Blog Drh. YUDI Selamat Datang di Blog Drh YudiBlog Drh. YUDI Blog Ini Menyajikan Informasi Tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan. Selamat Membaca dan Terima Kasih Blog Drh. YUDI

DogTv, Saluran Televisi Khusus untuk Anjing

Dua bulan setelah debutnya di San Diego, saluran televisi khusus anjing, DogTv, terus berkembang.Saluran tersebut rencananya akan mengudara ke jaringan televisi nasional AS. 

Program televisi yang bebas iklan tersebut bukan ditujukan untuk manusia, melainkan untuk anjing peliharaan yang sepanjang hari ditinggal tuannya di rumah. Saat ini, saluran televisi pertama khusus soal anjing tersebut dinikmati hewan peliharaan di 483.000 rumah di San Diego.

Bintangnya? Tentu saja anjing lain. Isi televisi itu dirancang untuk pemirsa berkaki empat, termasuk suara, warna, dan sudut pengambilan gambar dengan kamera. ”Umumnya anjing senang melihat anjing lainnya di layar,” ujar Beke Luabeach, Kepala Pemasaran DogTv. 

Dia menambahkan, burung, monyet, dan zebra juga populer di layar kaca. Pekan lalu, saluran tersebut mulai menawarkan siaran melalui internet dari situsnya, dogtv.com, dengan biaya 9,99 dollar AS atau sekitar Rp 90.000 per bulan. (Reuters/Joe) 

Sumber: Kompas.com

Read More......
Bookmark and Share

Korsel Waspada Rabies

Korea Selatan menetapkan waspada rabies lantaran temuan pada seekor anjing. Kementerian Peternakan Korsel, menurut wartaYonhap pada Sabtu (14/4/2012), menunjuk temuan di kawasan barat daya Seoul.


Kawasan yang diteliti adalah di peternakan Hwaseong 55. Lantaran temuan itu, kawasan peternakan tersebut diisolasi.


Korsel melaporkan tidak ada kasus rabies yang melanda negeri itu pada 1985 hingga 1992. Pada 1993, ada satu kasus dilaporkan terjadi di Provinsi Gangwon.


Tahun ini, Seoul menyiapkan dana 952 juta won atau setara dengan 840.000 dollar AS untuk vaksin rabies pada hewan. Sementara Korsel menggelontorkan dana 2,4 juta untuk obat antirabies yang dicampurkan pada makanan hewan, seperti anjing. 


Korea Selatan menetapkan waspada rabies lantaran temuan pada seekor anjing. Kementerian Peternakan Korsel, menurut wartaYonhap pada Sabtu (14/4/2012), menunjuk temuan di kawasan barat daya Seoul.


Kawasan yang diteliti adalah di peternakan Hwaseong 55. Lantaran temuan itu, kawasan peternakan tersebut diisolasi. Korsel melaporkan tidak ada kasus rabies yang melanda negeri itu pada 1985 hingga 1992. 


Pada 1993, ada satu kasus dilaporkan terjadi di Provinsi Gangwon. Tahun ini, Seoul menyiapkan dana 952 juta won atau setara dengan 840.000 dollar AS untuk vaksin rabies pada hewan. 


Sementara Korsel menggelontorkan dana 2,4 juta untuk obat antirabies yang dicampurkan pada makanan hewan, seperti anjing. 


Sumber: Kompas.com

Read More......
Bookmark and Share

Indonesia Negara dengan Kasus Flu Burung Terbanyak di Dunia


Kematian pasien flu burung di Bengkulu pekan lalu menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah korban H5N1 tertinggi di dunia, menurut Organisasi Kesehatan Dunia, WHO.
Menurut WHO, dari 349 kematian akibat flu burung di seluruh dunia sejak 2003, 155 diantaranya terjadi di Indonesia.



Pejabat Kementrian Kesehatan Rita Kusriastuti Rabu (07/03) mengatakan bahwa pasien wanita berusia 24 tahun di Bengkulu tersebut merupakan korban kelima flu burung di Indonesia tahun ini.

Dua korban meninggal dunia sebelumnya adalah seorang bocah berusia 12 tahun di Badung, Bali dan seorang perempuan berusia 19 tahun di Banten.

Sejak 2003, ada 186 kasus penularan flu burung terhadap manusia di Indonesia dan hampir 80 persen berakhir dengan kematian.

Pemerintah sampai saat ini belum mencabut status Kondisi Luar Biasa atau KLB untuk flu burung.

Virus ini menyebar dari unggas ke manusia melalui kontak langsung, tetapi pada ahli mengkhawatirkan kemungkinan adanya mutasi virus sehingga dapat menular dari manusia ke manusia.

Berdasarkan laporan WHO yang dirilis di situs resmi organisasi tersebut hari ini, selain Indonesia kasus penularan flu burung ke manusia juga terjadi di Bangladesh.

Kementrian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga Bangladesh mengatakan ketiga pasien yang semuanya lelaki adalah pedagang di sebuah pasar burung di Dhaka City.

Semua korban selamat setelah mendapat perawatan di rumah sakit.

Sementara itu, Thailand melaporkan adanya 25 kasus flu burung antara 2003-2006 dan 17 orang diantaranya meninggal dunia.

Sumber: http://www.bbc.co.uk


Read More......
Bookmark and Share

Kasus Terduga Flu Burung Muncul Lagi

Penderita yang meninggal dengan dugaan terjangkit flu burung muncul lagi di Jakarta. Hal itu menimpa PDY (23), warga Tanjung Priok, Jakarta Utara. Selama tahun 2011, kasus flu burung tidak pernah mencuat di Jakarta.

PDY yang dimakamkan di Jakarta, Minggu (8/1), dimandikan dan dimasukkan ke peti oleh pihak RSUD Tangerang.


Menurut Kepala Seksi Pengendalian Kesehatan Masyarakat Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara Ati Sukmaningsih, dari hasil pemeriksaan lendir hidung dan tenggorokan serta darah oleh petugas RSUD Tangerang, korban diduga kuat terjangkit flu burung. Untuk konfirmasi, contoh lendir dan darah masih diperiksa di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan.

Ibu korban, S (48), menuturkan, PDY demam tinggi sejak malam Tahun Baru. Pada Senin, ia berobat ke RS Satya Negara, Jakarta Utara. Oleh dokter, dia diduga mengalami infeksi lambung. Karena kondisi PDY tidak membaik, Rabu, ia dibawa lagi ke RS Satya Negara. Kali ini dokter mendiagnosis PDY terkena demam berdarah sehingga dirawat inap.

PDY Hari Jumat, S menuturkan, dokter tiba-tiba merujuk PDY ke RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso yang memiliki instalasi khusus flu burung. Namun, PDY ditolak karena ruang ICU RS itu penuh. Sabtu, pihak RS Satya Negara membawa PDY ke RSUD Tangerang. ”Belum sampai RSUD, anak Saya meninggal, “ kata S.

Menurut S, sebelum demam tinggi, PDY sempat memegang burung merpati peliharaannya yang sedang sakit.

Adik perempuan PDY, ASR (5), kini dirawat di RS Persahabatan dengan dugaan flu burung. Gejalanya, demam tinggi disertai batuk.

Menurut S, seluruh anggota keluarganya kini diobservasi Sudin Kesehatan Jakarta Utara. Selama diobservasi, S dan seluruh keluarga di rumahnya diminta mengonsumsi tamiflu (obat antivirus) selama lima hari.

Sumber: Kompas.com



Read More......
Bookmark and Share

Kerjasama Kemitraan Australia-Indonesia dalam Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Hewan Menular

Peluncuran Program Kemitraan Australia-Indonesia dalam rangka Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Hewan Menular yang Baru Muncul (Australia Indonesia Partnership for Emerging Infectious Diseases/AIP-EID) untuk periode 2010-2014 di Sulawesi Selatan secara resmi telah dilaksanakan pada tanggal 15 Desember 2011 oleh Gubernur Sulawesi Selatan dan dihadiri oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Ir. Syukur Iwantoro MS, MBA dan Perwakilan dari DAFF Australia Mrs. Karen Schneider.

Peluncuran program kemitraan Australia dan Indonesia secara nasional telah diresmikan oleh Bapak Menteri Pertanian pada tanggal 9 Maret 2011 yang lalu. Dan karena suatu hal untuk tingkat sub nasional peluncurannya baru dapat dilaksanakan pada tanggal 15 Desember 2011 walaupun secara operasional; program kemitraan tersebut telah berjalan sesuai dengan rencana yang telah disepakati oleh ke 2 (dua) negara.

Mrs. Karen Schneider (First Assistant Secretary DAFF) menyampaikan bahwa program kemitraan Australia-Indonesia ini didanai oleh AusAID dan dilaksanakan oleh Department of Agriculture, Fishery and Forestry (DAFF), bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Indonesia serta otoritas kesehatan hewan tingkat provinsi dan lokal. Program ini fokus pada deteksi penyakit menular yang baru muncul, pencegahan dan pengendalian penyakit melalui peningkatan kapasitas kelembagaan. Sulawesi Selatan merupakan provinsi yang sangat baik untuk percontohan program ini karena merupakan pusat utama untuk produksi ternak dan unggas di kawasan timur Indonesia dengan sebagian besar penduduk pedesaan.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam sambutannya, menyambut baik program ini terutama dalam rangka untuk memperkuat sistem layanan veteriner nasional, termasuk upaya peningkatan kapasitas SDM yang bertanggungjawab terhadap kesehatan hewan baik di pusat maupun daerah. Penguatan sistem pelayanan kesehatan hewan nasional ini penting dalam upaya menghadapi ancaman masuknya penyakit hewan menular yang baru muncul (Emerging Infectious Diseases) yang berpotensi menghandurkan dunia peternakan. Selain itu, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan juga mengharapkan melalui program kemitraan Australia-Indonesia yang difokuskan pada 3 (tiga) komponen yaitu (1). penguatan struktur, fungsi dan koordinasi di bidang kesehatan hewan nasional, (2). penguatan manajemen informasi, kemampuan laboratorium dan epidemiologi serta fungsi karantina dan (3). mendukung sistem layanan veteriner pada tingkat sub nasional, khususnya propinsi dan kabupaten/kota dengan menetapkan wilayah percontohan provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

Gubernur Sulawesi Selatan dalam sambutannya menyampaikan bahwa dipilihnya Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat sebagai lokasi percontohan merupakan momentum yang sangat strategis untuk terciptanya sistem layanan kesehatan hewan yang murah, mudah dan terjangkau sehingga dalam jangka panjang dapat dijadikan model pendekatan secara nasional. Melalui kerjasama kemitraan ini Gubernur Sulawesi Selatan berharap agar sistem informasi kesehatan hewan dapat ditata dengan lebih baik. Selain itu jaringan komunikasi dan informasi dari Desa/Kelurahan, Kecamatan, Kab./Kota, Provinsi sampai ke Pusat benar-benar dapat diwujudkan secara fokus, melembaga dan terkoordinasi. Sehingga dengan sistem informasi yang terjalin dengan baik, maka langkah-langkah penanggulangan setiap terjadi kasus dapat dilakukan dengan baik dan cepat.

Peresmian Peluncuran Program Kemitraan Australia-Indonesia dalam rangka Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Hewan Menular yang Baru Muncul (Australia Indonesia Partnership for Emerging Infectious Diseases/AIP-EID) untuk periode 2010-2014 di Sulawesi Selatan secara resmi dilakukan dengan ditandai dengan membunyikan alat penumbuk padi tradisional (lesung) yang dilakukan oleh Gubernur Sulawesi Selatan, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Ir. Syukur Iwantoro MS, MBA serta Perwakilan dari DAFF Australia Mrs. Karen Schneider.

Selanjutnya Peluncuran Program Kemitraan Australia-Indonesia dalam rangka Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Hewan Menular yang Baru Muncul (Australia Indonesia Partnership for Emerging Infectious Diseases/AIP-EID) untuk periode 2010-2014 juga dilaksanakan di Sulawesi Barat yang secara resmi dilakukan dengan ditandai dengan pemukulan beduk telah dilaksanakan pada tanggal 16 Desember 2011 oleh Gubernur Sulawesi Barat dan dihadiri oleh Perwakilan dari DAFF Australia Mrs. Karen Schneider, sedangkan dari Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan diwakili oleh Kepala BBVet Maros, Drh. Bagoes Purmadjaja, MSc.

Sumber: ditjennak.deptan.go.id



Read More......
Bookmark and Share

Virus Flu Burung Kembali Menyerang Warga China

Virus flu burung H5N1 yang sempat mewabah pada beberapa tahun lalu, kembali menelan korban di penghujung tahun 2011.

Seorang pria didiagnosa mengidap penyakit mematikan tersebut, di Kota Shenzhen, China, Sabtu (31/12/2011).

Menurut berita yang dilansir BBC, pria yang berprofesi sebagai sopir bus tersebut dilarikan ke rumah sakit dengan gejala pneumonia, namun setelah menjalani tes medis, ia positif terjangkiti virus flu burung.

Namun ia tidak pernah kontak dengan unggas, ataupun melakukan perjalanan ke keluar kota, demikian dikatakan oleh Kementerian Kesehatan China.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan flu burung telah menewaskan 332 orang sejak 2003.

Virus ini telah menjangkiti 63 negara pada tahun 2006, dengan jumlah 4.000 kasus di seluruh dunia, dengan endemik di Bangladesh, China, Mesir, India, Indonesia, dan Vietnam.

Departemen Pertanian China, sebelumnya telah memperingatkan pada bulan lalu bahwa virus flu burung tampaknya sudah menyebar di pasar unggas yang ada di daratan China, khususnya di wilayah selatan.

Sumber: tribunnews.com




Read More......
Bookmark and Share

Perunggasan Siap Menyongsong 2012

Tahun 2012 sudah di depan mata. Siap ataupun tidak kita semua akan menjalani tahun 2012. Kekhawatiran, keraguan atau bahkan optimisme merupakan suatu hal yang wajar.

Optimisme pada tahun 2012, salah satunya muncul dari Drh. Sugeng Pujiono, Marketing Manager PT. Sanbe Farma. Menurutnya bisnis perunggasan di tahun 2012 nanti lebih menarik dan menjanjikan disbanding tahun sebelumnya.

“Jika pada tahun 2009 lalu, saya mengatakan optimis akan prospek perunggasan di tahun 2010. Dengan prediksi perkembangan sekitar 12 persen. Lalu untuk saat ini, saya katakana aka nada perkembangan lebih dari 12 persen pada tahun 2012 nantinya,” kata Sugeng.
Tahun ini, Sugeng menambahkan, tiga negara di Asia seperti China, India dan Indonesia terus mengalami peningkatan ekonomi. Dan yang lebih menjanjikan lagi ialah cadangan devisa Indonesia yang mencapai USD 124,5 triliun. “Sangat luar biasa cadangan devisa sebesar itu, dan itulah yang akan menjadi modal bisnis apapun di tahun depan nantinya,” ungkap Sugeng.

PT. Sanbe Farma akan mengembangkan vaksinnya di tahun 2012. Di antaranya ialah skala produksinya, variasi produk dan disamping mempersiapkan R&D untuk mengantisipasi perubahan-perubahan yang positif dari perdagangan dunia.

“Masih tetap fokus pada vaksin, dimana lebih mengembangkan skala produksi dan bidang-bidangnya. Dalam artian, kami akan mengembangkan vaksin selain untuk unggas, yakni vaksin untuk hewan besar, pet animal dan vaksin ikan yang akan kami buat fenomenal. Fenomenal karena memang selama ini di Indonesia maupun dunia tidak biasa mendengar vaksin untuk ikan,” jelas Sugeng.

Rencananya PT. Sanbe Farma akan mulai memproduksi vaksin ikan tersebut pada bulan Maret-April. Selain itu, juga akan memperbesar produksi probiotik powder yang selama ini Indonesia hanya bisa mengimpor dari luar negeri.
Nilai investasi untuk vaksin PT. Sanbe Farma pada tahun 2012 nanti bertambah sekitar 2/3 dari nilai investasi yang sudah dikeluarkan sebelumnya. Dimana nilai investasi yang terserap pada tahun 2011 ini mencapai Rp.140 milyar.

Tetap waspada
Untuk proyeksi penyakit tahun 2012, Ditkeswan memperkirakan akan sama dengan tahun 2011 yaitu seputar ND, AI dan IBD. “Kewaspadaan terhadap penyakit yang dipengaruhi iklim dan cuaca harus selalu diperhatikan. Berdasarkan data, kejadian penyakit akan meningkat di triwulan pertama, kemudian bertahan dan menurun di triwulan kedua,” terang Pudjiatmoko.

Untuk mengatasi dan mencegah penyebaran penyakit, ia menyarankan pencegahan perlu dilakukan mulai dari hulu, tidak hanya hilir saja. Penerapan biosekuriti dan sanitasi yang ketat oleh peternakan ataupun masyarakat tetap menjadi prioritas untuk mencegah dan menanggulangi merebaknya penyakit. Selain itu kebijakan pengendalian penanggulangan penyakit unggas khususnya AI melalui kompartementalisasi dan zonasi harus terus dilaksanakan.

Penataan kompartemen dengan melakukan serangkaian kegiatan untuk mengkondisikan suatu usaha peternakan unggas agar memiliki status kesehatan hewan yang jelas, melalui penerapan GBP/GFP, biosekuriti, surveilans dan vaksinasi. Sedangkan penataan zona merupakan rangkaian kegiatan untuk mengkondisikan suatu zona agar memiliki status kesehatan hewan yang jelas, melalui penerapan GFP, biosekuriti surveilans dan vaksinasi.

Dengan melakukan kegiatan ini, lanjut Pudjiatmoko, diharapkan dapat mengendalikan dan memberantas penyakit AI, menjamin agar unggas dan produk unggas yang dihasilkan aman dan terbebas dari virus penyakit AI. Mencegah masuk dan menyebarnya penyakit AI melalui lalu lintas perdagangan unggas dan produk unggas antar daerah dan antar negara, dan membuka peluang perdagangan baik dalam negeri maupun luar negeri.

Drh.Sudarmono dari UPPAI Pusat menginformasikan bahwa pemerintah telah membentuk Petugas Veteriner Unggas Komersial (PVUK) yang dikhususkan untuk sektor 3 komersial yang cukup rawan, khususnya populasi kecil menengah. PVUK akan membantu peternak dalam meningkatkan manajemen beternak, meningkatkan produktivitas, menangani penyakit, dan penerapan biosekuriti. Saat ini PVUK baru ada di Provinsi Lampung (Kabupaten Lampung Selatan dan Lampung Timur), Jawa Barat (Tasikmalaya), Jawa Tengah (Boyolali) dan Jawa Timur (Kediiri). Satu kabupaten terdapat 4 petugas PVUK yang berlatar belakang dokter hewan. Program ini sudah berjalan satu tahun dan segera akan ditularkan ke provinsi lain.

Sumber: Poultryindonesia.com



Read More......
Bookmark and Share

Setiap 10 Menit, 1 Orang Meninggal Karena Rabies

Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (Office International des Epizooties/OIE) berkomitmen mendukung upaya masyarakat internasional memberantas penyakit anjing gila (rabies) di seluruh dunia. Penyakit virus yang menular dari hewan ke manusia tersebut telah menyebabkan kematian hampir 55.000 orang per tahun di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Para korban, kebanyakan anak-anak, meninggal setelah periode penderitaan yang mengerikan. "Setiap sepuluh menit satu orang meninggal akibat rabies di suatu tempat di dunia. Sembilan puluh sembilan persen kasus manusia akibat gigitan oleh anjing yang terinfeksi. Rabies menyebabkan kematian lebih banyak di dunia dibandingkan penyakit menular lainnya dan terutama memengaruhi anak-anak di negara berkembang," kata Direktur Jenderal OIE Bernard Vallat dalam editorialnya di situs OIE, menyambut Konferensi Global Penanganan Rabies 7-9 September 2011, di Seoul, Korea Selatan.

OIE sendiri berkantor di Paris, Prancis. Konferensi Global Penanganan Rabies tersebut diselenggarakan OIE bekerja sama dengan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agricultural Organization/FAO) dan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) dan Pemerintah Korea Selatan. Konferensi tersebut diperlukan untuk mempertemukan semua pihak yang terlibat dalam mengendalikan rabies pada sumber hewani dan membantu untuk menciptakan sinergi antara usaha-usaha individual mereka.
Menurut OIE, mayoritas sumber daya yang tersedia di negara-negara endemik rabies saat ini diarahkan untuk mengobati manusia yang telah digigit, dalam banyak kasus, oleh anjing. Kebanyakan anjing-anjing tersebut tanpa pemilik atau pemilik telah gagal bertanggung jawab atas kesehatan hewan dan untuk menjaga hewan di bawah kontrol.

OIE juga mencatat bahwa mengalokasikan bagian dari sumber daya ini untuk pencegahan rabies pada hewan dan pengendalian populasi anjing liar akan membantu pengurangan jumlah kasus rabies pada manusia dan hewan di seluruh dunia.

Konferensi di Seoul tersebut akan memberi prioritas untuk keputusan pemerintahan yang baik pada distribusi sumber daya publik atau swasta, lokal, nasional dan internasional terhadap tindakan prioritas pada hewan yang sejalan dengan konsep baru "Satu Kesehatan (One Health)", yaitu konsep sinergi penanganan penyakit hewan dan manusia. Konferensi tersebut juga akan memberi kesempatan untuk menyoroti kisah sukses terbaru di bidang diagnosis, vaksinasi, kontrol populasi hewan, dan sistem pemerintahan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, dari sektor publik dan swasta.

Rekomendasi konferensi di Seoul itu akan membantu OIE mempersiapkan standar internasional baru pada kontrol rabies dan mencapai koordinasi yang lebih baik dengan mitra-mitranya.
Konferensi ini akan terbuka untuk semua ilmuwan yang bersangkutan dengan dunia hewan dan kesehatan masyarakat, wakil dari pelayanan kesehatan hewan dan kesehatan hewan dan sektor publik dan manajer kesehatan manusia dari seluruh dunia serta semua non-pemerintah pemain berkontribusi untuk mengendalikan rabies di seluruh dunia.

Penyakit anjing gila disebabkan oleh virus rabies dari genus Lyssavirus. Virus rabies berada di air liur anjing atau karnivora lain. Penularan ke manusia terjadi karena penularan melalui air liur dari anjing terinfeksi rabies yang menggigit manusia. Anjing yang tertular virus rabies biasanya menunjukkan gejala terlihat buas hendak menggigit, air liur keluar berlebihan, dan takut air.

Kasus anjing gila terakhir yang dicatat oleh OIE yaitu pada 16 Agustus 2011 terjadi di Prancis. Kasus di Prancis itu diketahui menular dari seekor anak anjing yang diimpor dari Maroko pada 1 Agustus 2011 tanpa memenuhi persyaratan kesehatan dari penyakit. Hewan-hewan berkontak dengan anak anjing telah diidentifikasi, yaitu tiga kucing yang akhirnya dieutanasia (suntik mati) dan seekor anjing dalam pengawasan. Manusia yang berkontak dengan anjing telah diperiksa kesehatannya juga.

Di Indonesia, ratusan orang telah meninggal setelah digigit anjing yang terinfeksi virus rabies. Kasus anjing gila, misalnya, bahkan telah menyerang Pulau Bali, yang sejak zaman Belanda dianggap pulau bebas anjing gila. Dua kematian pasien akibat anjing gila juga terjadi di Pulau Nias, Sumatera Utara, pada Februari 2011.

Pulau Flores juga masih berjuang untuk bebas anjing gila. Seperti dilaporkan Kompas, Denilson Tomy Toja (2 tahun), pasien penderita rabies, warga Desa Nitakloang, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur, akhirnya meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah TC Hillers, Maumere, 13 Agustus 2011.

Untuk meningkatkan kesadaran dunia atas pentingnya penanganan rabies, OIE menyelanggarakan Hari Rabies Sedunia yang jatuh pada 28 September.

Berikut tips untuk terhindar dari penyakit rabies:
• Memvaksinasi anjing kesayangan dengan vaksin rabies ke dokter hewan terdekat.
• Apabila tergigit anjing segera cuci dengan deterjen dan segera datang ke dokter atau rumah sakit terdekat.

Sumber: Kompas. com

Read More......
Bookmark and Share

  © Blog drhyudi by Ourblogtemplates.com

BACK TO TOP