Selatan dan Sulawesi Utara (1958), Sumatera Selatan (1959), Aceh (1970), Jambi dan Yogyakarta (1971), Kalimantan Timur (1974), Riau (1975), Kalimantan Tengah (1978), Kalimantan Selatan (1983), Pulau Flores NTT (1997), Pulau Ambon dan Pulau seram (2003).

Rabies di Indonesia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius karena hampir selalu menyebabkan kematian (always almost fatal) setelah timbul gejala klinis dengan tingkat kematian sampai 100%.

Peningkatan kewaspadaan
Dengan dinyatakannya Bali sebagai daerah wabah baru maka daerah yang masih bebas rabies berdasar SK Menteri Pertanian tahun 1999 saat ini adalah NTB, NTT kecuali Pulau Flores, Maluku, Irian Jaya (sekarang Papua), Kalimantan Barat, Pulau Madura dan sekitarnya, Pulau-pulau di sekitar Pulau Sumetera, Jawa Timur, Yogyakarta, dan Jawa Tengah.

Dari kenyataan-kenyataan tentang rabies tersebut, hal yang penting dilakukan adalah peningkatan kewaspadaan dini terhadap rabies. Kewaspadaan yang tinggi terutama bagi daerah-daerah bebas ditujukan untuk mengantisipasi masuknya wabah melalui perpindahan hewan penular seperti anjing liar yang berpindah tempat, atau dibawa warga ke daerah lain yang belum tertular. Bagi daerah bebas supaya tetap bebas harus menyiagakan diri dengan melaksanakan karantina ketat guna menghindari perpindahan hewan penular

Penyadaran kepada masyarakat (public awareness) melalui penyuluhan atau sosialisasi rabies, sehingga masyarakat memiliki kesadaran akan bahaya penyakit ini harus terus dilakukan terutama bagi masyarakat atau karena profesinya seringkali bepergian seperti nelayan dan awak kapal, yang menurut laporan bahwa terjadinya wabah rabies di Flores ditularkan melalui anjing yang dibawa nelayan setempat secara ilegal dari Pulau Buton, Sulawesi Tenggara.

drh. S. Wahyudi (swwahyudi@gmail.com)




Artikel Terkait:

Bookmark and Share

0 Komentar:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di blog ini dan jangan lupa tuliskan komentar anda. JANGAN SPAM...Oke!

  © Blog drhyudi by Ourblogtemplates.com

BACK TO TOP