Blog Drh. YUDI Selamat Datang di Blog ini Dan Saya Mengundang Siapa Saja yang Hobi Menulis untuk Berbagi Pengetahuan Terkait Kesehatan Hewan, Peternakan dan Tulisan Lain sesuai Tema Blog Ini. Tulisan dapat dikirimkan ke swwahyudi@gmail.com atau surya_rafi06@yahoo.co.id, Terima Kasih Blog Drh. YUDI IPTEK: Badai Matahari Diprediksi Muncul Tahun 2012-2015 dan Tidak Akan mengancam Keselamatan Manusia dan Bukan Pertanda Kiamat Seperti yang Sempat Diisukan. Studi baru para ilmuwan mengunngkap bahwa bumi ternyata memiliki 8,8 juta spesies, tetapi baru seperempatnya saja yang berhasil ditemukan. Demikian yang dipublikasikan di jurnal online PLoS Biology Blog Drh. YUDI Penelitian oleh para ahli di Universitas Nottingham, Inggris ditemukan bahwa kecoa dapat menjadi sumber antibiotik. Dalam penelitian terhadap kecoa dan belalang tersebut ditemukan sembilan jenis zat kimia antimikrobakteri di otak serangga itu dan cukup kuat membunuh Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) tanpa melukai sel dalam tubuh manusia.Blog Drh. YUDI KESEHATAN: Yersinia pestis dipastikan sebagai penyebab wabah "Kematian Hitam (Black Death)" yang terjadi sekitar 600 tahun lalu di Eropa. Diperkirakan 75 juta orang meninggal akibat wabah tersebut. Blog Drh. YUDI

Penyakit Viral Hewan Kecil

1. BLUETONGUE
Nama lain: Ovine Catarrhal Fever (OCF), Penyakit Lidah Biru, atau di Indonesia dikenal sebagai BT.
Merupakan penyakit menular pada domba ditandai dengan stomatitis kataral, rhinitis, enteritis, pincang karena peradangan sarung kuku, abortus, kerdil dan hyperplasia limforetikuler. Bluetongue kadang-kadang juga menyerang kambing dan sapi dengan gejala tidak kentara, tetapi penyakit ini dapat serius pada beberapa spesies hewan liar khususnya rusa ekor putih (Odocoileus virginianus) di Amerika Utara.
Penyakit ini sangat penting artinya pada domba, dengan tingkat keganasan yang beragam dari subklinis sampai serius tergantung kepada galur virus, bangsa domba, dan ekologi setempat. Kerugian timbul akibat kematian dan buruknya kondisi domba yang bertahan hidup.
Etiologi
Bluetongue disebabkan oleh Orbivirus dari famili Reoviridae. Virus ini memiliki antigenik atau sifat biokimia yang sama dengan penyakit Epizootic Haemorrhagic pada rusa dan Ibaraki pada sapi.
Di dunia terdapat 24 strain virus BT dan beberapa serotipe terjadi reaksi silang. Distribusi serotipe di masing-masing Negara berbeda-beda.

Patogenesis
Virus BT mengadakan perbanyakan dalam sel hemopoietik dan sel endotel pembuluh darah, yang kemudian menyebabkan lesi epithelial BT yang tersifat. Viremia biasanya terjadi pada stadium awal penyakit. Domba dewasa kadang-kadang menderita viremia paling lama 14-28 hari, dan pada sapi virus dapat bertahan selama 10 minggu.


Epidemiologi
Distribusi Geografis
Bluetongue tersebar luas di dunia. Afrika dilaporkan telah ditemukan lebih dari 100 tahun lalu, kemudian terjadi pula di Siprus, Yunani, Israel, Portugal, Spanyol, Turki, Lebanon, Oman, yaman, Syria, Saudi Arabia, Mesir, Pakistan, India, Bangladesh, Jepang, Amerika Serikat, Amerika Latin, Kanada, Australia, New Zealand, Papua New Guinea, Thailand, Malaysia dan Indonesia.
Di Indonesia ditemukan pada beberapa propinsi, diantaranya Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Papua, Bali, NTB, NTT, dan Timor Leste terdeteksi antibodinya.
Hewan Terserang
Bluetongue menyerang domba, kambing, sapi, kerbau, dan ruminansia lain seperti rusa. Domba merupakan hewan paling peka terutama yang berumur 1 tahun, sedangkan anak domba yang masih menyusui relative tahan karena telah memperoleh kekebalan pasif dari induk (antibodi maternal) dan antibodi ini biasanya bertahan sampai 2 bulan.
Ras domba Inggris dan Merino lebih peka dibandingkan dengan domba Afrika.
Cara Penularan
Penyakit terutama ditularkan melalui vektor Culicoides sp. Berbagai spesies telah dilaporkan yaitu Culicoides pallidipennis, C. variipennis, C. brevitarsis, C. marksi, C. immicola, C. insignis, C. wadai, C. actoni, C. orientalis, C. shortii, dan C. peregrines.
Kebanyakan kasus BT terjadi pada akhir musim panas dan awal musim gugur saat populasi vektor tinggi. Tidak terjadi penularan secara kontak dan kejadian penyakit adalah musiman. Kejadian penyakit di suatu daerah terjadi karena ada domba, kambing atau sapi terinfeksi masuk bersama-sama dengan vektor.
Penularan penyakit melalui pasenta dapat terjadi, tetapi virus ini tidak ditularkan melalui kontak atau melalui produk hewan terinfeksi.
Distribusi vektor Bluetongue di dunia
Negara
Serotipe
Australia C. brevitarsis, C. Wadai, C. actoni, C. fulvus
Spanyol C. imicola
Turki C. imicola
Afrika Selatan C. imicola
Amerika Serikat C. variipennis, C. insignis
Papua New Guinea C. brevitarsis, C. wadai, C. actoni, C. fulvus,
C. brevipalpis, C. perregrinus, C. orientalis, C. nudipalpis dan C. acystoma
Kepulauan Solomon C. brevitarsis
Indonesia C. brevitarsis, C. wadai, C. actoni, C. fulvus, C. acystoma, C. brevipalpis, C. perregrinus, C. orientalis, C. nudipalpis dan C. flavipunctatus
Inggris C. imicola
Malaysia C. perregrinus, C. orientalis dan C. shortti

Morbiditas dan Mortalitas
Tingkat morbiditas dan mortalitas bervariasi tergantung dari populasi vector dan status hewan. Jika penyakit terjadi pertama kali di suatu daerah maka tingkat morbiditas bias mencapai 50-75% dan mortalitas 20-50%, selanjutnya setelah terjadi kekebalan kelompok dan populasi vektor rendah maka tingkat morbiditas dan mortalitas menjadi rendah pula.
Gejala Klinis
Pada infeksi percobaan, masa inkubasi penyakit 2-4 hari, ditandai dengan demam tinggi (40,5-41°C) yang berlangsung 5-6 hari.
Pada domba, penyakit ini dicirikan oleh demam yang dapat berlangsung beberapa hari sebelum hiperemia, pengeluaran air liur berlebihan (hipersalivasi), dan buih pada mulut menjadi kentara; cairan hidung pada awalnya encer kemudian menjadi kental dan bercampur darah. Bibir , lidah, gusi dan bantalan gigi bengkak dan oedema. Jika selaput lender mulut terkikis lama-kelamaan akan berubah menjadi bentuk luka dan air liur terangsang keluar dan mulut berbau busuk.
Luka-luka tersebut juga dapat ditemukan di bagian samping lidah. Hewan sulit menelan ludah dan gerak pernafasannya meningkat, sering pula diikuti dengan diare dan disentri. Luka juga dapat ditemukan pada teracak mengakibatkan kaki pincang dan, sering rebah-rebah, malas berjalan dan menyebabkan rasa sakit yang hebat. Kepala sering dibengkokkan ke samping mirip penyakit milk fever. Bulu-bulu wool rontok dan kotor.
Penyakit yang menyerang rusa serupa, sebaliknya pada sapi tidak kentara dan jarang bersifat akut. Pada pedet dan anak domba yang terinfeksi in utero, viremia dapat terjadi pada saat lahir dan berlangsung sampai beberapa hari.
Pada kambing, gejala yang terlihat berupa demam, konjungtivitis, lekopenia dan kemerahan pada selaput lender mulut.
Diagnosa
Bluetongue dapat didiagnosa berdasarkan epidemiologis, gejala klinis, patologis, isolasi dan identifikasi virus. Kambing yang memperlihatkan lekopenia, limfopenia dan anemia adalah konsisten seperti pada domba. Antigen virus BT dalam C. variipennis dapat dideteksi dengan FAT, sedangkan antibodi grup spesifik dapat dideteksi pada minggu pertama atau kedua pascainfeksi dengan beberapa uji serologis seperti agar gel precipitation (AGP), enzyme linked immunosorbent assay (ELISA) immunoprecipitating dan immunoblotting. Antibodi virus spesifik dapat dideteksi dalam waktu 9 hari pascainfeksi dengan competitive ELISA (C-ELISA). Semua protein virus struktur dan non struktur dapat dideteksi dengan immunoblotting atau dot blot immunobinding assay (DIA) dan immunoprecipitation serta fragmen DNA dapat dideteksi dengan polymerase chain reaction (PCR).
Virus BT sering sulit diisolasi di laboratorium. Peluang untuk mengisolasi virus meningkat bila darah diambil dari hewan yang menunjukkan tanda-tanda klinis awal atau demam yang hebat, dan isolasi virus kemungkinan besar berhasil bila lapis sel darah putih diinokulasikan secara intravena ke dalam embrio ayam umur 10 atau 11 hari.
Diagnosa Banding
Penyakit ini memiliki gejala klinis yang sangat mirip dengan penyakit Epizootic Haemorrhagic pada rusa, tetapi dapat dibedakan secara serologis dan sifat pertumbuhan virus pada telur ayam berembrio disamping itu tingkat kematian pada epizootic haemorrhagic tinggi dan menyerang segala umur.
BT juga mirip dengan beberapa penyakit, Orf atau Contagious Ecthyma, Ulcerative Dermatosis dan Sheep Pox. Sheep pox umumnya ditandai dengan tingkat kematian yang tinggi dengan lesi pox yang tersifat.
Pencegahan dan Pemberantasan
Virus BT sekarang diketahui dapat menginfeksi ruminansia di tiap benua yang ada ternaknya. Geografi dan iklim mendorong terjadinya epidemik lidah biru di daerah tertentu tergantung kepada masuknya vektor serangga ke daerah yang ternaknya rentan.
Hewan yang sakit dipisah dan tidak memasukkan hewan tertular ke daerah yang bebas. Melakukan penyemprotan dengan insektisida pada kandang atau lokasi disekitarnya untuk mengurangi populasi nyamuk dan vektor mekanis lainnya.
Pengendalian melalui vaksinasi sangat perlu di daerah endemik virus BT yang virulen. Vaksin BT telah dikembangkan yaitu vaksin hidup dan vaksin mati. Vaksin hidup yang dilemahkan seringkali menimbulkan kasus pascavaksinasi, sedangkan vaksin mati lebih aman, akan tetapi daya rangsangan pembentukan antibodi sangat lemah dan pemberian dosis yang besar.
Penelitian selanjutnya dikembangkan vaksin rekayasa genetik yaitu digunakan vaksin yang berasal dari protein P2 virus BT dan disuntikkan 3X100mcg P2 yang dapat memproteksi 100% dan titer antibodi yang tinggi setelah 40-42 hari.



2. Penyakit Border
Nama lain: Air Shaker Disease, Hypomyelinogenesis Congenita
Penyakit ini menular pada domba, kambing dan kuda yang ditandai dengan abortus dan gejala syaraf.
Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh Pestivirus dari family Togaviridae, yang secara serologis memiliki hubungan yang sangat dekat dengan penyebab Bovine Viral Diarrhea (BVD), Hog Cholera, Rubella Virus pada manusia dan Equine Arteritis Virus.
Virus penyebab penyakit berbentuk bulat dengan ukuran 100 nm, dan tersusun atas materi genetik RNA. Secara biologis virus ini dapat ditumbuhkan secara in vitro pada biakan sel tanpa efek sitopatik.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Penyakit ini tersebar luas di beberapa Negara, seperti Inggris, Skotlandia, Jerman, Amerika Serikat, Swiss, Yunani, New Zealand dan Australia. Di Indonesia belum pernah dilaporkan.
Hewan Terserang
Penyakit ini terutama menyerang domba dan secara percobaan dapat menulari kambing dan pada induk yang bunting sering menyebabkan keguguran.
Cara Penularan
Penyakit ditularkan melalui kontak langsung antara hewan yang sakit atau hewa yang terinfeksi persisten sering menyebabkan wabah jika masuk ke peternakan domba yang peka. Disamping itu dapat terjadi penularan vertikal dari induk kepada anaknya.
Morbiditas dan Mortalitas
Hewan terserang pada saat wabah ditandai dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Mortalitas dapat mencapai 90%.
Gejala Klinis
Hewan terserang ditandai dengan gejala gemetar, abortus dan anak yang dilahirkan dalam keadaan lemah atau mati. Kematian dapat terjadi 1-3 minggu setelah gejala klinis muncul. Apabila hewan dapat hidup maka secara perlahan-lahn menunjukkan gejala syaraf. Bulu atau wool terlihat kusam atau abnormal. Infeksi persisten biasa terjadi tanpa diikuti gejala klinis.
Diagnosa
Penyakit dapat didiagnosa berdasarkan gejala klinis, patologis dan isolasi virus. Pemeriksaan histopatologis dari jarinngan otak dapat diperlihatkan adanya badan inklusi Joest-Degen. Identifikasi virus dengan berbagai uji serologis seperti Complement Fixation Test (CFT), Agar Gel Precipitation (AGP), Serum Netralisasi (SN) dan Peroxidase-Anti Peroxidase Immunoassay (PAPI).
Diagnosa Banding
Penyakit ini mirip dengan beberapa penyakit, antara lain Bovine Viral Diarrhea (BVD) dan Sporadik Bovine Encephalomyelitis (SBE) pada sapi. Equine Viral Encephalomyelitis (EVE), Japanese Encephalitis (JE), Tetanus, Botulism, Hepatic Encephalopathy dan keracunan tanaman Indigophera pada kuda. Scrapie dan Maedi-Visna pada domba serta Hog Cholera pada babi.
Pencegahan dan Pemberantasan
Pencegahan dilakukan dengan memisahkan hewan yang sakit dan melakukan tindakan karantina yang ketat. Tidak ada obat yang efektif untuk mengobati penyakit ini. Hewan yang sakit dipotong bersyarat, sedangkan yang mati harus ditanam yang dalam atau dibakar. Kandang didesinfeksi dengan desinfektan kuat seperti formalin atau NaOH.
Tindakan yang paling efektif untuk mencegah meluasnya penyakit adalah dengan melakukan vaksinasi, namun saat ini belum tersedia vaksin untuk penyakit ini.

3. Penyakit Cacar
Nama lain Sheep Pox dan Goat Pox, merupakan penyakit menular yang ditandai dengan lepuh eritematus pada kulit. Penyakit ini sangat merugikan secara ekonomi karena menyebabkan penurunan produksi susu dan daging.
Etiologi
Agen penyebab cacar domba dan kambing adalah Capripoxvirus dari family Poxviridae. Virus ini tersusun atas DNA dan berukuran diameter 200-250x150-200 mikron.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Penyakit ini tersebar luas dibeberapa negara seperti Spanyol, Portugal, Negara-negara Skandinavia, Amerika Serikat, Mesir, Etiopia, Kenya, Rusia, China, India, Pakistan dan Australia. Di Indonesia belum pernah dilaporkan.
Hewan Terserang
Penyakit ini menyerang domba dan kambing. Domba jenis Merino dan Eropa lebih peka dibandingkan domba Afrika dan Timur Tengah. Di India, cacar kambing pernah dilaporkan menular ke manusia yang ditandai dengan lesi-lesi pustula pada kulit.
Cara Penularan
Penyakit ini ditularkan melalui kontak lanngsung antara hewan yang sakit dengan yang sehat. Penularan melalui sekresi hidung, saliva dankeropeng kulit. Disamping itu juga dapat melalui bahan-bahan yang tercemar virus.
Morbiditas dan Mortalitas
Tingkat morbiditas umumnya tinggi dan mortalitas pada kasus yang hebat dapat mencapai 50-100%.
Gejala Klinis
Masa inkubasi penyakit adalah 2-14 hari yang ditandai dengan gejala depresi, demam tinggi (42°C), nafsu makan turun, konjungtivitis, dari mata dan hidung keluar leleran encer sampai berlendir. Hewan dapat mati mendadak sebelum lesi tipikal terlihat.
Lesi-lesi pox pada kulit dapat ditemukan terutama di bagian kulit yang jarang atau tidak berbulu seperti mulut, bibir, kelopak mata, gusi, cungur, ambing, bibir vulva, skrotum dan bagian bawah pangkal ekor. Lesi-lesi pox diawali dengan kemerahan dan oedema, kemudian berkembang menjadi nodula dengan diameter 0,5-1,5 cm. Nodul ini berubah menjadi pustula dan lepuh yang berisi eksudat. Apabila lepuh pecah akan berubah menjadi keropeng.
Diagnosa
Penyakit dapat didiagnosa berdasarkan gejala klinis, patologis dan isolasi agen penyebab. Specimen untuk isolasi virus dapat diambil dari jaringan keropeng kulit atau lepuh. Disamping itu juga dapat melakukan pengambilan serum.
Isolasi dari jaringan tertular kemudian disuntikkan pada biakan sel. Identifikasi virus dapat dilakukan dengan uji serologis seperti AGP, Counter Current Immunoelectrophoresis (CCIEP), Capillary Tube Aglutination (CTA), Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA).
Diagnosa Banding
Cacar domba dan kambing memiliki gejala klinis yang sangat mirip dengan Contagious Ecthyma Virus (CEV), Bluetongue, Peste des Petits, Dermatitis Jamur, Scabies atau Fotosensitisasi
Pencegahan dan Pemberantasan
Tindakan pencegahan yang dilakukan adalah memisahkan ternak yang sakit dengan yang sehat, disamping melakukan tindakan karantina yang ketat terhadap keluar masuknya domba dan kambing.
Vaksinasi dapat dilakukan sebagai tindakan pencegahan. Vaksin yang telah dikembangkan yaitu vaksin Pox aktif dari virus Pox kambing strain Ranchi (India). Vaksin ini dilaporkan tidak menyebabkan kasus pascavaksinasi meskipun terjadi reaksi pada tempat suntikan. Aplikasi vaksinasi dilakukan 2 kali yaitu disuntikkan 4 ml di bawah kulit dan diulang 15 hari kemudian dengan menyuntikkan 2 ml vaksin.


4. Ecthyma Contagiousa
Nama lain: Orf, Contagious Pustular Dermatitis, Infectious Labial Dermatitis, Scaby Mouth atau Soremouth.
Penyakit ini merupakan penyakit dermatitis akut dan menular pada kambing dan domba ditandai dengan bentukan papula, vesikula, pustula dan keropeng pada kulit.
Etiologi
Penyakit disebabkan oleh virus Parapoxvirus dari family Poxviridae. Virus ini secara imunologis mirip dengan Vacciniavirus penyebab Pseudo-cowpox dan Bovine Papular Stomatitis.
Patogenesis
Virus Orf tidak menyebabkan kerusakan epidermis tetapi mengadakan replikasi di dalam sel lapisan epidermis yang ada di bawahnya dan menyebabkan peningkatan pembelahan sel. Hal ini didahului dengan degenerasi sel, akumulasi cairan radang dan pembentukan vesikel. Reaksi kulit terdiri dari respon seluler dengan nekrosis dan melepasnya epidermis yang terserang dan stratum papilla dermis. Penyembuhan dapat terjadi secara lengkap dengan terbentuknya epidermis ketiga yang berasal dari bagian terdalam dari folikel bulu.
Infeksi cutaneus yang terjadi sebelumnya tidak melindungi masuknya kembali penyakit, kendati daerah kulit yang sama dan juga lesi kurang hebat dan persisten untuk periode yang pendek.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Penyakit tersebar luas di beberapa negara seperti Australia, China, Sri Lanka, Malaysia, Pilipina dan Indonesia.
Di Indonesia tersebar hamper di seluruh daerah dan umumnya terjadi pada musim kemarau (kering).
Hewan Terserang
Penyakit ini terutama menyerang kambing dan domba. Dapat pula menyerang sapid an beberapa kasus terjadi pada orang terutama yang bekerja pada peternakan kambing dan domba.
Pada hewan percobaan penyakit dapat ditularkan pada kelinci, sedangkan marmot dan tikus kurang peka.
Kelompok umur 3-6 bulan merupakan kelompok yang paling peka terinfeksi penyakit, meskipun hewan dewasa yang menginjak umur setahun juga terserang.
Cara Penularan
Penularan melalui kontak langsung antara hewan sakit dengan yang sehat. Penularan dapat juga terjadi melalui makanan yang tercemar virus dari keropeng kulit.
Morbiditas dan Mortalitas
Hewan terserang ditandai dengan tingkat morbiditas yang tinggi mencapai 90% pada hewan muda, tetapi mortalitas relative rendah. Kematian hewan biasanya diakibatkan oleh infeksi sekunder bakteri.
Gejala Klinis
Masa inkubasi penyakit 2-3 hari. Mula-mula lesi berupa bentukan nodul kecil berubah menjadi nodul lebih besar berukuran 0,5 cm dan menebal. Nodul ini berubah menjadi papula, vesikula atau pustula pada daerah sekitar mulut. Vesikula hanya terlihat beberapa jam kemudian pecah. Isi vesikula berwarna putih kekuningan, yang kemudian menjadi keropeng tebal berwarna keabu-abuan menutup daerah yang luka.
Lesi-lesi tersebut ditemukan pada bibir, sudut mulut, gusi dan meluas sampai esophagus, cungur, mukosa hidung, sekitar kulit yang jarang bulu di pangkal ekor, teracak, telinga, sekitar anus dan vulva serta putting susu dan ambing.
Infeksi pada putting susu dan ambing sering menyebabkan mastitis ditandai dengan nekrosis kuarter. Pada infeksi yang hebat lesi dapat meluas sampai saluran pencernaan yang dapat menyebabkan gastroenteritis bahkan meluas sampai ke saluran pernafasan dan menyebabkan bronchopneumonia.
Diagnosa
Diagnosa penyakit berdasarkan gejala klinis, patologis, isolasi dan identifikasi virus. Specimen untuk isolasi virus dapat berupa potongan keropeng kulit. Disamping itu dapat berupa serum untuk mendeteksi antibodi.
Identifikasi virus dengan berbagai uji serologis seperti CFT, AGP dan SN atau pemeriksaan dengan mikroskop elektron.
Diagnosa Banding
Penyakit ini mirip Bluetonngue, tetapi pada BT ditandai dengan mortalitas tinggi. Penyakit ini juga mirip dengan cacar kambing atau domba.
Pencegahan dan Pemberantasan
Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk penyakit ini, namun dengan pengeluaran keropeng kemudian diobati dengan yudium dan salep antibiotika dapat mmengurangi infeksi sekunder. Hewan yang sembuh akan kebal selama 2-3 tahun. Anak-anak kambing atau domba berasal dari induk yang kebal tidak dapat dilindungi dari kolostrum.
Vaksinasi adalah cara terbaik untuk mencegah penyakit. Vaksinasi dilakukan pada umur 6-8 bulan menggunakan autovaksin yang dibuat dari keropeng kulit dalam gliserin 50% dan vaksin yang dibuat dari biakan sel testis sapid an domba. Aplikasi vaksinasi dengan mengoleskan vaksin pada kulit paha bagiian dalam atau telinga.
Kesembuhan terjadi secara sempurna setelah 3-4 minggu pascavaksinasi, hal ini menunjukkan telah terjadi kekebalan dan dapat berlangsung selama kurang lebih 2 tahun. Sedangkan vaksin dari biakan sel testis sapid an domba dapat memberikan kekebalan selama 3-5 bulan.
5. Scrapie
Nama lain: Tremblant du Moulton atau Rida.
Merupakan penyakit neuro degeneratif menular pada kambing dan domba ditandai dengan degeneratif bersifat progresif dan penyakit ini termasuk Transmissible Spongioform Encephalopathy (TSE) seperti halnya Penyakit Sapi Gila (Mad Cow) atau Bovine Spongioform Encephalopathy (BSE), Chronic Wasting Disease (CWD) yang menyerang rusa. Feline Spongioform Encephalopathy (FSE) pada kucing di Inggris, penyakit pada manusia seperti Penyakit Creutzfeldt-Jacob (CJ), Alzheimer, Syndroma Gerstmann-Straussler (GS), Fatal Familial Insomnia dan penyakit Kuru yang menyerang suku Fore di dataran tinggi bagian Utara Papua New Guinea.
Penyakit di atas sama dengan penyakit scrapie berdasarkan patogenesis dan perubahan histopatologisnya, yang ditandai dengan periode inkubasi sangat panjang dari beberapa bulan sampai puluhan tahun dan diakhiri dengan kematian.
Etiologi
Scrapie disebabkan oleh agen menyerupai virus atau Provirus. Agen virus ini tidak mempunyai asam inti. Virus ini berukuran sangat kecil yaitu kurang dari 50 mu. Virus dapat ditumbuhkan secara in vitro pada biakan sel lestari seperti sel Phaeochromocytoma tikus (PC12).
Patogenesis
Predileksi virus terutama pada jaringan limfositik. Pada jaringan ini virus pertama kali melakukan reflikasi sebelum menyerang jaringan lain seperti plasenta, membrana fetus, hati, pankreas (Pulau Langerhans) dan sistem syaraf.
Plasenta dan membrana fetus dari induk tertular mengandung virus dengan titer tinggi yang kemungkinan menjadi sumber penularan pada anak yang baru dilahirkan. Munculnya gejala kinis erat kaitannya dengan lamanya virus dalam sistem syaraf. Hewan yang terserang penyakit ini memperlihatkan peningkatan mRNA, apoliprotein E (apoE) dan Cathepsin D (CD) di dalam astrosit.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Penyakit scrapie pada domba telah diketahui sejak lebih dari 200 tahun lalu. Penyakit ini sebelumnya tidak banyak mendapat perhatian, namun semenjak ada kasus BSE di Inggris maka perhatian para ilmuwan dan pembuat kebijakan veteriner terhadap scrapie meningkat karena diasumsikan bahwa sapi yang terserang BSE karena makan tulang dan daging yang mengandung material dari domba yang tertular scrapie.
Penyakit ini tersebar luas dan bersifat enzootik di Inggris, Belanda, Australia, New Zealand, Amerika Utara dan Selatan termasuk 29 negara bagian di Amerika Serikat, India dan Afrika Selatan. Di Indonesia belum pernah dilaporkan.
Hewan Terserang
Domba merupakan salah stu hewan yang paling peka, meskipun kambing secara spontan dapat terserang. Domba yang paling banyak terserang yaitu domba yang berumur 18 bulan. Penyakit jarang muncul pada ternak yang berumur kurang dari 2 tahun dan lebih dari 10 tahun. Terdapat bukti kuat adanya pengaruh genetik terhadap kepekaan domba dan kambing terhadap penyakit. Domba Suffolk tampak lebih peka dari keturunan lainnya.
Cara Penularan
Penularan melalui kontak langsung antara domba atau kambing sakit dengan yang sehat. Virus penyebab tidak terdapat dalam air liur, susu, urin maupun tinja. Namun dari lekosit darah tepi dan air susu domba yang sedang laktasi telah diisolasi virus. Berdasarkan temuan tersebut diduga bahwa kelenjar mamae dianggap sebagai target organ dan sebagai penyebar virus.
Penularan lainnya melalui congenital atau plasenta tertular yang kemudian dimakan oleh induknya. Pada hewan percobaan hamster kanibal dapat tertular virus setelah makan hamster tertular scrapie dan gejala klinis baru muncul setelah 100-160 hari.
Morbiditas dan Mortalitas
Domba terserang ditandai dengan tingkat morbiditas 20-40% dan mortalitas 100%.
Gejala Klinis
Masa inkubasi penyakit pada infeksi alam sangat bervariasi dari beberapa bulan dan 1-5 tahun. Pada infeksi percobaan antara 7-34 bulan. Hewan terserang ditandai dengan gejala syaraf yang dapat terjadi dalam beberapa minggu atau muncul dalam keadaan stress.
Hewan tiba-tiba kolaps dan tingkah lakunya berubah secara tiba-tiba. Rasa gatal-gatal pada kulit di daerah pantat, paha dan pangkal ekor dan bersifat bilateral. Selanjutnya otot-otot gemetar, gerak tidak normal dan kekurusan yang hebat. Bulu-bulu rontok akibat berbaring terus menerus dan mengais dengan jari kaki depan diikuti menggigit-gigit kaki depan. Hematoma telinga dan pembengkakan muka karena berbaring terlalu lama.
Beberapa kasus hewan mengalami nystagmus akibat gerakan kepala berputar ke samping. Gejala lain yaitu hewan tidak mampu menelan, muntah dan buta.
Diagnosa
Penyakit ini didiagnosa berdasarkan epidemiologi, yaitu penyakit berjalan sangat lambat dan tingkat mortalitas yang tinggi. Berdasarkan gejala klinis yang ditandai dengan masa inkubasi panjang dengan gejala gatal-gatal, inkoordinasi anggota gerak dan kelumpuhan yang terjadi selama berlangsungnya penyakit. Disamping itu juga peneguhan diagnosa berdasarkan perubahan patologis dan transmisi percobaan.
Antigen dalam air susu dan lekosit darah tepi kambing yang terinfeksi dapat dideteksi dengan AGP dan ELISA. Fibril dalam otak tertular dapat dideteksi dengan pemeriksaan mikroskop elektron. Dengan teknik baru yang dikembangkan seperti Western Immunoblotting, Immunohistochemical dapat mendeteksi protein prion (PrP ) menggunakan antiserum kelinci yang disiapkan dengan recombinant PrP subunit antigen. Perubahan ekspresi gen terhadap aktivasi astrosit dalam lesi patologis dapat diidentifikasi dengan In Situ hybridization dan immunohistokimia.
Diagnosa Banding
Scrapie sangat mirip dengan berbagai penyakit seperti Alzheimer’s terutama lesi-lesi pada system syaraf pusat yaitu terjadinya astrositosis, deposisi amiloid, vakuolisasi, hilangnya neuron dan distrofi neuroaxonal, peningkatan apoliprotein E dan Cathepsin D, mRNA dan protein yang terjadi dalam astrosit yang diaktivasi. Penyakit ini mirip dengan Louping ill, Pseudorabies, Fotosensitisasi Dermatitis, Toxaemia Pregnansi dan Ektoparasit.
Pencegahan dan Pemberantasan
Hewan yang sakiit dipisah dan dipotong paksa, kandang atau tempat padang pengembalaan harus dikosongkan selama 2 bulan. Kandang didesinfeksi dengan larutan desinfektan kuat. Tidak ada obat yang efektif untuk penyakit ini.
Vaksin untuk scrapie saat ini belum tersedia.
6. Penyakit Mulut dan Kuku
Nama lain: Aphthae Epizootica (AE), Aphthous Fever, Infectious Aphthous Stomatitis, PMK.
Merupakan penyakit yang sangat menular dan akut pada hewan berkuku genap, yang ditandai dengan demam dan lepuh pada mulut dan kuku.
Etiologi
Agen penyebab penyakit adalah Aphtovirus dari famili Picornaviridae. Tipe antigenik virus PMK ada 7 yaitu O, A, C, SAT-1, SAT-2 dan SAT-3. Diantara strain tersebut memiliki strain bawah yang berbeda secara serologis dan karakter imunologis serta virulensi yang berbeda.
Materi genetik virus tersusun atas RNA beruntai tunggal, bentuk ikosahedral simetri tidak beramplop dan berukuran 20-30 nm.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
PMK tersebar luas di beberapa negara dan bersifat enzootik di Afrika, Eropa, dan Asia. Negara bebas Jepang, Pilipina, Amerika Serikat, Australia dan New Zealand.
Hewan Terserang
PMK menyerang hewan berkuku genap. Kambing dan domba peka secara alami dan percobaan. Domba dapat bertindak sebagai reservoir yang tetap selama 5 bulan karena virus tersembunyi di dalam faring, sedangkan kambing dapat sebagai reservoir yang tidak menentu.
Cara Penularan
Penularan penyakit melalui inhalasi dan ingesti. Penularan melalui angin dilaporkan dapat menjangkau 60 km.
Segera setelah infeksi, virus terdapat dalam darah dan air susu, air liur sebelum terdapat lepuh pada mulut. Semua ekskresi, urin, air susu, tinja dan semen menjadi infektif sebelum gejala klinis terlihat dan dalam waktu yang singkat setelah gejala klinis berlalu.
Morbiditas dan Mortalitas
Kambing dan domba terserang ditandai dengan tingkat morbiditas yang cukup tinggi, akan tetapi mortalitas sangat rendah.
Gejala Klinis
Masa inkubasi pada kambing dan domba umumnya 3-8 hari, ditandai dengan demam selama 2-4 hari, lesi pada selaput lender mulut dan teracak yang mengakibatkan jalan pincang dan produksi susu turun. Terdapat lepuh-lepuh pada lidah, gusi, puting susu, vulva, teracak dan jika lepuh tersebut pecah meninggalkan luka segar dan berbentuk keropeng.
Diagnosa
Diagnosa PMK berdasarkan epidemiologis, gejala klinis, patologis, isolasi dan identifikasi virus. Secara serologis dapat dideteksi dengan CFT, SGP,VN, ELISA serta melakukan transmisi percobaan pada mencit, marmot dengan menyuntikkan cairan lepuh ke dalam telapak kaki.
Diagnosa Banding
Gejala klinis PMK mirip dengan Vesicular Stomatitis, Vesicular Exanthema, Bluetongue, Bovine Viral Diarrhea (BVD-MD), Malignant Catharal Fever (MCF) dan Penyakit Jembrana.
Pencegahan dan Pemberantasan
Penyakit ini secara ekonomi sangat merugikan akibat larangan ekspor-impor ternak dan hasil olahannya dari daerah atau Negara tertular sehingga tindakan karantina yang ketat mutlak dilakukan guna mencegah penularan lebih jauh dan meluas. Hewan yang sakit dipisah dan dimusnahkan (stamping out). Kandang, tempat makanan dan minuman hewan dibersihkan dan didesinfeksi dengan NaOH, KOH 2%,formalin 2-5%.
Pencegahan melalui vaksinasi dapat dilakukan secara menyeluruh di daerah tertular dan daerah sekitarnya (ring vaccination).
7. MAEDI-VISNA
Penyakit Maedi-Visna merupakan penyakit menular yang bersifat kronis pada kambing dan domba yang ditandai dengan pneumonia intersisiel progresif, ensafalitis, arthritis dan mastitis.
Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh Lentivirus dari famili Retroviridae. Virus ini satu grup dengan virus RNA onkogenik seperti virus penyebab Equine Infectious Anemia (EIA), Caprine Arthritis Encephalitis (CAE), Ovine Progressive Pneumonia (OPP) dan AIDS/HIV pada manusia.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Penyakit ini pertama kali dilaporkan di Islandia tahun 1939. Kemudian penyakit ini berjangkit di beberapa negara seperti Afrika Selatan, Amerika Serikat, Belanda, Swedia, Norwegia, China dan India. Di Indonesia belum pernah dilaporkan.
Hewan Terserang
Penyakit ini menyerang kambing dan domba yang berumur 2 tahun atau lebih.
Cara Penularan
Cara penularan belum diketahui dengan pasti, tetapi di lapangan diketahui dengan kontak langsung antara hewan sakit dengan yang sehat. Transmisi percobaan dengan menyuntikkan virus ke dalam otak (intracerebral) dan paru-paru. Tidak ada bukti penularan prenatal meskipun virus dapat ditemukan dalam susu induk domba.
Morbiditas dan Mortalitas
Morbiditas penyakit ini tinggi dan mortalitas 10-20%.
Gejala Klinis
Masa inkubasi penyakit pada percobaan berlangsung 24-36 bulan. Bentuk pernafasan (Maedi) ditandai dengan gejala sesak nafas, lesu, kurus, batuk-batuk dan keluar leleran dari hidung.
Bentuk syaraf (Visna) ditandai dengan bentuk kepala yang tidak normal, bibir gemetar, paraplegia dan lumpuh total.
Diagnosa
Penyakit dapat didiagnosa berdasarkan epidemiologi, gejala klinis, isolasi dan identifikasi virus. Specimen untuk isolasi virus dapat diambil dari darah heparin, cairan spinal dan air ludah. Untuk mendeteksi antibodi melalui pemeriksaan serum dengan test ELISA indirek atau AGP. Pemeriksaan morfologi virus dapat dideteksi dengan pemeriksaan mikroskop electron.
Diagnosa Banding
Penyakit ini mirip dengan Scrapie, Pneumonia Progresif (OPP) dan Caprine Arthritis Encephalitis (CAA) atau Adenomatosis.
Pencegahan dan Pemberantasan
Hewan tertular dipisah dan daerah tertular harus ditutup sementara dan tidak mengeluarkan ternak dari daerah tertular.
Tidak ada obat yang efektif untuk mengobati penyakit ini. Tindakan vaksinasi menggunakan vaksin inaktif dalam formalin dilaporkan efektif dalam mencegah penyakit ini.
8. Penyakit Akabane
Nama lain: Arthrogryposis (AG) dan Hydrancephaly (HE). Merupakan penyakit non contagious pada kambing, domba yang ditandai dengan artrogriposis, skoliosis, kriposis (lordosis thoracolumbar), tortikolis, miodisplasia, perubahan system saraf pusat seperti ensefalomielitis limfositik, hidransefali, bentukan ruang kiste dan tidak adanya neuron di dalam medulla spinalis, keguguran, mummifikasi fetus dan kelahiran cacat. Penyakit ini juga dapat menyerang sapi.
Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh subgroup Simbuvirus dari famili Bunyaviridae. Virus ini memiliki materi genetic yang tersusun atas RNA, berbentuk bulat dan ukurannya antara 70-130 nm.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Penyakit ini pertama kali ditemukan di Jepang pada tahun 1961. Kemudian dilaporkan pula terjadi di Australia, Israel, Kenya, Siprus,Thailand dan Indonesia.
Di Indonesia penyakit ini diduga terjadi di Jawa Tengah pada tahun 1981, pada sapi impor dari Australia yang melahirkan anak sapi dengan gejala arthrogryposis, mummifikasi fetus, abortus dan fetus dengan gejala hydrancephaly.
Hewan Terserang
Penyakit ini menyerang kambing, domba dan sapi. Ternak bunting yang dimasukkan dari daerah bebas penyakit Akabane ke daerah tertular menjadi sangat peka dan sebagai akibatnya dapat terjadi abortus, mummifikasi fetus, lahir dini dengan gejala AG dan HE.
Cara Penularan
Penyakit ini ditularkan melalui gigitan vektor Culicoides sp. Di Australia yang menjadi vektor adalah C. brevitarsis.
Gejala Klinis
Akabane ditandai dengan cacat tubuh pada keturunan yang dilahirkan dari hewan yang peka. Cacat tubuh berupa pembengkokan persendian yang bersifat permanen pada kaki (arthrogryposis), pembengkokan leher (tortikolis), pembengkakan tulang punggung (scoliosis) dan hydrancephaly.
Otot gerak dapat mengalami atrofi sehingga anak yang dilahirkan tidak dapat berdiri. Pada induk dapat terjadi keguguran, lahir dini,kelahiran cacat dan mummifikasi fetus. Anak yang lahir dapat hidup dalam beberapa bulan dengan gejala gangguan koordinasi, ataxia, kebutaan, disfagia atau gangguan regurgitasi.
Diagnosa
Penyakit dapat didiagnosa berdasarkan gejala klinis, perubahan patologis dan isolasi virus. Specimen untuk isolasi virus dapat berupa jaringan otak, cairan otak, sumsum tulang belakang, otot, plasenta, fetus dan cairan amnion dari fetus yang masih segar, disamping itu juga diambil serum untukk deteksi antibodi.
Pemeriksaan histopatologis diambil dari semua jaringan. Antibodi dapat dideteksi dengan uji serologis seperti serum netralisasi (SN), HI atau ELISA.
Diagnosa Banding
Penyakit ini mirip dengan Bluetongue, Infeksi Virus Aino, Penyakit Akibat Faktor Genetik, zat kimia teratogenik atau tumbuhan beracun.
Pencegahan dan Pemberantasan
Hewan yang sakit dipisah dengan yang sehat dan hewan yang peka dilarang masuk ke daerah kasus atau hewan sakit dilarang masuk ke daerah bebas.
Pencegahan dengan vaksinasi menggunakan vaksin aktif dan inaktif.
9. JAAGSIEKTE
Nama lain: Adenomatus Paru-Paru.
Merupakan penyakit menular pada domba yang ditandai dengan pneumonia kronis dan progresif disertai dengan adenomatous topical dari dinding alveolar.
Etiologi
Agen penyebab penyakit ini adalah Herpesvirus dari famili herpesviridae. Materi virus ini tersusun atas DNA dan bentuk virus ikosahedral. Virus dapat ditumbuhkan secara in vitro pada biakan sel seperti makrofag dan dapat menggumpalkan darah merah itik, angsa dan burung dara.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Penyakit ini tersebar luas di beberapa Negara seperti Inggris, Afrika selatan, Amerika Serikat, India, Peru dan beberapa Negara Eropa lainnya. Di Indonesi penyakit ini belum pernah dilaporkan.
Hewan Terserang
Penyakit ini umumnya menyerang domba, dan dapat juga menyerang kambing. Hewan yang paling peka adalah hewan dewasa dan diduga kepekaan terhadap penyakit ini berdasarkan perbedaan genetic.
Cara Penularan
Penyakit dapat ditularkan melalui pernafasan dan penularan vertical dari induk kepada fetus selama kebuntingan.
Morbiditas dan mortalitas
Tingkat morbiditas dan mortalitas penyakit rendah, mortalitasnya berkisar 2-8%.
Gejala Klinis
Masa inkubasi penyakit kira-kira 6 bulan, yang ditandai dengan gejala sesak nafas, batuk, lesu, leleran mata dan hidung encer sampai berlendir. Kematian dapat terjadi 6 minggu sampai 4 bulan setelah gejala klinis muncul.
Diagnosa
Penyakit ini dapat didiagnosa berdasarkn gejala klinis dan patologis. Isolasi virus dapat dilakukan secara in vitro pada biakan sel. Identifikasi virus dengan uji FAT atau Virus Netralisasi.
Pencegahan dan Pemberantasan
Tidak ada obat yang efektif untuk mengobati penyakit ini. Hewan yang terserang dapat dipotong paksa. untuk pencegahan dapat dilakukan dengan vaksinasi menggunakan vaksin inaktif dari formalin yang dilaporkan dapat mengurangi kejadian penyakit.
10. RIFT VALLY FEVER
Nama lain: Infectious Enzootic Hepatitis ( IEH). Merupakan penyakit menular yang menyerang domba, kambing, dan sapi yang ditandai demam akut, keguguran dan kematian.
Penyakit ini juga merupakan salah satu penyakit yang bersifat zoonosa yaitu dapat menular ke manusia.
Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh Phlebovirus dari famili Bunyaviridae. Materi genetik virus tersusun atas 3 segmen RNA (L, M, dan S).
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Penyakit ini pertama kali terjadi di Kenya pada tahun 1931. Kemudian penyakit ini dilaporkan terjadi di Afrika Selatan, Mesir dan Amerika Serikat. Di Indonesia belum pernah dilaporkan.
Hewan Terserang
Hewan yang paling peka adalah domba, kambing dan sapi terutama yang muda.
Cara Penularan
Penyakit ini ditularkan oleh vector Culicoides pipiens dan Aedes taeniorhinchus.
Morbiditas dan Mortalitas
Hewan terserang ditandai dengan tingkat morbiditas dan mortalitas tinggi. Morbiditas dapat mencapai 90-100%. Tingkat mortalitas pada sapi dewasa adalah rendah, yaitu kurang dari 10%.
Gejala Klinis
Hewan terserang ditandai dengan demam tinggi (40,5-42,2°C) disertai dengan kejang-kejang dan kematian dalam waktu 36-48 jam. Gejala klinis pada kambing dan domba yang dewasa tidak konsisten, biasanya diawali dengan kenaikan suhu tubuh yang cepat, kemudian muntah, leleran hidung kental dan terjadi abortus. Pada anak sapi suhu tubuh mencapai 40-41,6°C selama 24-96 jam, diikuti dengan salivasi, nafsu makan turun, kelemahan umum, diare dan pada sapi bunting ditandai dengan abortus.
Diagnosa
Penyakit ini dapat didiagnosa berdasarkan epidemiologis, yaitu berdasarkan distribusi Jenis hewan dan umur terserang. Hewan yang paling peka adalah domba dan menyerang hewan muda. Dari gejala klinis ditandai dengan abortus, sedangkan perubahan patologis ditandai dengan lesi-lesi pada hati.
Isolasi dan identifikasi virus dapat dilakukan dengan mengambil darah segar pada waktu puncak demam. Untuk uji serum dilakukan dengan uji Plaque Reduction Neutralization, HI, ELISA atau CFT. Pemeriksaan histopatologis dapat dilakukan melelui pemeriksaan yang diambil dari semua jaringan.
Diagnosa Banding
Penyakit ini sangat mirip dengan Bluetongue, Enterotoxemia, Wesselsbron dan Middleburg dan Bovine Efhemeral Fever (BEF) pada sapi, Brucellosis, Vibriosis, Trichomoniasis, Nairobi Sheep Disease dan Ovine Enzootic Abortion.
Pencegahan dan Pemberantasan
Hewan yang sakit dipisahkan dan melakukan desinfeksi kandang atau dengan penyemprotan insektisida untuk mengurangi populasi nyamuk.
Vaksinasi menggunakan vaksin inaktif dapat mengatasi penyakit.
11. ENCEPHALOMYELITIS OVIS
Nama lain: Infectious Encephalomyelitis atau Louping ill. Merupakan penyakit menular pada domba dan hewan lain yang ditandai dengan demam tinggi dan gejala syaraf.
Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh Arbovirus dari famili Tick Borne B Arbovirus dan diantara strain virus dapat terjadi reaksi silang.
Materi genetik virus tersusun atas RNA, bentuknya bundar dan berukuran 15-20 nm. Virus dapat berkembang biak secara in vitro pada biakan sel berbagai mamalia dan unggas. In vivo pada telur ayam berembrio.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Penyakit ini tersebar di beberapa negara seperti Skotlandia, Irlandia dan Rusia.
Di Indonesia belum pernah dilaporkan.
Hewan Terserang
Selain domba, penyakit ini juga menyerang kuda, sapi, babi dan manusia (bersifat zoonosa).
Cara Penularan
Penyakit ini ditularkan oleh caplak Ixodes ricinus.
Morbiditas dan Mortalitas
Hewan terserang ditandai dengan tingkat mortalitas tinggi mencapai 50%.
Gejala Klinis
Hewan terserang ditandai dengan demam tinggi. Setelah beberapa hari terlihat gejala syaraf berupa eksitasi, gemetar, gerak tak terkoordinasi, konvulsi, hilang keseimbangan dan paresis-paralisis. Sesudah penyakit berlangsung 2-3 minggu terjadi kematian.
Diagnosa
Penyakit ini dapat didiagnosa dengan pemeriksaan klinis yang diperkuat dengan isolasi virus dari jaringan otak atau sumsum belakang dalam biakan sel. Juga dengan menyuntikkan suspensi otak ke dalam otak mencit. Antibodi dapat dideteksi dengan uji HI dan Serum Netralisasi (SN).
Pencegahan dan Pemberantasan
Hewan yang sakit dipisah dan dimusnahkan (stamping out). Caplak di sekitar kandang dapat dikurangi dengan menggunakan acarasida.
Untuk vaksinasi sampai saat ini belum tersedia vaksinnya. Untuk pencegahan penularan dilakukan tindakan karantina yang ketat dengan melarang keluar masuknya daging atau hewan dari negara enzootik.



Artikel Terkait:

Bookmark and Share

1 Komentar:

all izz well mengatakan...

oke pak blog ini komplit plit plt...
trimaksih

Poskan Komentar

Terima kasih sudah mampir di blog ini dan jangan lupa tuliskan komentar anda. JANGAN SPAM...Oke!

  © Blog drhyudi by Ourblogtemplates.com

BACK TO TOP