Blog Drh. YUDI Selamat Datang di Blog ini Dan Saya Mengundang Siapa Saja yang Hobi Menulis untuk Berbagi Pengetahuan Terkait Kesehatan Hewan, Peternakan dan Tulisan Lain sesuai Tema Blog Ini. Tulisan dapat dikirimkan ke swwahyudi@gmail.com atau surya_rafi06@yahoo.co.id, Terima Kasih Blog Drh. YUDI IPTEK: Badai Matahari Diprediksi Muncul Tahun 2012-2015 dan Tidak Akan mengancam Keselamatan Manusia dan Bukan Pertanda Kiamat Seperti yang Sempat Diisukan. Studi baru para ilmuwan mengunngkap bahwa bumi ternyata memiliki 8,8 juta spesies, tetapi baru seperempatnya saja yang berhasil ditemukan. Demikian yang dipublikasikan di jurnal online PLoS Biology Blog Drh. YUDI Penelitian oleh para ahli di Universitas Nottingham, Inggris ditemukan bahwa kecoa dapat menjadi sumber antibiotik. Dalam penelitian terhadap kecoa dan belalang tersebut ditemukan sembilan jenis zat kimia antimikrobakteri di otak serangga itu dan cukup kuat membunuh Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) tanpa melukai sel dalam tubuh manusia.Blog Drh. YUDI KESEHATAN: Yersinia pestis dipastikan sebagai penyebab wabah "Kematian Hitam (Black Death)" yang terjadi sekitar 600 tahun lalu di Eropa. Diperkirakan 75 juta orang meninggal akibat wabah tersebut. Blog Drh. YUDI

Penyakit Bakterial Hewan Kecil

1. POLYARTHRITIS
Polyarthritis merupakan penyakit menular pada domba yang ditandai dengan radang sendi. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan cukup besar karena turunnya berat badan dan ternak tidak bisa dikeluarkan (ekspor-impor).
Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh Chlamydia psittaci. Organism ini berbentuk bundar dengan ukuran 200-300 um dan materi genetik tersusun atas RNA dan DNA.
Bakteri ini dapat ditumbuhkan secara in vivo pada telur ayam berembrio dan dapat ditularkan pada hewan percobaan seperti marmut.
Patogenesis
Penyakit bersifat sistemik pada berbagai organ, biasanya membran serosa. Kemungkinan infeksi dimulai di dalam saluran pencernaan kemudian meluas menyerang pembuluh darah.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Penyakit ini pada kambing atau domba pertama kali dilaporkan pada tahun 1957. Penyakit ini tersebar luas di beberapa negara seperti Australia, Amerika Serikat. Di Indonesi belum pernah dilaporkan.
Hewan Terserang
Penyakit ini umumnya menyerang domba yang berumur 6 bulan, tetapi wabah yang terjadi di Queensland Australia terjadi pada domba umur 13 bulan.
Morbiditas dan Mortalitas
Tingkat morbiditas tinggi dan mortalitas rendah, 3-7%.

Gejala Klinis
Hewan terserang ditandai dengan gejala demam, depresi, konjungtivitis disertai dengan leleran kental bernanah, keratitis dengan vaskularisasi kornea. Hewan sangat kurus dan jalannya pincang, kadang-kadang mengalami kejang-kejang mirip gejala tetanus.
Diagnosa
Penyakit dapat didiagnosa dengan pemeriksaan mikroskopis dari usapan lesi pada kaca gelas dengan diperlihatkan organism atau badan-badan elementer di dalam sitoplasma sel. Specimen yang dapat diambil berupa lendir dari sendi, jaringan dan tinja.
Uji serologis dapat dilakukan dengan AGP dan ELISA.

Pencegahan dan Pemberantasan
Hewan terserang segera dipisah dan diobati dengan tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin atau penisilin.
Tidak ada informasi mengenai imunitas hewan yang terserang, tetapi anak domba yang berumur lebih dari 6 bulan jarang terserang. Vaksin sampai saat ini belum tersedia.
2. PARATUBERKULOSIS
Nama lain: Johne’s.
Merupakan penyakit menular kronis pada domba, kambing dan ruminansia lainnya yang ditandai dengan enteritis granulomatus dan limfadenitis.
Etiologi
Penyebab penyakit ini adalah Mycobacterium johnei atau disebut M. paratuberculosis, M. enteriditis, Bacillus tuberculosis, Bacterium tuberculosis atau Tubercle bacillus.
Bakteri ini berbentuk basilus berukuran 0,5 x 1,5 mikron dan termasuk dalam bakteri gram positif, fakultatif dan tahan asam. Pada media pertumbuhan, koloninya adalah putih, jelas dan mengkilap.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Paratuberkulosis pertama kali dilaporkan oleh Johne dan Frothingham pada tahun 1895. Penyakit ini telah tersebar luas dibeberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Denmark, Belgia, Belanda, Kanada, India dan Australia (bersifat endemik di Victoria dan Tasmania).
Hewan Terserang
Penyakit ini menyerang berbagai jenis hewan seperti kambing, domba, sapi, kerbau, rusa, bison, unta, bagal, babi, kera dan ayam.
Pada domba penyakit ini menyerang umur 6,5 bulan sampai 7,5 tahun.
Hewan percobaan yang peka adalah mencit, tikus, kucing, kelinci, hamster, marmut dan berbagai jenis unggas.
Cara Penularan
Bakteri dapat ditemukan dalam testis, semen, kelenjar bulbourethral, prostat, vesikel seminalis, uterus dan fetus. Diduga terjadipenularan secara congenital.
Bakteri dikeluarkan dalam jumlah banyak dari hewan sakit dan sapi yang tertular tetap sebagai reservoir untuk beberapa tahun, kebanyakan bakteri dikeluarkan melalui tinja.
Gejala Klinis
Kambing atau domba terserang ditandai dengan depresi, diare dan kekeurusan. Kekeurusan ini berlangsung dari satu minggu atau sebulan, sehingga berat badan turun drastis, wool jelek dan mudah rontok.
Pada sapi ditandai dengan diare yang tidak tetap pada stadium awal kemudian bersifat persisten dan hebat. Tinja sering bercampur darah atau lendir. Celah submandibularis membengkak karena oedema dan menghilang ketika diare yang hebat. Kondisi tubuh terus menerus merosot, bulu kusam, produksi susu menurun. Gejala klinis dapat berlangsung dari beberapa minggu sampai beberapa bulan dan diakhiri dengan dehidrasi, kekurusan dan kelemahan.
Diagnosa
Penyakit dapat didiagnosa berdasarkan gejala klinis seperti diare dan oedema intermandibula dan penurunan produksi susu.
Pemeriksaan bakteriologis dari tinja, uji alergi yang analog dengan uji tuberculin untuk tuberkulosis. Biofsi kelenjar limfe mesentrika dengan melakukan laparotomi untuk mengeluarkan kelenjar limfe kemudian dilakukan pemeriksaan FAT dan pemeriksaan mikroskopis. Fragmen DNA bakteri dapat diamplifasi dengan PCR, selanjutnya antibodi dideteksi dengan ELISA, AGP dan CFT.
Pencegahan dan Pemberantasan
Kandang harus dijaga tetap bersih dan yang tercemar dapat melakukan desinfeksi kandang. Hewan yang terserang biasanya resisten terhadap antibiotika dan kemoterafi lainnya. Oleh karena itu pengobatan adalah tidak efektif.
Vaksinasi untuk pencegahan dapat dilakukan menggunakan vaksin inaktif dari bakteri M. paratuberkulosis yang tidak ganas dengan menyuntikkan di bawah kulit atau menggunakan vaksin aktif yang disuntikkan di bawah kulit leher. Pada pedet disuntik pada umur kurang dari 1 bulan.
3. PSEUDO-TUBERKULOSIS
Nama lain: Tuberkulosis-samar, Limfadenitis Caseosa.
Merupakan penyakit menular kronis pada kambing dan domba, yang ditandai dengan bentukan abses kelenjar limfe.
Etiologi
Agen penyebab adalah bakteri Corynebacterium pseudotuberculosis atau disebut juga Corynebacterium ovis, Preisz Nocard bacillus.
Bakteri ini berbentuk batang pleomorfis hampir berbentuk kokus, tidak motil dan tidak berspora, termasuk gram positif dan tidak tahan asam.
Organisme tumbuh baik pada semua media, tetapi pertumbuhannya lambat. Pada media agar darah koloni sedikit hemolitik dan pada media serum darah Loeffler koloni basah dan warnanya kuning oranye.

Epidemiologi
Distribusi Geografis
Penyakit ini dilaporkan di beberapa negara seperti Prancis, Kenya, Australia, New Zealand, Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa.
Di indonesi belum pernah dilaporkan.
Hewan Terserang
Limfadenitis menyerang kambing dan domba dewasa.
Cara Penularan
Penyakit ditularkan melalui cemaran luka infeksi pada saat pencukuran bulu, pemotongan ekor dan kastrasi, jarang secara aerogen.
Gejala Klinis
Gejala klinis penyakit ini berupa pembengkakan dan terbentuk abses disertai dengan leleran nanah kehijauan pada kelenjar limfe superficial seperti submaxillaris, prescapularis, prefemoralis, supramamaria dan poplitealis. Bentuk abses juga dapat ditemukan pada ambing yang mengakibatkan penurunan produksi susu.
Infeksi sistemik ditandai dengan kejang-kejang, paraplegia, pneumonia kronis atau pada kambing ditandai dengan bronkopneumonia sehingga hewan mengalami sesak nafas dan berakhir dengan kematian. Penyakit ini kadang-kadang menyebabkan anemia, kekurusan dan oedema.
Diagnosa
Penyakit ini dapat didiagnosa berdasarkan gejala klinis dan isolasi agen penyebab dengan melakukann pemupukan nanah pada media tumbuh. Uji serologis dengan Uji Aglutinasi, Anti Hemolisin Inhibition, Mouse Protection (MPT) dan ELISA.
Diagnosa Banding
Penyakit ini mempunyai gejala klinis yang sangat mirip dengan Paratuberkulosis atau Mikoplasmosis.
Pencegahan dan Pemberantasan
Hewan yang sakit dipisah dari yang sehat dan menghindari masuknya hewan sakit ke daerah bebas. Hindari terjadinya luka-luka pada saat pencukuran, pemotongan kuku atau ekor.
Pengobatan yang dilakukan dengan antibiotika, amfisilin, kloramfenikol, eritromisin, gentamisin, penisilin dan tetrasiklin.
Untuk vaksinasi sampai saat ini belum banyak penelitian mengenai respon imunitas hewan yang terinfeksi, disamping belum tersedianya vaksin.
4. ANTHRAX
Nama lain: Radang Kura, Radang Limpa
Anthrax merupakan penyakit menular perakut dan zoonosa yang ditandai dengan septikemia dan kematian tiba-tiba disertai keluarnya darah seperti ter dari lubang-lubang pengeluaran.
Etiologi
Anthrax disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis. Bakteri ini berbentuk batang berukuran 1-1,5 x 3-8 um dan termasuk bakteri gram positif. Pada preparat ulas darah, bakteri terlihat berkapsul.
Bakteri dapat ditumbuhkan pada media bakteriologis di bawah kondisi aerobic.
Patogenesis
Bahan makanan dan minuman yang tercemar menjadi sumber penularan anthrax. Bakteri masuk ke dalam tubuh lewat per oral atau luka-luka pada kulit. Setelah bakteri masuk ke dalam tubuh kemudian menuju kelenjar limfe fokal. Di situ bakteri berkembang dan selanjutnya menyebar ke sistem retikuloendotelial melalui aliran darah dan limfe.
Selama masa inkubasi, bakteri memperbanyak diri di dalam sel system retikulo sampai mencapai pertumbuhan optimal dan baru dilepaskan ke dalam darah dan menyebabkan septikemia yang hebat. Bacillus anthracis menghasilkan kompleks toksik yang terdiri dari 3 komponen yaitu faktor I atau faktor oedema, faktor II atau faktor protektif dan faktor III atau letal. Faktor-faktor tersebut bekerja bersama dan pengaruhnya adalah mematikan fagosit, kerusakan dinding kapiler dan interferen dengan mekanisme kloting. Pengaruh selanjutnya yaitu terjadinya oedema, shock dan kematian.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Penyakit ini tersebar di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Australia dan Indonesia.
Di Indonesia pertama kali di laporkan di Teluk Betung, Lampung pada tahun 1884. Kemudian di temukan di Buleleng, Bali tahun 1885. Selanjutnya dilaporkan diberbagai daerah di Jawa (Banten, Kerawang, Madura, Probolinggo, Jepara, Jakarta, Purwakarta, Bogor, Periangan, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Surakarta, Banyumas, Madiun, dan Bojonegoro). Sumatera (Palembang, Lampung, Padang, Bengkulu, Tapanuli, Sumatera Utara, Bukit Tinggi, Sibolga, Medan, Jambi). Kalimantan (Kalimantan Barat, Kalimantan Timur), Paupua, Sulawesi (Makassar, Watampone, Manado, Palu dan Donggala), Nusa Tenggara (Bima, Sumba, Sumbawa, Flores, Lombok, Timor Leste).
Kejadian penyakit umumnya bersifat enzootik di daerah tropis dan subtropis.
Hewan Terserang
Anthrax paling banyak menyerang sapi, kemudian kambing, domba dan kuda. Babi, anjing dan kucing kurang peka. Hewan laboratorium yang peka adalah kera, marmot, kelinci dan tikus.
Cara Penularan
Penyakit ditularkan melalui kontak langsung antara hewan sakit dan hewan sehat, makanan dan minuman yang tercemar, luka pada kulit, leleran dan karkas.
Penularan juga dapat melalui vektor mekanis seperti lalat, tetapi cara ini tidak umum karena fase bakteremia sangat pendek. Hewan liar dapat pula memindahkan penyakit.
Gejala Klinis
Anthrax pada kambing dan domba bersifat per akut, beberapa jam tampak sehat kemudian mati mendadak yang sebelumnya didahului dengan gejala demam, gemetar selama 1-2 jam dan kejang-kejang. Bentuk akut ditandai dengan demam tinggi, pernafasan cepat, kejang-kejang dan selaput lendir kongesti dan berdarah. Kelemahan dan nafsu makan menurun. Bentuk akut ini paling sering terlihat pada hewan, berlangsung selama 2-10 hari dan diakhiri dengan kematian.
Diagnosa
Penyakit dapat didiagnosa berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan mikroskopis dari bakteri. Pemeriksaan mikroskopis dari sediaan ulas darah yang diambil dari vena superficial (vena metacarpal atau metatarsal dan vena di telinga).
Pemeriksaan adanya bakteri dalam jaringan dapat dideteksi dengan uji termo-precipitation, Ascoli atau pemeriksaan FAT.
Diagnosa Banding
Anthrax mirip dengan Blackleg per akut, tetapi penyakit ini menyerang hewan muda dan terjadi pembengkakan kripitasi, sedangkan anthrax tidak ada.
Gejala anthrax juga mirip dengan Leptospirosis akut, tetapi kejadiannya bersifat sporadik dan ditandai dengan hemoglobinuria.
Keracunan per akut dan Tetanus Hipomagnesaemik biasanya diikuti gejala syaraf, tetapi sangat berbeda jika diperiksa perubahan patologisnya. Bloat akut menunjukkan pembesaran rumen karena terdapat gas dan darah yang keluar dari anus yang sangat mirip dengan anthrax.
Pencegahan dan Pemberantasan
Hewan yang sakit segera dipisah dan diobati dengan antibiotika dan pemberian antianthrax serum terutama saat demam. Pada kasus berat tidak mungkin sembuh, pengobatan dengan antibiotic dapat menggunakan penisilin (10.000 unit/kg berat badan diberikan 2 kali sehari), streptomisin 8-10 gram tiap hari dalam 2 dosis secara intramuskuler. Oksitetrasiklin dan kombinasi penisilin-streptomisin (penstrep) efektif juga untuk pengobatan. Penyuntikan antiserum anthrax sebanyak 25-50 ml dan diulangi setelah 6-12 jam intravena pada stadium awal dilaporkan efektif.
Hewan yang mati tidak bolehh dibuka atau dilakukan nekropsi. Jika harus dilakukan untuk tujuan pemeriksaan lanjutan, maka tindakan nekropsi harus hati-hati. Karkas, isi organ dalam dan tanah tercemar harus dibakar atau ditanam dalam-dalam dan didesinfeksi termasuk peralatan yang tercemar.
Vaksinasi anthrax dapat dilakukan apabila disuatu daerah terjadi wabah anthrax. Vaksin yang digunakan dapat berupa vaksin aktif dengan pemberian intradermal atau dibawah kulit. Kekebalan pada kambing dan domba dapat berlangsung selama 26 bulan, tetapi pada daerah yyang prevalensi kasus tinggi maka vaksinasi dianjurkan setiap tahun.
5. MIKOPLASMOSIS
Nama lain: Contagious Caprine Pleuropneumonia (CCPP).
Merupakan penyakit Pleuropneumonia Fibrinous pada kambing, yang ditandai dengan gangguan pernafasan, batuk-batuk disertai keluarnya leleran dari hidung.
Etiologi
Mikoplasmosis pada kambing disebabkan oleh Mycoplasma sp (M.mycoides subsp mycoides, M. putrefaciens) atau nama lainnya Capromyces pleuropneumonia, Asterococcus mycoides. Mycoplasma sp diisolasi dari saluran peranakan domba memiliki karakter biokimia dan serologis yang sama dengan Mycoplasma sp biotipe 2-D dan mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan M. mycoides subsp mycoides.
Koloni bakteri ini adalah besar dan dapat dibedakan dengan Mycoplasma mycoides subsp mycoides penyebab Contagious Bovine Pleuropneumonia (CBPP) pada sapi.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Kejadian mikoplasmosis pada kambing telah dilaporkan di beberapa negara seperti Amerika Serikat (Arizona, California, Connecticut, Florida, Maryland, New York, Carolina Utara dan Pensylvania). Australia, Eropa Timur dan Selatan, Sudan dan beberapan Negara di Asia.
Di Indonesia belum pernah dilaporkan.
Hewan Terserang
Penyakit ini menyerang kambing dan domba. Pada kambing kelompok umur yang terserang adalah umur 2-3 minggu.
Survei serologis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kepekaan kambing terhadap M. putrefaciens. Berdasarkan ras kambing terlihat bahwa prevalensi ntibodi pada kambing American La mancha lebih rendah (4,7%) dibandingkan dengan kambing jenis Angora (67%) dan Togenberg (10,8%). Kelompok umur yang lebih tua 5 tahun paling tinggi (21,3%), 4 tahun (2,4%) dan 1 tahun (8,6%). Sedangkan berdasarkan jenis kelamin diketahui bahwa kambing jantan lebih rendah (10,7%) dibandingkan kambing betina (16,1%).
Cara Penularan
Penyakit dapat ditularkan melalui kontak langsung antara hewan sakit dengan yang sehat. Penularan melalui bahan tercemar dan lewat udara sangat potensial. Disamping itu penularan melalui air susu, urin, empedu sangat besar karena dari hasil percobaan menunjukkan bahwa bakteri dapat ditemukan dalam urin, empedu dan air susu terutama pada kambing yang sedang laktasi.
Morbiditas dan Mortalitas
Kambing terserang mikoplasmosis menunjukkan tingkat morbiditas dan mortalitas tinggi. Morbiditas lebih dari 90% dan mortalitas mencapai 68%.
Gejala Klinis
Hewan terserang ditandai dengan 3 bentuk penyakit: 1). Bentuk per akut, hewan sebelumnya tampak normal tetapi suhu tubuh tiba-tiba tinggi 41,1-42,2°C dan mati dalam waktu 12-24 jam tanpa menunjukkan gejala klinis. 2), bentuk syaraf yang ditandai dengan opistotonus yang sering disebut “star gazers” dengan kematian dalam waktu 24-72 jam. 3), bentuk septicemia akut atau subakut ditandai dengan nafsu makan menurun, sendi-sendi (carpus, stifle, tarsus, shoulder dan cubitus membengkak), panas, sering unilateral diikuti dengan pneumonia dan demam.
Hewan yang mengalami pneumonia akan mati dalam waktu 3-5 hari. Beberapa anak kambing menunjukkan arthritis selama 2-3 minggu dan ada pula yang sembuh. Disamping itu kambing dan domba yang terserang juga menderita mastitis.
Diagnosa
Diagnosa dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis, patologis dan isolasi agen penyebab. Mycoplasma dapat diisolasi dari susu dan jaringan paru-paru setelah 5 hari penanaman dalam media isolasi.
Agen penyebab dapat dideteksi dengan FAT indirek dan hambatan pertumbuhan menggunakan antiserum. Fragmen DNA dari mycoplasma dapat diamplifasi dengan PCR selanjutnya produknya dapat diperiksa dengan Electrophoresis.
Diagnosa Banding
Penyakit ini mirip dengan Pasteurellosis dan Caseous Lymphadenitis.
Pencegahan dan Pemberantasan
Hewan yang sakit dipisah dan diobati dengan tylosin (Tylan), tiamulin atau oksitetrasiklin melalui suntikan intramuskuler.
Pencegahan melalui vaksinasi belum dilakukan karena belum tersedianya vaksin untuk penyakit ini.
6. INFECTIOUS FOOTROT
Infectious Footrot merupakan penyakit menular pada kambing dan domba yang ditandai dengan peradangan kulit daerah teracak dan terjadi kepincangan yang hebat.
Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh Sphaerophorus (Bacteriodes) nodusus, meskipun 2 bakteri yang lainnya seperti Spirochaeta penortha dapat berperan. Bakteri ini termasuk gram negatif, berbentuk batang dan motil.
Patogenesis
Dermatitis lokal pada lapisan kulit berbatasan dengan kuku meluas sampai ke lapisan bagian dalam dari lamina teracak. Infeksi S. nodosus pada jaringan tanduk ini menghasilkan enzim keratolitik yang dapat menghancurkan lapisan kuku.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Penyakit ini banyak dilaporkan di Australia. Di Indonesia penyakit ini belum pernah dilaporkan.
Hewan Terserang
Penyakit ini hanya menyerang kambing dan domba umur lebih dari 2 bulan. Domba merino merupakan jenis domba yang paling peka terhadap penyakit ini, sedangkan domba jenis Romney Mars (Inggris) kurang peka.
Cara Penularan
Penyakit ini ditularkan melalui kontak langsung. Leleran dari kaki terinfeksi merupakan sumber penularan. Hewan dapat sembuh dengan spontan, tetapi kira-kira 10% tidak menunjuukkan tanda klinis, karier kronis dalam beberapa tahun.
Kondisi lingkungan yang kurang basah dan hangat merupakan bakteri persisten di dalam padang pengembalaan dan meningkatnya kepekaan teracak terhadap luka dan dermatitis.
Gejala Klinis
Pada kambing dan domba ada 2 bentuk footrot yaitu bentuk ganas dan jinak. Footrot ganas ditandai dengan peradangan kulit antara tumit dekat pertautan kulit tanduk yang didalamnya terdapat cairan, diikuti dengan turunnya nafsu makan, demam, pembengkakan kulit diantara teracak, diikuti kepincangan dan nekrosis lapisan tanduk kulit diantara teracak, hewan menjadi pincang dan punggung tampak dilengkungkan.
Diagnosa
Penyakit dapat didiagnosa berdasarkan gejala klinis dan lesi-lesi pada kulit teracak. Isolasi bakteri diambil dari specimen kulit untuk memastikan penyakit. Antibodi dapat dideteksi menggunakan ELISA, Immunoelectrophoresis silang atau dengan teknik Immunokimia.
Diagnosa Banding
Penyakit ini dapat dikelirukan dengan Orf atau Bluetongue berdasarkan lesi-lesi pada kulit, tetapi lesi-lesi pada bibir dan mulut tidak ditemukan.
Pencegahan dan Pemberantasan
Hewan yang sakit dipisah dengan yang sehat untuk menghindarkan penularan lebih lanjut. Bagian jari kaki yang meradang atau luka dibersihkan dengan desinfektan, yodium atau direndam dengan formalin 5-10%, Copper Sulphate 10%. Pengobatan dapat dilakukan dengan injeksi antibiotika streptomisin, penisilin, tilan dan tetrasiklin. Kandang tercemar didesinfeksi dengan formalin atau Copper Sulphate 5%.
Vaksin yang telah dikembangkan untuk mengendalikan penyakit ini adalah vaksin footrot dalam adjuvan minyak yang secara percobaan dilaporkan vaksin ini memberikan proteksi selama 9 minggu.
Jenis vaksin yang juga dikembangkan vaksin pilli bakteri dalam Complet Freunds Adjuvant (CFA) dan dapat menghasilkan respon antibodi lebih tinggi dibandingkan vaksin sel bakteri.
7. BRUCELLOSIS
Nama lain: Penyakit Bang, Penyakit Keguguran.
Merupakan penyakit menular dan bersifat zoonosis. Kerugian yang ditimbulkan cukup besar karena gangguan reproduksi yang ditimbulkan dan berpengaruh terhadap kesehatan manusia.
Etiologi
Brucellosis disebabkan oleh Brucella sp, pada kambing oleh Brucella militensis atau Micrococcus melitensis, Bacterium melitensis atau Brucella caprine. Pada domba disebabkan oleh Brucella ovis.
Bakteri ini termasuk gram negatif, tidak motil, tidak berspora dan tidak berkapsul, ukuran 0,5-1,5x0,5-0,7 um.
Patogenesis
Bakteraemia dapat menghsilkan reaksi sistemik yang hebat pada kambing dan dalam kultur darah tetap positif selama 1 bulan, sering pula agglutinin dalam serum tidak terdeteksi. Bakteri yang terdapat dalam plasenta ditandai dengan plasentitis dan sering menyebabkan abortus. Setelah abortus, infeksi uterus tetap berlangsung selama 5 bulan dan kelenjar mammae tetap terinfeksi dalam beberapa tahun. Kesembuhan spontan dapat terjadi terutama pada kambing.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Penyakit ini tersebar luas di berbagai negara. Brucellosis yang disebabkan oleh Brucella militensis dilaporkan terjadi di Spanyol, Eropa, Amerika Tengah, Amerika Selatan dan Afrika, China, Rusia. Sedangkan yang disebabkan oleh Brucella ovis selain dilaporkan di negara-negara tersebut juga terjadi di Australia dan New Zealand. Sedanngkan Asia Tenggara dan Amerika Utara adalah bebas terhadap penyakit ini.
Hewan Terserang
Hewan yang paling peka terhadap Brucella militensis adalah kambing, sedangkan domba kurang peka. Penyakit ini dapat juga menginfeksi berbagai spesies hewan lainnya seperti sapi dan babi. Brucella ovis menyerang domba dan kebanyakan hewan percobaan adalah peka.
Pada manusia, Brucella militensis sangat patogen dan menular.
Cara Penularan
Penyakit dapat ditularkan melalui bahan tercemar, lendir vagina, plasenta tertular, susu, urin dan penularan saat kawin. Penyebaran penyakit yang meluas karena hewan tertular berpindah-pindah.
Tempat pengembalaan merupakan sumber penularan penyakit yang paling potensial karena terjadi kontak langsung atau perkawinan alam. Manusia dapat tertular karena makan daging atau minum susu dari kambing tertular.
Gejala Klinis
Hewan terserang ditandai dengan gejala abortus selama masa kebuntingan disertai keluarnya lendir dari vagina. Tingkat abortus pada domba lebih rendah dibandingkan pada kambing.
Pada infeksi percobaan ditandai dengan demam, depresi, turunnya berat badan dan terjadi diare. Brucellosis bentuk akut ditandai dengan mastitis, kepincangan, higroma dan orkitis, sinovitis dan gejala syaraf tidak biasa terjadi pada domba. Pada beberapa kasus gejala klinis tidak terlihat.
Diagnosa
Brucellosis dapat didiagnosa berdasarkan gejala klinis, isolasi dan identifikasi bakteri. Bakteri dapat diisolasi dari fetus yang digugurkan terutama dari isi lambung fetus, kotiledon atau jaringan lain, lendir vagina atau susu hewan terserang.
Reaktor dalam darah hewan terserang dapat dideteksi dengan uji Plat Rose Bengal (RBPT) dan CFT. Belakangan ini telah dikembangkan teknik ELISA sebagai uji serologis yang lebih peka dan spesifik untuk mendiagnosa brucellosis pada kambing dan domba.
Diagnosa Banding
Kambing dan domba terserang memiliki gejala klinis yang sangat mirip dengan beberapa penyakit seperti Rift Valley Fever, Wesselbron, Epididymitis yang disebabkan oleh Coryne Pseudotuberkulosis atau Actino Seminis. Kejadian abortus mirip dengan Vibriosis (Vibrio fetus), Listeriosis (Listeria monocytogenes), Salmonellosis (Salmonella abortus ovis, S. Dublin) atau Toxopasmosis (Toxoplasma tipe 2), Chlamydial Abortion dan Defisiensi Nutrisi.
Pencegahan dan Pemberantasan
Tindakan yang dilakukan yaitu melalui tindakan vaksinasi. Vaksin brucella hidup dan tidak ganas seperti vaksin Elberg’s Rev 1 telah digunakan secara luas dan efektif untuk mengendalikan brucellosis pada kambing dan domba. Vaksinasi dapat diberikan melalui tetes mata dan tingkat kekebalan yang dihasilkan bertahan sekitar 4 tahun pada kambing dan 2,5 tahun pada domba.
Pada hewan bunting tidak dianjurkan untuk melakukan vaksinasi karena dapat menyebabkan abortus dan bakteri dapt dikeluarkan melalui air susu.
8. LISTERIOSIS
Nama lain: Penyakit Berputar. Merupakan penyakit menular yang ditandai dengan abortus dan kematian fetus akibat septikemia atau ensefalitis.
Etiologi
Listeriosis disebabkan oleh Listeria monocytogenes. Bakteri ini berbentuk batang kecil, tidak berspora, motil, termasuk bakteri gram positif, tidak tahan asam dan berukuran 1-2 mikron.
Patogenesis
Bakteri masuk ke dalam tubuh melalui luka pada selaput lendir hidung, mata atau mulut dan sampai ke otak dan gejala klinis muncul tergantung syaraf cranial yang terkena.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Penyakit ini tersebar luas di berbagai negara seperti Australia (Victoria, New South Wales, Tasmania, Queensland), Amerika serikat (New York), New Zealand. Di Indonesia belum pernah dilaporkan adanya penyakit ini.
Hewan terserang
Penyakit ini paling sering menyerang domba. Sedangkan kambing dan sapi jarang terserang. Babi, kuda, rodensia, unggas dan berbagai jenis hewan liar dan termasuk manusia bisa tertular penyakit ini.
Cara Penularan
Penyakit dapat ditularkan melalui ingesti dan pernafasan. Sumber infeksi berasal dari tinja, leleran vagina atau saluran pernafasan dan dari fetus yang digugurkan. Listeria monocytogenes sering terdapat dalam tinja hewan normal dan manusia, tumbuh-tumbuhan dan dalam tanah.
Kejadian abortus pada domba cenderung tinggi jika mengalami stress terutama pada musin hujan. Bakteri dapat dikeluarkan ke dalam air susu domba tertular selama 2,5 tahun. Tanah, air, tumbuh-tumbuhan dapat menjadi sumber penularan organisme dalam periode yang lama.
Gejala Klinis
Masa inkubasi penyakit bervariasi, dari beberapa hari sampai 3 minggu. Hewan terserang ditandai dengan depresi, lemah, kurus, gerakan kaki tidak terkoordinasi, demam, gerakan berputar-putar, paralisis yang hebat dan kematian dapat terjadi dalam waktu 2-3 hari. Abortus biasanya terjadi pada kebuntingan minggu ke-12, tetapi biasanya 4 minggu terakhir sampai masa kebuntingan penuh. Hewan menjadi kurus, dan dari vagina atau uterus keluar leleran berwarna hitam, salivasi, telinga atau bibir menggantung, disfagia, nistagmus, kelumpuhan separuh otot-otot pengunyah, kadang-kadang opasitas kornea, depresi dan kejang-kejang.
Diagnosa
Penyakit dapat didiagnosa berdasarkan gejala klinis dan isolasi L. monocytogenes dari jaringan otak, hati, limpa, ginjal atau jantung. Uji serologis dapat dilakukan dengan Aglutination-immobilization test (AIT) yang dapat mendeteksi antibodi (IgG). Selain itu CFT dan FAT dan Hambatan Aglutinasi (HA) dapat digunakan. FAT dilaporkan lebih akurat untuk mendeteksi organisme di dalam jaringan tertular atau teknik yang lebih maju dengan immunohistokimia yang dapat mendeteksi antigen dalam jaringan.
Diagnosa Banding
Penyakit ini sangat mirip dengan beberapa penyakit seperti Vibrio Fetus dan Brucella Ovis yang juga dapat menyebabkan abortus.
Pencegahan dan Pemberantasan
Pengobatan penyakit pada stadium awal dengan tetrasiklin, kloramfenikol, penisilin atau streptomisin.
Untuk pencegahan dengan vaksinasi, dilaporkan pernah dilakukan vaksinasi menggunakan vaksin inaktif tetapi tidak berhasil. Selanjutnya digunakan vaksin aktif biakan dari bakteri L. monocytogenes dilaporkan memberikan respon memuaskan dan titer antibodi baru menurun setelah 3 bulan.
9. PASTEURELOSIS
Pasteurelosis merupakan penyakit menular yang bersifat akut dan septikemia pada kambing dan domba, ditandai dengan pneumonia.
Etiologi
Pasteurelosis disebabkan oleh Pasteurella multocida dan Pasteurella hemolytica.
Bakteri ini berbentuk bundar, berukuran 0,4-0,5 x 0,3 um. Bakteri gram negatif, tidak membentuk spora dan mudah ditumbuhkan pada media yang diperkaya dengan darah atau serum. Ada beberapa spesies, tetapi hanya 2 yang diketahui yaitu Pasteurella multocida dan Pasteurella haemolytica.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Penyakit ini tersebar luas di beberapa negara, seperti Australia, Pilipina, Amerika dan Eropa.
Hewan Terserang
Pasteurelosis menyerang ruminansia seperti kambing, domba, sapi, kerbau dan ternak ruminansia serta babi. Kejadian pasteurelosis pada kambing dan domba kurang hebat dibandingkan pada sapi dan kerbau. Pada kambing dan domba sering disertai dengan infeksi virus Influenza tipe 3.
Cara Penularan
Bakteri terdapat komensal pada hewan yang sehat.
Gejala Klinis
Secara percobaan, domba yang diinfeksi dengan Pasteurella hemolytica A2 menunjukkan gejala batuk, kelemahan dan nafas cepat.
Diagnosa
Penyakit dapat didiagnosa berdasarkan epidemiologi, gejala klinis, patologis dan isolasi agen. Identifikasi bakteri berdasarkan morfologi koloni dan virulensi, uji immunologis, epidemiologi molekuler.
Pasteurella multocida dan P. hemolityca yang berkapsul dan yang tidak berkapsul dapat diisolasi dari hewan. Bakteri yang berkapsul atau tidak berkapsul dapat dikenal apabila koloni bakteri pada media agar transparan tampak biru atau warna-warni. Sel bakteri yang membuat koloni biru adalah bakteri yang tidak berkapsul, tidak mengandung antigen spesifik pada permukaan sel dan menunjukkan penurunan virulensi atau tidak virulen.
Sedangkan koloni yang warna warni membentuk sel yang berkapsul. Uji immunologis dapat memperlihatkan antigen utama dari P. multocida dan P. hemolytica.
Diagnosa Banding
Penyakit memiliki gejala klinis yang mirip dengan beberapa penyakit seperti Mikoplasmosis, Trypanosomiasis atau Hemonchiasis.
Pencegahan dan Pemberantasan
Hewan sakit segera dipisah dan diobati dengan antibiotika. Kandang dan peralatannya di desinfeksi.
Hewan dapat divaksinasi dengan vaksin inaktif yang disiapkan dari bakterin Pasteurella multocida Charter’s serotype B dalam adjuvant dan disuntikkan di bawah kulit atau intramuskuler. Vaksin ini dilaporkan aman dan memberikan perlindungan pada kambing dan domba selama 7 bulan. Vaksin inaktif dapat juga disiapkan dari bakterin Pasteurella hemolytica A7 yang diinaktivasi dengan formalin dalam adjuvant minyak.
10. KOLIBASILLOSIS
Kolibasillosis adalah penyakit yang bersifat enterik dan septikemia yang ditandai dengan diare.
Etiologi
Kolibasillosis disebabkan oleh Escherichia coli, yang terdiri dari 3 antigen yaitu antigen O atau somatik, K atau kapsuler dan H atau flagella.
Dilaporkan ada 150 antigen O, 90 antigen K dan 50 antigen H. Tiap serotipe memiliki karakter berbeda-beda, beberapa serotipe dapat menyebabkan radang usus akibat enterotoksin. Serotipe ini disebut E. coli enterotoksigenik (ETEC), serotipe yang tahan panas (ST) dan tidak tahan panas (LT).
Semua ETEC menghasilkan ST dan beberapa diantaranya juga menghasilkan LT. antigen ini terkait dengan kemampuannya untuk menempel pada selaput lendir usus halus. Sedangkan strain yang bersifat septikemia memiliki kemampuan untuk menyebar ke dalam jaringan dan aliran darah. Septikemia pada anak domba disebabkan oleh serotipe O78. Semua strain bakteri memiliki endotoksin yang hanya dilepaskan jika terjadi disintegrasi bakteri.
Bakteri ini berbentuk bulat kecil, tidak berspora dan termasuk dalam bakteri gram negatif.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Penyakit ini tersebar luas di dunia
Hewan terserang
Penyakit ini menyerang semua jenis hewan, termasuk kambing dan domba. Kelompok umur terserang adalah anak domba atau kambing umur 1-2 hari dan umur 3-8 minggu, kadang-kadang umur 12 minggu.
Cara Penularan
Kolibasillosis ditularkan melalui bahan-bahan makanan dan minuman hewan tercemar bakteri. Hewan yang sehat kemungkinan dapat bertindak sebagai reservoir karena didalam susunya terdapat sejumlah serotipe E.
Morbiditas dan Mortalitas
Hewan terserang ditandai dengan tingkat morbiditas 50% dan mortalitas 5-20%.
Gejala Klinis
Kambing dan domba terserang ditandai dengan gejala septikemia dan diare. Pada kasus per akut ditandai dengan kematian mendadak, sedangkan kasus akut ditandai dengan kolaps, beberapa diantaranya ada yang menunjukkan kekakuan dan kejang-kejang. Bentuk kronis ditandai dengan radang sendi kaki dan diare. Bentuk enterik ditandai dengan diare.
Diagnosa
Penyakit didiagnosa berdasarkan gejala klinis, isolasi dan identifikasi bakteri.
Pencegahan dan Pemberantasan
Hewan yang sakit dipisahkan dan diberikan pengobatan elektrolit berupa NaCl 0,85%, Sodium Bikarbonat 1,3% (100 ml/kg bb) dan antibiotika seperti tetrasiklin, neomisin, kloramfenikol, sulfonamide, campuran trimetroprim dan sulfonamide, nitrofuraldazane dan amfisilin.
Vaksinasi yang direkomendasikan dengan menggunakan vaksin E. coli mengandung antigen K99 dilaporkan dapat melindungi hewan dari kolibasillosis.
11. SALMONELLOSIS
Salmonellosis merupakan penyakit menular hewan dan manusia, ditandai dengan demam enterik, septikemia, gastro-enteritis dan abortus.
Etiologi
Salmonellosis pada kambing dan domba disebabkan oleh Salmonella thypimurium, S. Dublin, S. anatum dan S. abortus ovis. Salmonella adalah bakteri gram negatif, berbentuk batang langsing, tidak membentuk spora, tidak berkapsul dan bersifat motil.
Bakteri ini tumbuh baik pada media umum. Pada media agar MacConkey membentuk koloni bulat, permukaannya bulat, permukaan datar dan pucat. Bakteri salmonella membentuk antigen somatik (O) yang stabil panas dan antigen flagella (H) yang tidak stabil panas. Antigen H terdiri dari tipe difase (kode angka arab 1,2 dan sebagainya). Antigen O kodenya angka Romawi I, II dan sebagainya. Selain itu dikenal antigen S (smooth), R (rough), M (mucoid) dan K (kapsuler).
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Salmonellosis tersebar luas di dunia. Di Indonesia tersebar dimana-mana baik yang menyerang hewan maupun manusia. Salmonellosis pada kambing dan domba tidak banyak dilaporkan di Indonesia.
Hewan Terserang
Semua jenis hewan peka terhadap salmonellosis. Kepekaan hewan tergantung pada umur, kondisi tubuh tubuh hospes, adanya gangguan keseimbangan flora dalam tubuh oleh pengobatan antibiotika yang terus menerus.
Cara Penularan
Penyakit ditularkan melalui makanan atau minuman hewan yang tercemar bakteri Salmonella.
Morbiditas dan Mortalitas
Hewan terserang menunjukkan tingkat morbiditas sampai 80% dan mortalitas 10-20% atau lebih.
Gejala Klinis
Hewan terserang ditandai dengan tiga bentuk penyakit yaitu bentuk enterik, septikemia, dan gastroenteritis.
Salmonellosis pada kambing dan domba hamper sama dengan sapi, bentuk akut ditandai dengan gejala demam (40,5-42°C), lesu, nafsu makan dan produksi susu menurun, diare, tinja encer mengandung darah dan lendir. Hewan yang sedang bunting dapat terjadi keguguran (abortus). Kematian dapat terjadi 3-4 hari setelah menderita sakit dan dapat sembuh dengan sendirinya setelah beberapa minggu atau bulan.
Salmonellosis bentuk subakut dapat terjadi abortus tanpa tanda-tanda sakit lainnya, sedangkan bentuk kronis dapat terjadi radang sendi (arthritis).
Diagnosa
Penyakit dapat didiagnosa berdasarkan gejala klinis, isolasi dan identifikasi penyakit. Sebagai bahan pemeriksaan di laboratorium dapat diambil specimen berupa tinja, air kemih.
Diagnosa Banding
Tanda-tanda enteritis pada kambing dan domba sangat mirip dengan Koksidiosis, Enterotoksaemia atau Disentri oleh jasad renik lainnya.
Pencegahan dan Pemberantasan
Pengobatan penyakit ini dapat dilakukan dengan terapi antibiotika seperti streptomisin, neomisin, sulfonamide, kloramfenikol, aureomisin atau oksitetrasiklin. Pengobatan dengan trimethroprim dan sulfadiazine dilaporkan sangat efektif. Kandang dan peralatan didesinfeksi dan melakukan pemberantasan vektor di sekitar kandang.
Vaksinasi pernah dilaporkan menggunakan vaksin autogenous dapat mengatasi penyakit, sedangkan menggunakan vaksin dari S. Dublin atau S. ruiru dilaporkan tidak efektif karena dapat menyebabkan abortus.
12. ENTEROTOXEMIA
Enterotoxemia merupakan penyakit menular, bersifat akut dan mematikan pada kambing, domba dan sapi yang disebabkan karena adsorpsi toksin Clostridium dari usus.
Etiologi
Enterotoxemia disebabkan oleh Clostridium welchii (C. perfringen). Berdasarkan eksotoksin yang diproduksi telah dilakukan klasifikasi ke dalam 5 tipe yaitu tipe A, B, C, D dan E. kelima tipe tersebut menghasilkan alfa toksin maupun satu atau lebih toksin yang lain.
Tipe D menghasilkan prototoksin epsilon dan bertanggungjawab terhadap timbulnya penyakit. Sedangkan tipe A menyebabkan gas gangrene pada orang, tipe B menyebabkan disentri pada domba dan tipe C menyebabkan stroke.
Patogenesis
Organisme umumnya terdapat dalam kanal saluran pencernaan dan berkembang cepat dalam usus dan sejumlah toksin dihasilkan. Toksin tersebut mempunyai kemampuan meresap masuk ke dalam dinding usus dan kemudian ke aliran darah serta menimbulkan perubahan degenerasi sel endotel pembuluh darah. Jika pertautan antara sel pecah maka cairan akan keluar dan masuk ke dalam ruang antar sel.
Banyak cairan yang berisi protein masuk ke dalam selaput pericardium, ruang peritoneal diikuti dengan perdarahan di dalam jantung yaitu subendokardium dan subepikardium. Di samping itu pada timus, agak jarang pada cortex ginjal dan berbagai otot biasanya diaphragma.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Penyakit ini tersebar luas di berberapa negara, seperti Australia (Victoria, New South Wales, Tasmania), New Zealand, Inggris dan India.
Hewan Terserang
Clostridium welchii menyerang kambing, domba dan sapi pada semua umur dan yang paling peka adalah hewan berumur muda. Pada domba terjadi pada umur 3-8 minggu, kasus kronis pada kambing pada umur dewasa. Domba jenis Inggris dan persilangan domba Merino lebih peka dibandingkan dengan domba Merino.
Cara Penularan
Penyakit ditularkan lewat makanan atau minuman yang tercemar bakteri dan luka-luka pada kulit.
Morbiditas dan Mortalitas
Kejadian penyakit cenderung tinggi di daerah yang curah hujannya tinggi, meskipun di Tasmania yang curah hujannya rendah kejadian penyakit terjadi sepanjang tahun. Tingkat mortalitas umumnya rendah, tetapi pernah dilaporkan dapat mencapai 25-30%.
Gejala Klinis
Kebanyakan kasus pada kambing adalah bentuk akut dan kronis. Bentuk akut ditandai dengan nafsu makan turun, lesu, diare dan suhu tubuh dapat turun sampai 33°C. Tinja seperti dodol dan sering berisi lendir dan darah. Kematian dapat terjadi dalam beberapa jam. Bentuk kronis ditandai dengan diare, nafsu makan tidak tentu dan depresi.
Pada domba dalam bentuk per akut, ditandai dengan kematian mendadak tanpa terlihat gejala klinis. Domba muda seringkali kejang-kejang, melompat dan terjatuh, megap-megap dan lemas, gerakan ganas, otot-otot kejang dan gigi gemertak sampai menjelang kematian. Gejala pada domba dewasa, kepala menunduk dan berbaring pada salah satu sisi, suhu tubuh biasa normal, dan kematian terjadi 1-2 jam, jika bertahan lebih lama biasanya mengalami timpani sambil menggosok-gosokkan badannya. Selain mengalami diare, tinja berbau busuk dan kondisi tubuh menurun. Beberapa kasus dapat terjadi kesembuhan. Gejala syaraf biasanya ditandai gerakan tidak terkoordinasi dan hewan tidak mampu makan dan minum, opistotonus, otot-otot gemetar dan gerakan kaki seperti mengayuh.
Diagnosa
Penyakit dapat didiagnosa berdasarkan gejala klinis dan patologis. Pemeriksaan lainnya yang spesifik adalah menentukan adanya toksin epsilon di dalam isi usus. Specimen yang dapat diambil berupa potongan usus halus terutama ileum, isi sekum dan kolon.
Untuk pemeriksaan histopatologis dapat diambil dari jaringan otak, ginjal, paru-paru, jantung, hati dan usus. Selanjutnya Clostridium welchii tipe D dapat diidentifikasi dengan uji serum netralisasi (SN) menggunakan serum antitoksin standar.
Diagnosa Banding
Enterotoxemia gejala klinisnya mirip dengan Kolibasilosis Septikemia (E. coli), tetapi pada pemeriksaan patologis tidak ditemukan cairan pericardium.
Pencegahan dan Pemberantasan
Pencegahan dengan pengobatan pada stadium awal dengan oksitetrasiklin dilaporkan efektif, tetapi pada keadaan lanjut menjadi tidak efektif karena toksin yang dihasilkan sering menyebabkan kematian mendadak. Pemberian antitoksin epsilon (10-20 ml) melalui intravena dapat membantu mengatasi penyakit. Untuk mengurangi rasa sakit dapat diberikan Pethidine dan buscopan compositum secara intravena.
Tindakan yang paling efektif adalah melakukan vaksinasi. Vaksinasi missal dilakukan 1 bulan setelah lahir dan diulang 1 bulan berikutnya. Pada kambing vaksinasi ulangan dilakukan setiap 6 bulan. Vaksinasi pada umur yang sangat muda sering tidak memberikan respon proteksi yang optimal karena terjadi netralisasi antibody maternal yang titernya tinggi pada umur tersebut. Jika dilakukan vaksinasi pertama pada umur 3 hari maka harus segera dilakukan vaksinasi ulang untuk memberikan kekebalan yang optimal.
13. TETANUS
Tetanus adalah penyakit infeksius, ditandai dengan tetani dan kejang-kejang yang disebabkan oleh toksin dari Clostridium tetani.
Etiologi
Agen penyebab tetanus adalah Clostridium tetani atau disebut juga Bacillus tetani. Bakteri ini termasuk gram positif, bentuk batang, berspora dan ukuran 0,4-0,6 mikron. Dalam jaringan dan biakan sering sendiri-sendiri, tetapi kadang-kadang berbentuk rantai.
Bakteri tumbuh baik dalam keadaan anaerobik. Pada media agar darah menyebabkan hemolisis. Media kaldu sedikit keruh, tetapi menjadi bening setelah terjadi pengendapan.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Penyakit ini tersebar luas di dunia.
Hewan Terserang
Beberapa jenis hewan peka terhadap tetanus. Yang paling peka adalah kuda, selanjutnya kambing dan domba cukup peka, sapi kurang peka sedangkan anjing dan kucing adalah tahan.
Gejala Klinis
Masa inkubasi penyakit berlangsung 3 hari sampai dengan 3 minggu, tetapi kadang-kadang dapat berlangsung dalam beberapa bulan. Gejala klinis ditandai dengan kaku atau kejang otot dan gemetar, kelenjar nictitan menonjol keluar dan kedua rahang terkatup rapat akibat tetani otot masseter. Tidak jarang disertai dengan keluarnya air liur. Jika ada suara atau tersentuh oleh suatu benda hewan mengalami hiperestetik, tiba-tiba rebah, kejang-kejang dan tubuh menjadi kaku, pungguung agak dilengkungkan, hewan tidak mampu berjalan dan akhirnya terjatuh.
Diagnosa
Tetanus merupakan salah satu penyakit yang mudah didiagnosa secara klinis. Meskipun demikian perlu juga dilakukan konfirmasi laboratorium yaitu melakukan isolasi dan identifikasi bakteri.
Diagnosa Banding
Gejala klinis tetanus khas, tetapi sering dikelirukan dengan beberapa penyakit seperti Polioensefalomalacia (nekrosis cerebrocortical).
Pencegahan dan Pemberantasan
Kandang dijaga tetap bersih dan peralatan yang digunakan untuk operasi potong ekor, tanduk, tali pusar harus steril dan hindari luka tidak tercemar debu atau tinja.
Pengobatan dengan antibiotika sering tidak efektif karena toksin yang dikeluarkan sangat cepat. Mencuci luka dengan hydrogen peroksida (H2O2) disertai pemberian penisilin dapat mencegah meluasnya infeksi. Untuk mengurangi kejang atau kekakuan otot dapat diberikan klorpromazin (0,4 mg/kg berat badan) dan diberikan melalaui intravena atau asetil promazin (0,5 mg/kg bb) 2 kali sehari selama 8-10 hari.
Jika di suatu daerah enzootik tetanus dapat dilakukan vaksinasi menggunakan toxoid dalam adjuvant. Kekebalan akan timbul 9-14 hari pascavaksinasi, dilakukan vaksinasi ulangan 1 tahun kemudian dan vaksinasi berikutnya setiap 3-5 tahun.
Imunisasi pasif dapat dilakuakan dengan menyuntikkan antitoksin tetanus di bawah kulit dengan dosis 500 unit untuk kambing dan domba dewasa, 100 unit untuk anak. Kekebalan dapat berlangsung selama 3 minggu. Jika toksin telah berikatan dengan syaraf biasanya sulit dinetralisir sehingga pemberian antitoksin tidak efesien dan efektif.
14. MASTITIS
Mastitis merupakan penyakit menular pada kambing, domba, sapi dan hewan lain ditandai dengan pembengkakan ambing dan puting susu dan menyebabkan penurunan produksi susu.
Etiologi
Mastitis pada kambing disebabkan oleh berbagai spesies bakteri Staphylococcus sp (S. aureus, S. epidedimis), Corynebacterium, Pseudomonas aeruginosa, Streptococcus agactiae, Bacillus subtilis, Aerobacter aerogenes, Nocardia kadang-kadang oleh Mycoplasma sp. Pada domba disamping oleh Staphylococcus aureus, juga dapat disebabkan oleh Pasteurella haemolytica, P. multocida, Actinobacillus dan Corynebacterium pyogenes.
Patogenesis
Faktor predisposisi adalah terjadinya luka-luka pada puting susu dan ambing, cara pemerasan susu yang tidak efisien, jeleknya bentuk susu, disamping itu karena faktor umur dan herediter. Infeksi pada ambing terjadi lewat lubang puting susu, kecuali infeksi sistemik seperti tuberculosis dan leptospirosis biasanya karena kambing dan domba terserang Orf.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Mastitis pada kambing dilaporkan terjadi di beberapa negara seperti Australia, New Zealand, Amerika Serikat dan India. Mastitis pada domba dilaporkan terjadi di Australia.
Gejala Klinis
Mastitis pada kambing lebih hebat dibandingkan pada sapi. Gejala klinis yang terlihat adalah ambing terasa panas, memebengkak dan sakit. Pada awalnya ambing tampak kemerahan, kemudian berubah menjadi kebiruan dan terakhir menjadi hitam dan gangrene sehingga sering disebut sebagai ambing hitam. Kadang-kadang gangrene mengenai satu atau kedua kelenjar mammae dan menjadi demarkasi, disamping itu produksi susu menurun bahkan berhenti sama sekali.
Diagnosa
Diagnosa dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan bakteriologis dari specimen susu yang diambil. Pemeriksaan serologis dengan uji California Mastitis (CM), Rose Bengal Plat Test (RBPT), Serum Agglutination Test (SAT), Complement Fixation Test (CFT), dan ELISA.
Diagnosa Banding
Pembengkakan pada mammae sering dikelirukan dengan oedema ambing atau ambing mengeras karena tidak menyusui dalam beberapa hari, limfadenitis yang menyebabkan abses ambing.
Pencegahan dan Pemberantasan
Pengobatan dengan antibiotika seperti Procain Penisilin dan Furaltadone efektif untuk Coliform (E. coli, Klebsiella, Aerobacter) dan Streptococcus, tetapi kurang efektif untuk Staphylococcus.
Neomisin efektif untuk Coliform tetapi kurang efektif untuk Staphylococcus dan Streptococcus. Procain Penisilin dan dihidrostreptomisin efektif untuk Coliform, Staphylococcus dan Streptococcus.
Pada kasus yang berat dapat diberikan Cortikosteroid melalui parentral. Hewan yang sakit dalam proses pengobatan diistirahatkan beberapa hari dan susu tidak dikonsumsi.
Kandang harus tetap dijaga kebersihannya setiap melakukan pemerahan susu dilakukan dengan cara yang benar, ambing dan putting susu dibersihkan sebelum diperah. Pembersihan dapat menggunakan larutan Iodophor, Hypochloride atau Chlorhexidine.
15. Q FEVER
Nama lain: Nine-Mile Fever. Merupakan penyakit menular dan bersifat zoonosa. Hewan yang terserang meliputi kambing, domba, sapi dan jenis rodensia lainnya yang ditandai dengan demam dan abortus.
Etiologi
Q Fever disebabkan oleh Coxiella burnetti. Organisme ini berbentuk bintang bipolar berukuran 0,25- 1,0 mikron. Dapat ditumbuhkan secara in vivo pada telur ayam berembrio melalui selaput kuning telur. Organisme terdapat intraseluler di dalam sitoplasma sel terinfeksi.
Patogenesis
Periode inkubasi Q Fever adalah panjang dari 2 sampai 4 minggu, dan umumnya 18-21 hari. Setelah organisme masuk ke dalam tubuh biasanya lewat abrasi kulit, selaput lendir dan inhalasi, kemudian memperbanyak diri di dalam paru-paru bersama-sama dengan aliran darah sampai ke seluruh organ. Lesi pada paru-paru berupa pneumonia adalah sama dengan lesi akibat infeksi virus yaitu infiltrasi intersisiel dan peribronkial oleh sel-sel mononuclear.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Penyakit ini dilaporkan terjadi di Afrika (Sudan), Australia (Queensland dan Brisbane), Amerika Serikat (California).
Hewan Terserang
Q Fever menyerang kambing, domba, sapi dan rodensia lain serta manusia.
Cara Penularan
Penyakit dapat ditularkan melalui kontak langsung antara hewan sakit dengan yang sehat. Penularan lewat urin, susu dan bahan-bahan tercemar lainnya.
Manusia dapat terserang karena pernah kontak dengan hewan sakit biasanya karena menangani cairan tubuh dan organ viscera selama pemotongan hewan atau menangani kelahiran. Pekerja-pekerja di rumah potong hewan, peternak, dokter hewan, dan pekerja di laboratorium beresiko tinggi terserang Q Fever.
Caplak merupakan vektor biologis atau mekanis yang paling potensial dalam penularan penyakit.
Gejala Klinis
Hewan terserang ditandai dengan nafsu makan turun, demam, sesak nafas dan terjadi abortus.
Diagnosa
Penyakit dapat didiagnosa dengan melakukan isolasi agen dari darah, sputum, urin, susu segar, plasenta, dan hati fetus. Antibodi dapat dideteksi dengan menggunakan uji aglutinasi mikro dan CFT. Organisme dapat dideteksi menggunakan pemeriksaan mikroskop biasa setelah diwarnai Giemsa, Castaneda atau Macchiavello.
Pencegahan dan Pemberantasan
Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian antibiotika, seperti tetrasiklin dan doksisiklin. Tindakan pencegahan dengan melakukan pasteurisasi susu dengan baik yaitu pemanasan pada suhu 71,7°C selama 15 detik atau 62,8°C selama 30 menit.



Artikel Terkait:

Bookmark and Share

1 Komentar:

Anonim mengatakan...

Maaf Mas, untuk Penyakit Athrax : Kejadian di Kambing sbenarnya sangat-sangat Jarang jd bisa di bilang tidak begitu mengkhawatirkan.
Tp di artikel anda tidak ada keterangan spt yang sya sampaikan.
TERIMA KASIH

Poskan Komentar

Terima kasih sudah mampir di blog ini dan jangan lupa tuliskan komentar anda. JANGAN SPAM...Oke!

  © Blog drhyudi by Ourblogtemplates.com

BACK TO TOP